oleh

Sosialisasi 4 Pilar, Dewan PKS Asal Bekasi, BHF Tanamkan Nilai Pancasila Bagi Pelajar SMAIT Nurul Fajri

CIKARANG BARAT – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Faizal Hafan Farid atau yang biasa disapa Bang Haji Faizal (BHF) menggelar kegiatan sosialisasi empat pilar MPR RI di SMAIT Nurul Fajri di Kecamatan Cikarang Barat, pada selasa (29/03). Acara ini berlangsung meriah dengan dihadiri civitas para pelajar, guru dan pengurus SIT Nurul Fajri.

“Ya sosialisasi empat pilar MPR RI ini sangat penting untuk generasi muda agar menanamkan rasa cinta tanah air,” ujar Anggota DPRD Provinsi Jabar, Faizal Hafan Farid.

Pada sosialisasi empat pilar itu, Faizal menjabarkan penyebab rasa kebangsaan yang mulai terganggu itu ada tiga. Pertama, diawali dengan timbulnya gesekan horizontal antar masyarakat.

“Sebagian masyarakat Indonesia masih menjadikan agama sebagai musuh terbesar Pancasila. Seharusnya Pancasila dan agama menjadi satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan, karena agama termasuk bagian dari Pancasila yang terdapat pada sila pertama,” jelas Faizal.

Selain itu, lanjutnya, gesekan horizontal antar masyarakat terjadi karena adanya sebagian masyarakat yang merasa dirinya paling “Pancasila-is.” Padahal, kata dia, dalam praktiknya belum tentu mereka yang paling “Pancasila-is.”

“Kemudian gesekan itu terjadi karena adanya sebagian masyakarat yang menganggap ekspresi dan ritual keagamaan sebagai primordialisme, kemunduran, dan pemecah,” tambahnya.

Kedua, lanjut Faizal,  rasa kebangsaan mulai terganggu karena dunia digital yang berkembang pesat, namun tidak diiringi budaya literasi. Hal ini, ungkapnya, menyebabkan banyaknya berita palsu (hoax) yang beredar di masyarakat.

“Masyarakat menelan mentah-mentah berita yang beredar tanpa mencari tahu kebenaran berita tersebut,” ujarnya.

Ketiga, jelas Faizal yaitu ketimpangan sosial semakin besar. Hal ini terlihat dengan munculnya fenomena crazy rich. Faktor terakhir penyebab rasa kebanggsaan mulai terganggu, menurut Faizal adalah gelombang globalisasi yang membuat akulturasi dan pertukaran budaya yang pesat, namun tidak diiiringi rasa saling menghargai.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jabar itu juga menyampaikan Pancasila harus menjadi pemersatu bukan menjadi alat pemecah. Pancasila yang disahkan secara hukum pada tanggal 18 Agustus 1945 adalah gentlemen’s agreement yang menjadi titik temu antara kelompok nasionalis agamis dan nasionalis sekuler.

Oleh sebab itu, papar Faizal, Indonesia bukanlah negara agama, tapi juga bukan negara sekuler, melainkan negara berketuhanan dimana setiap agama mendapat tempat yang terhormat. Agama juga harus dilindungi dan dijalankan disetiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Hal inilah yang menjadi konsensus bersama yang harus kita pahami dan taati. Jangan ditarik-tarik secara berlebihan pada titik ekstrim, misalnya negara agama, negara sekuler, apalagi negara komunis,” tegasnya.

Politisi PKS itu juga menyampaikan secara historis masyarakat Indonesia harus mengakui rumusan awal Pancasila yang diusulkan Soekarno pada 1 Juni 1945, namun harus diakui juga kesepakatan Pancasila ada dalam piagam Jakarta 22 Juni 1945. Faizal juga mengingatkan jangan melupakan bahwa dekrit presiden 5 Juli 1959 yang memberlakukan kembali UUD 1945 dengan konsideran piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dan satu rangkaian kesatuan dengan konstitusi.

Selain itu, Faizal juga menyampakan pilar kedua adalah NKRI yang menjadi identitas bangsa Indonesia dan identitas konstitusi. Pilar ketiga adalah UUD 1945. UUD 1945 adalah hukum hukum dasar dan tertinggi yang disepakati untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pilar terakhir adalah Bhinneka Tunggal Ika dimana perbedaan adalah fitrah insaniah. “Perbedaan yang ada di Indonesia bisa menjadi berkah sekaligus ancaman. Perbedaan yang menjadi berkah karena perbedaan tersebut bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Perbedaan yang menjadi ancaman jika perbedaan tersebut tidak dikelola dengan baik dan bijak,” papar Faizal.

Dengan begitu, Sosialisasi 4 Pilar MPR RI diharapkan memperkuat dan mempererat kembali rasa kebangsaan seluruh masyakarat Indonesia.

“Diharapkan masyakarat Indonesia pada umumnya dan peserta yang hadir pada khususnya mampu memperkuat kembali rasa kebangsaan yang sudah mulai pudar. Masyarakat Indonesia tidak melupakan 4 pilar kebangsaan agar tatanan negara Indonesia tidak rusak dan hancur walaupun pengaruh globalisasi menghampiri,” harap Faizal.

Kegiatan itu dihadiri dihadiri kepala TK, SD, SMP, dan SMA di Kecamatan Cikarang Barat, pengurus/anggota OSIS SMPIT dan SMAIT Nurul Fajri, dan segenap tamu undangan yang lain. Dari Perwakilan pengurus Yayasan Al Hijrah Cikarang Barat dihadiri DR. Hilmi dan Era.

“Kami mengharapkan siswa-siswa SMPIT dan SMAIT Nurul Fajri pada khususnya bisa semangat dalam mengamalkan 4 Pilar MPR RI,” tandas Helmi. (IB)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed