Dari Lahan Bekas Bangli, Tumbuh Harapan Hijau di Kabupaten Bekasi

PEMERINTAHAN103 BACA

CIKARANG BARAT – Deretan pohon mulai menemukan tempat berpijak di tepian Kalimalang, Desa Gandasari, Kecamatan Cikarang Barat. Jumat pagi, 28 Agustus 2026, kawasan yang sebelumnya dipenuhi bangunan liar itu menjadi ruang bagi sebuah harapan baru: mengembalikan fungsi lingkungan yang sempat terdesak oleh pembangunan.

Sebanyak 100 pohon ditanam di lahan pasca penertiban bangunan liar tersebut. Kegiatan itu bukan sekadar seremoni penghijauan. Di balik cangkul yang mengaduk tanah dan bibit yang mulai ditanam, terselip upaya Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mengajak lebih banyak pihak terlibat dalam memulihkan ruang-ruang lingkungan yang kritis.

Lima perusahaan menerima piagam penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Bekasi atas kontribusi mereka dalam kegiatan rehabilitasi lahan Daerah Aliran Sungai (DAS). Penghargaan itu menjadi penanda bahwa pemulihan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Bekasi, Iis Sandra Yanti, menyebut keterlibatan dunia usaha sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

“Hal ini menunjukkan bahwa dunia industri memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” ujar Iis di sela kegiatan.

Kabupaten Bekasi selama ini dikenal sebagai salah satu episentrum industri di Indonesia. Ribuan aktivitas produksi berlangsung setiap hari, sementara kawasan permukiman terus berkembang mengikuti denyut ekonomi. Di tengah pertumbuhan itu, ruang hijau dan lingkungan hidup menjadi persoalan yang tak bisa dipisahkan dari arah pembangunan.

Karena itu, menurut Iis, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian.

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat menjadi salah satu jalan untuk memastikan pembangunan tidak meninggalkan persoalan ekologis di belakangnya.

“Pemerintah Kabupaten Bekasi tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga lingkungan. Diperlukan kolaborasi dari seluruh pihak,” katanya.

Bagi Pemerintah Kabupaten Bekasi, kawasan industri dan lingkungan semestinya bukan dua hal yang saling berhadapan. Keduanya harus berjalan beriringan. Pertumbuhan ekonomi, menurut Iis, perlu diikuti dengan kesadaran untuk menciptakan wilayah yang hijau, sehat, tertata, dan nyaman bagi masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Syafri Donny Sirait, melihat kegiatan penanaman pohon sebagai bagian dari kerja panjang memulihkan lingkungan, terutama pada lahan-lahan yang sebelumnya terdampak keberadaan bangunan liar.

Penertiban, kata dia, bukan akhir dari pekerjaan. Setelah bangunan dibongkar dan lahan dikembalikan, muncul pekerjaan lain yang tak kalah penting: memastikan ruang tersebut kembali memiliki fungsi ekologis.

Di sinilah keterlibatan dunia usaha menjadi penting.

Syafri mengatakan keterbatasan anggaran pemerintah seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti melakukan perbaikan lingkungan. Kolaborasi dengan perusahaan, aktivis lingkungan, hingga sekolah Adiwiyata, menjadi modal sosial untuk menggerakkan program penghijauan secara berkelanjutan.

Kontribusi perusahaan pun tidak berhenti pada penyediaan bibit pohon. Ada pupuk, dukungan pemeliharaan, hingga penyiraman yang diperlukan setelah pohon-pohon ditanam.

Sebab, menanam pohon hanyalah awal.

Tantangan sebenarnya justru dimulai setelah kegiatan seremonial selesai: memastikan pohon tetap hidup, tumbuh, dan pada akhirnya kembali memberi manfaat bagi lingkungan.

Salah satu perusahaan yang menerima penghargaan adalah PT Fajar Surya Wisesa Tbk. Melalui perwakilannya, Thomas Kosim, perusahaan tersebut menyebut keterlibatan dalam kegiatan penanaman pohon sebagai bagian dari tanggung jawab dunia usaha terhadap lingkungan.

“Suatu kebahagiaan bagi kami bisa berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon ini,” kata Thomas.

Bagi perusahaan, kepedulian lingkungan tidak hanya dilakukan di dalam kawasan operasional. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi di lingkungan perusahaan. Kali ini, kontribusi diperluas ke ruang publik.

Lahan bekas bangunan liar di bantaran sungai menjadi pilihan yang sarat makna.

Ruang yang sebelumnya dipenuhi bangunan kini mulai berubah wajah. Dari kawasan yang sempat kehilangan fungsi ekologis, perlahan tumbuh kembali harapan untuk menghadirkan ruang hijau.

“Tanggung jawab lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah. Kami sebagai pelaku usaha juga memiliki tanggung jawab dan harus berkontribusi untuk kelestarian lingkungan, khususnya untuk masa depan kita semua,” ujar Thomas.

Ia memastikan dukungan perusahaan terhadap kegiatan lingkungan tidak akan berhenti pada aksi kali ini.

Selain PT Fajar Surya Wisesa Tbk., empat perusahaan lain juga menerima piagam penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Mereka adalah PT Trinitas Prima Sejahtera (KIMU), PT Solusi Bangun Beton (Batching Plant Cibitung), PT Megalopolis Manunggal Industrial Development, dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate.

Lima perusahaan tersebut menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar: mengembalikan ruang hijau di tengah kawasan yang terus tumbuh sebagai pusat industri dan permukiman.

Penanaman 100 pohon di Desa Gandasari mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan luasnya persoalan lingkungan yang dihadapi Kabupaten Bekasi. Namun, pohon-pohon itu membawa pesan yang lebih besar.

Bahwa setelah bangunan-bangunan liar ditertibkan, lahan tidak boleh kembali dibiarkan kosong.

Ia harus diberi kehidupan baru.

Dan di tepian Kalimalang itu, kehidupan baru sedang ditanam—satu pohon demi satu pohon. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *