Air Seret, Sawah Menjerit! Ekskavator Turun Tangan di Pebayuran

PEMERINTAHAN102 BACA

PEBAYURAN – Petani di ujung Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi boleh sedikit lega. Saluran irigasi yang selama ini bikin sawah kehausan mulai dikeruk habis-habisan.

Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) bersama Dinas Pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta Perum Jasa Tirta (PJT) tengah mempercepat normalisasi Saluran Sekunder (SS) Bendung Kedung Gede (BKG).

Progresnya lumayan ngebut. Memasuki minggu kedua pengerjaan, normalisasi saluran tersebut sudah mencapai sekitar 50 persen.

Camat Pebayuran Hasyim Adnan Adha mengatakan, pekerjaan ditargetkan rampung sekitar satu bulan ke depan.

“Hari ini sudah berjalan hampir kurang lebih di minggu kedua, terus progresnya kurang lebih sekarang sudah berjalan hampir 50 persen. Diperkirakan dalam jangka waktu satu bulan ke depan, itu sudah akan bisa diselesaikan,” ujar Hasyim usai meninjau SS BKG bersama Plt Bupati Bekasi, Rabu (2/9/2026).

Biar pengerjaannya nggak pakai lama, dua ekskavator diterjunkan sekaligus. Satu bekerja dari sisi tanggul timur, sementara satu lainnya beroperasi dari sisi tanggul barat.

Bukan cuma sedimentasi yang dikeruk. Tanggul juga ditinggikan supaya aliran air lebih lancar dan kapasitas saluran bisa lebih optimal ketika debit air ditambah.

Lumpur Disikat, Tanggul Diangkat

Hasyim berharap kombinasi pengerukan dan peninggian tanggul tersebut bisa membuat saluran lebih kuat dalam mengalirkan air ke areal persawahan.

“Insya Allah hasilnya akan lebih optimal dan maksimal, karena masing-masing alat berat ini melakukan pengerukan sedimentasi sekaligus meninggikan tanggul,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tanggul yang lebih tinggi diharapkan mampu menampung debit air yang lebih besar sehingga persoalan kekeringan di lahan pertanian dapat segera teratasi.

Normalisasi dilakukan mulai dari SS BKG 15 hingga BKG 26, dengan panjang saluran sekitar 10 sampai 11 kilometer.

Untuk urusan alat berat, Pemkab Bekasi ikut turun tangan. Dinas SDABMBK mengerahkan satu unit ekskavator, sementara Dinas Pertanian turut mendukung operasional.

BBWS memberikan dukungan bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan PJT menanggung kebutuhan operasional satu unit alat berat, termasuk BBM dan operator.

700-800 Hektare Sawah Kehausan

Target utama proyek ini bukan sekadar bikin saluran terlihat bersih. Yang lebih penting, air harus sampai ke sawah.

Hasyim menyebut sekitar 700 hingga 800 hektare lahan persawahan di desa-desa paling ujung Kecamatan Pebayuran saat ini mengalami kekeringan.

“Sasaran sekarang ini memang yang kita tuju adalah mengairi lahan persawahan yang ada di desa terujung dari Kecamatan Pebayuran,” katanya.

Kalau saluran kembali normal, manfaatnya bukan cuma dirasakan ratusan hektare sawah yang sedang kekeringan.

Secara keseluruhan, saluran irigasi tersebut menjadi salah satu sumber utama pengairan pertanian Kecamatan Pebayuran yang mampu mengairi sekitar 5.000 hingga 6.000 hektare sawah.

Dengan kata lain, kalau air kembali lancar, bukan cuma 700-800 hektare yang tersenyum. Ribuan hektare sawah berpotensi ikut mendapatkan manfaat.

Jangan Setelah Dikeruk, Ditinggal

Namun Hasyim mengingatkan, normalisasi jangan cuma ramai ketika saluran sudah mampet.

Setelah lumpur dikeruk dan tanggul ditinggikan, menurutnya harus ada pemeliharaan rutin. Pasalnya, sedimentasi dan tanaman air bisa kembali tumbuh dan menghambat aliran.

Ia berharap BBWS dan PJT tidak hanya berkutat pada pengaturan debit air dan pengelolaan saluran, tetapi juga memastikan pemeliharaan dilakukan secara berkala.

“Harapan kami dari 2 instansi ini tidak hanya mengatur debit airnya saja, tapi melakukan pemeliharaan saluran irigasi tersebut,” tegas Hasyim.

Ia khawatir jika tanaman air dibiarkan tumbuh liar, lama-lama kembali menjadi sedimentasi dan membuat aliran air tersendat.

Masa Tanam Kedua Menunggu Air

Persoalan air ini juga berhubungan langsung dengan kalender tanam petani.

Kondisi pertanian di Kecamatan Pebayuran saat ini masih berbeda-beda. Sebagian petani sudah selesai menanam dan masuk tahap perawatan tanaman. Namun sebagian lainnya belum bisa memulai masa tanam kedua karena pasokan air belum mencukupi.

Kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah Desa Karangsegar dan Desa Karangharja, yang berada di ujung Kecamatan Pebayuran.

Hasyim berharap normalisasi SS BKG segera membuat air mengalir kembali ke wilayah tersebut.

Sebab bagi petani, air bukan sekadar air. Air adalah modal untuk kembali menanam.

“Insya Allah kalau airnya masuk, petani baru mulai bisa menanam kembali untuk masa tanam kedua,” pungkasnya. (iB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *