DMI Tambun Selatan Dilantik, Perkuat Sinergi dan Tata Kelola Kemasjidan

PEMERINTAHAN188 BACA

TAMBUN SELATAN, KABUPATEN BEKASI — Masjid jangan hanya ramai saat azan berkumandang. Jangan pula hidup hanya ketika Ramadan tiba.

Di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, masjid dituntut memainkan peran yang lebih besar: menjadi pusat pendidikan, pembinaan generasi muda, kegiatan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

Semangat itulah yang mengiringi pelantikan Pengurus Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (PC DMI) Kecamatan Tambun Selatan masa bakti 2026–2031, Minggu (9/8/2026), di Gedung Serbaguna Aminah Marjuki, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Pelantikan itu bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan. Ada pekerjaan rumah besar yang ikut dibawa ke meja sarasehan.

Sebanyak 50 pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) se-Kecamatan Tambun Selatan turut duduk bersama dalam forum yang mengusung tema “Membangun Sinergi dan Menata Regulasi Kemasjidan yang Profesional dan Berdaya.”

Tema tersebut terdengar sederhana. Namun di lapangan, persoalan kemasjidan ternyata tidak sesederhana itu.

Mulai dari pembinaan DKM, pendataan masjid dan musholla, legalitas rumah ibadah, penguatan kelembagaan, hingga bagaimana masjid benar-benar mampu memberdayakan jamaah.

Ketua Baru, Pekerjaan Rumah Baru

Dalam momentum tersebut, KH. Ahmad Syauqi, Lc., M.Pd.I. resmi dikukuhkan sebagai Ketua PC DMI Kecamatan Tambun Selatan periode 2026–2031.

Ia langsung dihadapkan pada sejumlah persoalan yang selama ini masih menjadi tantangan dalam pengelolaan masjid.

“Masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, terutama terkait pembinaan DKM, pendataan masjid, serta penguatan legalitas masjid dan musholla,” ujar KH. Ahmad Syauqi.

Pernyataan itu menjadi penanda bahwa kepengurusan baru DMI Tambun Selatan tidak ingin berhenti pada urusan administrasi organisasi.

Sebab, masjid yang baik bukan hanya bangunan yang megah. Di balik kubah dan menara, ada jamaah yang membutuhkan pembinaan, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, pemuda yang membutuhkan ruang berkegiatan, serta masyarakat yang membutuhkan kepedulian sosial.

Karena itu, penguatan kapasitas DKM menjadi salah satu pekerjaan penting.

DKM diharapkan tidak sekadar mengurus jadwal imam, khatib, kebersihan dan kegiatan ibadah, tetapi mampu mengembangkan masjid sebagai pusat aktivitas umat.

50 DKM Duduk Satu Meja

Yang menarik dari kegiatan ini adalah adanya sarasehan bersama 50 pengurus DKM.

Forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan persoalan kemasjidan secara lebih terbuka.

Aspirasi dari pengurus masjid dikumpulkan. Persoalan di lapangan dipetakan. Gagasan untuk memperbaiki tata kelola pun mulai dirumuskan.

Pembinaan DKM, pendataan masjid dan musholla, legalitas rumah ibadah, kelembagaan hingga pemberdayaan umat menjadi isu yang mengemuka.

Bagi DMI, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan sendirian.

Diperlukan komunikasi antara DMI dan DKM. Dibutuhkan dukungan pemerintah. Peran MUI juga penting. Begitu pula partisipasi masyarakat.

Dengan kata lain, masjid tidak boleh berjalan sendiri di tengah masyarakat.

Pemerintah: DMI Harus Jadi Mitra Strategis

Camat Tambun Selatan, Drs. Sopian Hadi, M.M., menyambut positif pelantikan tersebut.

Ia berharap DMI dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat pembinaan keagamaan sekaligus pemberdayaan masyarakat.

“Kami berharap DMI terus bersinergi dengan pemerintah, DKM, MUI, dan masyarakat untuk mewujudkan masjid yang tertata, aktif, dan memberikan manfaat yang luas,” ujar Sopian Hadi.

Menurutnya, tema pelantikan juga sangat relevan dengan kebutuhan penguatan tata kelola kemasjidan di Tambun Selatan.

“Momentum ini diharapkan menjadi awal penguatan kerja sama dalam menata kemasjidan secara lebih profesional,” tambahnya.

Pesannya jelas: masjid membutuhkan tata kelola yang rapi agar berbagai potensi yang dimiliki tidak berhenti sebagai wacana.

Masjid Jangan Cuma Ramai Saat Salat

Ketua PD DMI Kabupaten Bekasi KH. Imam Mulyana al Budry, S.Ag., memberikan apresiasi terhadap pelantikan yang dirangkai dengan sarasehan bersama puluhan DKM tersebut.

Menurutnya, masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat menjalankan ibadah ritual.

“Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral, sosial, dan ekonomi umat. Karena itu, sinergi antara pengurus masjid, pemerintah, dan masyarakat harus terus diperkuat,” ujar KH. Imam Mulyana.

Ia berharap kepengurusan baru DMI Tambun Selatan mampu menghadirkan program inovatif yang manfaatnya bisa dirasakan langsung masyarakat.

Sebab, ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya terlihat dari ramainya acara pelantikan.

Ukuran sebenarnya justru terlihat setelah acara selesai.

Apakah DKM semakin tertata? Apakah data masjid semakin jelas? Apakah legalitas rumah ibadah semakin kuat? Apakah pemuda semakin dekat dengan masjid? Dan yang paling penting, apakah keberadaan masjid benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat?

DMI Ingin Masjid Jadi Pusat Kehidupan Umat

Wakil Ketua PC DMI Tambun Selatan, H. Edi Siswanto, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa amanah kepengurusan bukan pekerjaan satu-dua orang.

Menurutnya, seluruh elemen masyarakat harus terlibat dalam memperkuat kemasjidan.

“Kami ingin DMI menjadi mitra strategis bagi DKM. Persoalan kemasjidan harus diselesaikan melalui komunikasi, sinergi, dan kolaborasi agar masjid semakin profesional dan berdaya,” ujar Edi Siswanto.

Ia menilai masjid harus dikembangkan menjadi pusat pendidikan, kegiatan sosial, pembinaan generasi muda, sekaligus pemberdayaan ekonomi umat.

Gagasan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi DMI Tambun Selatan selama lima tahun ke depan.

Sebab, membangun masjid secara fisik mungkin bisa selesai dalam hitungan bulan atau tahun.

Tetapi membangun ekosistem masjid yang hidup, profesional dan mampu menggerakkan masyarakat membutuhkan kerja yang jauh lebih panjang.

Pelantikan PC DMI Tambun Selatan akhirnya bukan sekadar prosesi pengukuhan pengurus.

Di sana ada 50 DKM yang membawa persoalan masing-masing. Ada pemerintah yang menawarkan sinergi. Ada DMI yang membawa agenda pembinaan. Dan ada masyarakat yang menunggu masjid benar-benar hadir sebagai bagian penting dari kehidupan mereka.

Pelantikan menjadi awal pengabdian.

Sarasehan menjadi tempat menyatukan gagasan.

Dan sinergi menjadi modal utama. (iB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *