“Antara Fathu Makkah dan kemenangan dalam Pilkades”

HUKUM213 BACA

Oleh : Ustd. Nuryasin, Lc*

Sebuah catatan analisis moral dalam berpolitik di era demokrasi.

Kita tidak menyamakan keduanya secara sejarah atau kedudukan. Yang kita ambil adalah ibrah, pelajaran dan hikmah tentang bagaimana bersikap setelah memperoleh kemenangan.

Secara faktual, Pilkades Serentak Kabupaten Bekasi pada Ahad, 20 September 2026 berlangsung di 154 desa dan dilaporkan berjalan aman, tertib, serta kondusif.

Pemerintah Kabupaten Bekasi juga mengimbau agar perbedaan pilihan tidak merusak persaudaraan.

Dari kemenangan menuju amanah, dari kompetisi menuju rekonsiliasi.

1. Menang bukan akhir perjuangan, tetapi awal amanah

Rasulullah ﷺ ketika Fathu Makkah tidak menjadikan kemenangan sebagai tujuan untuk berbangga-bangga.

Setelah kemenangan justru dimulai pekerjaan besar:
– menata masyarakat
– menegakkan tauhid
– Dan membangun kehidupan baru.

Begitu pula Pilkades. Hari pencoblosan adalah akhir kompetisi, tetapi awal pengabdian.

إِنَّمَا النَّصْرُ بِالْأَمَانَةِ وَالْمَسْؤُولِيَّةِ

Kemenangan harus berubah menjadi amanah dan tanggung jawab.

2. Jangan mengubah kemenangan menjadi kesombongan

Allah mengingatkan ketika kemenangan datang:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan…”
(QS. An-Nashr: 1–3)

Perhatikan:
– Ketika menang, Allah tidak memerintahkan kita untuk menyombongkan dan bangga dengan kemenangan, akan tetapi dengan bertasbih dan beristighfar.

Ini sangat indah untuk seorang kepala desa terpilih:

> Semakin besar kemenangan, semakin besar kebutuhan kepada istighfar.

3. Kemenangan harus menghapus dendam, bukan membuka dendam

Rasulullah ﷺ memiliki kesempatan untuk membalas orang-orang yang dahulu menyakiti beliau. Tetapi Fathu Makkah justru dikenang dengan sikap pemaaf dan pemberian keamanan.

Maka setelah Pilkades:

yang menang jangan jumawa dan merasa harus membalas yang kalah; yang kalah jangan merasa kecewa sehingga harus memusuhi yang menang.

Karena setelah pemilihan selesai, semua kembali menjadi warga satu desa.

Ini juga sejalan dengan pesan Pemkab Bekasi agar perbedaan pilihan tidak mengganggu persaudaraan dan keharmonisan masyarakat.

4. Dari “tim sukses” menjadi “tim pengabdian”, dari “relawan pemenangan” menjadi “relawan pelayanan”

Sebelum pemilihan mungkin ada:

Team sukses/relawan pendukung calon 1,

Team sukses/relawan pendukung calon 2,

Tetapi setelah hasil ditetapkan, kepala desa terpilih harus mengatakan:

> “Saya bukan lagi kepala desa bagi orang yang memilih saya saja. Saya adalah kepala desa bagi seluruh masyarakat desa.”

Inilah salah satu transformasi terpenting:

dari politik kompetisi → politik rekonsiliasi dan politik pelayanan.

5. Ukuran kemenangan bukan banyaknya suara, tetapi besarnya manfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:

> خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Maka setelah Pilkades, pertanyaannya bukan lagi:

“Berapa suara yang saya dapat?”

Tetapi:

> “Berapa banyak masyarakat yang bisa saya layani?”

Bukan:

> “Siapa yang mendukung saya?”

Tetapi:

> “Siapa yang membutuhkan saya?”

🌹Enam Ibrah/Pelajaran untuk Kepala Desa Terpilih :

1. Menang → Syukur.

Jangan takabbur.

2. Menang → Istighfar.

Karena jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

3. Menang → Rekonsiliasi

Rangkul yang berbeda pilihan.

4. Menang → Pelayanan

Jangan bedakan warga berdasarkan pilihan politik.

5. Menang → Keadilan

APBDes, pembangunan, bantuan, pelayanan publik harus dirasakan secara adil.

6. Menang → Keteladanan

Kepala desa harus menjadi contoh dalam integritas, transparansi dan akhlak.

Dan menariknya, Pilkades Bekasi 2026 sendiri dilaporkan memiliki partisipasi yang tinggi—sejumlah laporan awal menyebut sekitar 90–95 persen, meski angka tersebut masih bersifat sementara pada saat pelaporan.

🌺 Penutup

“Fathu Makkah mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain, tetapi ketika setelah memperoleh kemenangan kita mampu menaklukkan ego, memaafkan lawan, merangkul seluruh masyarakat, dan mengubah kekuasaan menjadi pelayanan.”

Do’a:

> اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا النَّجَاحَ نَجَاحًا فِي الْأَمَانَةِ، وَالْعَدْلِ، وَخِدْمَةِ النَّاسِ، وَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِلْكِبْرِ وَالْفُرْقَةِ.

“Ya Allah, jadikanlah keberhasilan ini keberhasilan dalam menunaikan amanah, menegakkan keadilan dan melayani masyarakat. Jangan Engkau jadikan keberhasilan ini sebagai sebab kesombongan dan perpecahan.”

 

*Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *