KOTA BEKASI – Merebaknya wabah virus Penyakit Mulut dan Kuku atau (PMK) pada hewan ternak belakangan ini, membuat pedagang hewan kurban resah. Pasalnya adanya wabah tersebut pedagang mulai merasakan gelagat penjualan yang turun drastis, bahkan diprediksi hingga 60 persen.
Salah satunya yakni yang dialami salah satu pedagang hewan kurban di wilayah Kota Bekasi, hal itu disebabkan para peternak di daerah mewajibkan pedagang yang membeli hewan kurban harus dengan sistem kontan atau tidak boleh dihutang.
” Ketika kami membeli borongan ke mereka (peternak) gak mau dihutang atau sistem titip dagangan. Mereka maunya dengan pembayaran cash, ini yang menyulitkan para pedagang di sini. Kan kami juga butuh modal besar untuk jualan. Coba saja kita hitung, kalau satu ekor sapi harga Rp20 juta, kita belanja 100 ekor sapi, sudah Rp2 milyar modalnya. Ditambah lagi merebaknya penyakit PMK seperti ini, belum musti biaya operasional dan biaya lainnya. Makanya pantas saat ini sedikit pedagang yang bertahan,” terang Mumu, pedagang Hewan Kurban di kawasan Pekayon, Kota Bekasi, Kamis (18/6).
Dia menjelaskan, peternak di daerah juga mengalami hal serupa kerugian besar akibat virus PMK. Kata pria yang telah berjualan hewan kurban puluhan tahun itu, bahkan di daerah Jawa pun sampai ada satu kandang terkena virus tersebut dan menyebabkan pemiliknya rugi hingga milyaran rupiah.
” Banyak peristiwa hewan ternak yang kena virus ini. Makanya peternak disana minta yang beli cash, mereka tidak mau mengambil resiko dan tidak mau rugi ” katanya.
“Bahkan saya sempat mengalami juga sapi saya empat ekor di peternak Bandung terkena virus PMK. Itu saja saya sudah rugi cukup besar,” ungkap Mumu.
Selain metode pembelian yang sudah berbeda, penyebab merosotnya penjualan adalah harga jual yang naik. Kata Mumu, untuk tahun ini kisaran harga perkilo nya sebesar Rp70 ribu, naik Rp10 ribu dari tahun sebelumnya.
“Setiap tahun harga pasti naik, ini juga jadi salah satu pertimbangan. Tetapi yang jadi faktor besar yang tadi itu yakni peternak gak mau dihutang,” cetusnya.
Lanjut Mumu mengatakan, kendati demikian meski harga jual sapi naik, namun diakuinya minat masyarakat yg hendak membeli hewan kurban tahun ini cenderung mengalami peningkatan. Hanya saja, jika para pedagang kurban eceran enggan berspekulasi untuk berjualan.
“Antusias pembeli cenderung naik namun pedagang yang tidak berani mengambil resiko,” kata Mumu. Meski banyak pedagang hewan kurban yang stop penjualan pada tahun ini, dirinya tetap optimis sapi yang dijualnya bebas dari virus PMK.
“Antisipasi penyebaran virus di lapak sudah kami lakukan, setiap yang berkunjung ke kandang saya harus melewati pintu steril dahulu. Mereka disemprot Disenfektan ketika masuk atau pergi dari sini, bahkan kami juga disini terus mengupdate Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari dinas terkait” terangnya.
Mengenai daya jual tahun ini, Mumu mengatakan dirinya hanya menyiapkan sapi sekitar 400 hingga 500 ekor di kandangnya.
“Tahun lalu penjualan saya mencapai 800 ekor. Tetapi sekarang kayaknya saya belum berani, mungkin lihat nanti kondisinya seperti apa

saat ini saja di kandang baru 100 ekor. Tetapi saya tetap optimis semoga penjualan hewan kurban dilapak kami tahun ini berjalan normal dan bebas dari wabah virus PMK,” tutupnya.
Editor : Risky Andrianto



















