KABUPATEN BEKASI – Tampak pemandangan sedikit berbeda saat memasuki Kantor Desa dengan luas lahan dan bangunan yang tidak terlalu besar. Pasalnya menurut pantauan tim indexbekasi ada sekitar 400 tanaman sayuran berjajar mengelilingi halaman sebuah Kantor desa yang persisnya terletak di Desa Setiajaya, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi.
Jika dilihat dari kasat mata berbagai macam jenis tanaman yang berjajar itu paling banyak diantaranya yakni cabai, tomat, pepaya dan terung. Dari usia tanaman sendiri juga nampak belum terlalu lama karena ukurannya masih terlihat kecil dengan tinggi kisaran 30 atau 50 centimeter.
Namun dari semua tanaman yang ada, bibit tanaman tersebut ditanam dengan media tanah kompos menggunakan plastik polybag bukan halnya seperti layaknya tanaman pohon biasa yang sekedar ditanam di atas lahan tanah kosong.
Kepala Desa Setiajaya, Cabangbungin, Sarino menjelaskan adanya tanaman yang berjajar di halaman kantornya tersebut bermula dari seorang anggota Binmaspol yang memang bertugas di wilayah setempat. Berawal dari seorang anggota Binmaspol yang menawarkan ide gagasan melakukan pengolahan tanah kompos untuk digunakan sebagai media tanam sederhana.
Lanjut Kepala Desa yang baru menjabat satu tahun itu menjelaskan pihaknya sangat mendukung langkah yang dilakukan anggota Binmaspol tersebut. Karena hal itu merupakan salah satu rencana program utama di Desa Setiajaya yakni Program Ketahanan Pangan.
” iya ini sudah nyambung dengan adanya gagasan seperti ini, bahkan jauh sebelum saya dilantik sebagai Kepala Desa hal ini sudah sempat saya sampaikan kepada orang orang terdekat. Agar bagaimana masyarakat sekitar sini ketika ingin mendapati kebutuhan rumah tangga terutama sayuran bisa didapatkan dengan mudah malah tidak perlu lagi beli, maka salah satu solusinya adalah ketahanan pangan, ” terangnya saat ditemui di kantor Desa Setiajaya, Rabu (6/7).
Selain itu ia menambahkan pihaknya terus mendukung langkah tersebut agar kedepannya menjadi program prioritas. Namun kendati demikian bukan hal yang mudah untuk pengembangan lebih lanjutnya karena membutuhkan tahap demi tahapan yang harus dijalani.
” Iya mayoritas masyarakat disini memang 90 persen aktivitas sehari harinya sebagai petani. Namun bukan petani perkebunan sayuran melainkan petani padi. Belum lagi lahan pertanian disini juga kebanyakan masih dimiliki orang lain atau perorangan bukan lahan pribadi, ” kata Kepala Desa mantan Purnawirawan Polri tersebut.
Ia berharap kedepannya dengan adanya percontohan pembibitan massal dengan tanah kompos ini masyarakat sendiri nantinya dapat mengetahui dan merasakan manfaatnya. Setelah sudah ada hasilnya masyarakat tidak perlu bingung saat memerlukan kebutuhan sayuran terutama cabai. Terlebih saat mengalami musim kelangkaan dan harga kebutuhan bahan pokok melambung tinggi.
” iya tentunya yang sudah ada pembibitan massal menggunakan tanah kompos ini, sementara baru 400 tanaman percontohan untuk lingkungan kantor Desa dahulu. Kita lihat saja nanti, ini sudah berjalan kurang lebih satu bulan. Saya berharap jika ini berkembang dan sudah dapat memproduksi, nantinya bisa mulai diterapkan kepada masyarakat sekitar tetapi yang terpenting adalah kita lihat bukti hasilnya terlebih dahulu baru kita mulai merubah maindset masyarakat, kita bangun semangatnya kita bangun pola pikirnya agar menyukai metode pertanian tersebut , ” tegasnya
Binmaspol Desa Setiajaya Bripka Nur Kholis menambahkan awalnya memiliki dan tertarik dengan gagasan pengolahan tanah kompos tersebut saat mengetahui di wilayah setempat banyak potensi bahan dasar yang dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
” begitu saya mengawali tugas sebagai anggota Binmaspol di wilayah ini saya melihat banyak masyarakat setempat beternak domba, kambing dan penggilingan padi. Saya berpikir kalau dari sisa kotoran ternak hewan itu dicampuri hasil penggilingan padi dan difermentasi akan menghasilkan tanah kompos, maka dari situ lah saya mulai mencoba untuk mengolahnya untuk dijadikan kompos, ” ujarnya
Lanjut Nur Kholis mengatakan hal itu dilakukan juga berawal dari kesadaran diri sendiri tanpa paksaan atau pencitraan semata. Namun belakangan beberapa pihak ikut membantu seperti dari Danramil dan Perangkat Desa. Tambah ia mengungkapkan karena dunia pertanian pada dirinya sudah ditumbuhkan sedari dini oleh keluarganya terlebih hingga saat ini menjadi salah satu bidang kesukaannya.
” salah satu tujuan saya membuat tanah kompos selain sebagai media tanaman juga sekaligus untuk mengurangi pencemaran. Karena kotoran hewan ternak jika dibiarkan akan menjadi penyakit alangkah bagusnya itu dimanfaatkan menjadi kompos, terlebih saya sejak kecil dengan kakek sudah diajarkan untuk menyukai bidang pertanian, ” imbuhnya
Ia menekankan kedepannya dengan adanya pembuatan media tanam kompos ini dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai cara bercocok tanam sayuran dengan cara mudah dan sederhana. Agar nantinya juga masyarakat dapat sejahtera dari hasil pertanian tanaman menggunakan metode tersebut.
” uji coba dahulu pengolahan kompos ini kalo memang jadi kita teruskan kalau pun tidak jadi kita tambahkan, tetapi baru seminggu begini saja bibit tanamannya iya Alhamdulillah hasilnya sudah jadi, ” kata anggota Polisi yang pernah menjabat dikesatuan Lalu Lintas Polresta Metro Bekasi tersebut
Ia berharap dengan adanya kegiatan ini seluruh lapisan masyarakat dapat terbantu dan juga yang paling penting ikut mendukung membantu. Agar ikut memaknai bahwa begitu pentingnya bercocok tanaman sayuran itu.
” iya supaya masyarakat kita nanti sejahtera, jangan sampai kita kelaparan di lumbung padi, tanah disini sangat luas tetapi sayuran, cabai belanjanya di pasar induk ini kan ironis, ” tuturnya
Ia juga berharap kedepannya kepada Pemerintah Daerah agar dapat mendukung dan membantu kegiatan yang tengah dijalaninya tersebut.
” karena sebenarnya ini merupakan kinerja berbasis anggaran, sementara yang ada saat ini hanya bermodalkan swadaya mandiri dari Binmaspol, Babinsa TNI dan Perangkat Desa, itu pun menggunakan cara manual. Semoga kedepannya memiliki alat mesin giling pengolahan agar pembuatan tanah kompos dapat lebih mudah dan cepat, ” tutupnya.
Editor : Risky Andrianto
Foto : indexbekasi.com



















