CIKARANG SELATAN – Di ruang tamu rumahnya yang sederhana di Bekasi, Fajri Kurniawan (24) duduk santai sambil membuka aplikasi Mobile JKN di ponselnya. Laki-laki lulusan sarjana hukum itu tengah menyesuaikan jadwal pekerjaannya sebagai freelancer, sebuah pilihan karier yang membuat waktu kerjanya fleksibel, tetapi pendapatannya tak selalu pasti. Di tengah dinamika itu, ada satu hal yang ia pastikan tetap berjalan stabil: keikutsertaannya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Saya tetap mempertahankan keikutsertaan di JKN karena ingin akses kesehatan yang terjangkau. Kalau sewaktu-waktu butuh perawatan, saya sudah siap,” ujar Fajri.
Kalimat itu meluncur tanpa ragu, seolah menunjukkan bahwa baginya, jaminan kesehatan bukan sekadar administrasi, melainkan pegangan hidup.
Fajri sudah akrab dengan JKN sejak lama. Ia terdaftar sebagai peserta sejak tahun 2009, mengikuti jejak orang tuanya yang lebih dulu menjadi peserta. Kini, ia berada di kelas layanan Kelas 1—status yang memberinya akses pada pelayanan Rumah Sakit di tingkat tertinggi dalam skema JKN.
Meski ia sendiri jarang menggunakan fasilitas kesehatan, pengalaman keluarganyalah yang membuatnya semakin yakin pada manfaat JKN. Ia masih ingat betul dua insiden darurat yang membuat keluarganya panik: demam tinggi yang menimpa sang ayah dan sesak napas mendadak yang dialami ibunya pada malam hari.
“Malam itu panik banget karena mama tiba-tiba sesak napas,” kenangnya. “Tapi karena ada JKN, kami bisa langsung ke rumah sakit dan ditangani cepat tanpa mikirin biaya yang besar. Rasanya lega sekali.”
Cerita seperti itu semakin memperkuat baginya bahwa perlindungan kesehatan bukanlah sesuatu yang bisa ditunda—terutama ketika hidup tak selalu memberi ruang untuk siap.
Tak hanya sebagai alat darurat, JKN juga menjadi bagian dari rutinitas kecil dalam keseharian Fajri. Aplikasi Mobile JKN ia buka seperti membuka aplikasi keuangan atau kalender. Dari mengecek iuran, mengkonfirmasi status kepesertaan, hingga melihat daftar fasilitas kesehatan, semua ia lakukan melalui ponsel.
“Fleksibel banget. Saya gak perlu ke kantor BPJS Kesehatan. Pernah juga pakai fitur skrining riwayat kesehatan,” ujarnya sambil menunjukkan menu aplikasi yang kerap ia klik.
Baginya, teknologi digital BPJS Kesehatan memberi kenyamanan tersendiri—sebuah layanan publik yang terasa mengikuti ritme generasi muda yang serba mobile, cepat, dan efisien.
Meski puas dengan banyak hal, Fajri tetap menyimpan beberapa harapan. Ia menilai akses layanan rumah sakit bagi peserta JKN masih bisa ditingkatkan. Antrean panjang, proses administrasi berulang, atau situasi tumpang tindih di unit layanan masih sering ia dengar dari kerabat dan teman-teman.
“Pelayanan di rumah sakit kadang lama banget. Itu bikin masyarakat kurang nyaman,” katanya. Ia berharap BPJS Kesehatan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang kesulitan finansial—mereka yang paling membutuhkan perlindungan tetapi paling sulit mendapatkannya.
Bagi Fajri, JKN adalah jaring pengaman bagi hidup yang tak selalu stabil, terutama bagi anak muda yang baru merintis karier dan menghadapi perubahan ekonomi yang cepat. Perlindungan kesehatan memberikan ruang aman bagi dirinya dan keluarganya, ruang untuk bernapas sedikit lebih lega di tengah ketidakpastian.
Sebelum menutup percakapan, Fajri menyampaikan satu harapan sederhana namun penuh makna. “Semoga BPJS Kesehatan terus berinovasi, makin efisien, dan makin bermanfaat. Biar masyarakat merasa aman dan nyaman pakai JKN.”
Harapan itu melayang bersama optimisme seorang anak muda yang memahami betapa pentingnya perlindungan di saat dunia terus berubah.



















