Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi
Hujan turun tak lama, namun genangan air bertahan berjam-jam di halaman SDN 14 dan SDN 07 Karangasih, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Air cokelat setinggi mata kaki menutup lapangan sekolah—ruang yang seharusnya menjadi tempat anak-anak berlari dan belajar di luar kelas. Pagi itu, sejumlah orang tua tampak ragu menurunkan anak mereka dari sepeda motor. Beberapa memilih menggendong, sebagian lain membiarkan sepatu anak terendam.
Genangan ini bukan peristiwa langka. Setiap hujan datang, meski dengan intensitas yang tak terbilang tinggi, halaman dua sekolah dasar negeri itu selalu berubah menjadi kolam dadakan. Masalahnya bukan semata curah hujan, melainkan ketiadaan saluran drainase yang memadai untuk mengalirkan air ke luar area sekolah.
Akibatnya, proses belajar mengajar terganggu sejak langkah pertama siswa memasuki gerbang. Air yang menggenang membuat halaman licin dan berbahaya. Aktivitas upacara, olahraga, hingga jam istirahat terpaksa dibatasi. Lapangan sekolah—aset penting bagi kegiatan siswa—perlahan rusak karena terus-menerus terendam.
“Kalau hujan, anak-anak rawan kena penyakit kulit. Kaki mereka lama terendam air kotor,” ujar seorang wali murid yang setiap pagi mengantar anaknya ke sekolah. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Air yang tergenang dalam waktu lama berpotensi menjadi sarang bakteri dan memicu penyakit gatal, terutama bagi anak-anak yang aktivitasnya tak lepas dari bermain.
Masalah drainase ini juga menyingkap soal tata kelola fasilitas pendidikan. Seharusnya, halaman sekolah dirancang untuk mampu mengalirkan air hujan dengan cepat, bukan menahannya. Ketika hujan dengan intensitas biasa saja sudah memicu banjir, itu menandakan ada yang keliru dalam perencanaan atau pemeliharaan infrastruktur dasar.
Jika kondisi ini dibiarkan, kerugian tak hanya dirasakan siswa dan guru, tetapi juga sekolah itu sendiri. Fasilitas yang terendam air akan lebih cepat rusak. Biaya perbaikan akan membengkak, sementara kegiatan belajar tetap terganggu.
Pemerintah Kabupaten Bekasi, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, didesak untuk turun tangan. Teguran dan evaluasi terhadap pihak sekolah diperlukan, terutama terkait kelengkapan dan fungsi saluran drainase. Lebih dari itu, solusi konkret dibutuhkan agar sekolah—sebagai ruang aman dan nyaman bagi anak-anak—tidak lagi kalah oleh hujan yang seharusnya bisa diatasi.
Di halaman SDN Karangasih, air mungkin akan surut ketika matahari muncul. Namun tanpa drainase yang layak, genangan serupa akan selalu kembali, menunggu hujan berikutnya. (IB)



















