Di Tengah Dinamika Zaman, H. Teguh Wibowo Ajak Umat Kembali kepada Akhlak Rasulullah

PEMERINTAHAN142 BACA

Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 M hendaknya tidak berhenti pada seremoni keagamaan. Momentum tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam untuk kembali mengenang kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya sekaligus menjadikan akhlak beliau sebagai pedoman dalam menghadapi kehidupan.

Ketua Yayasan Global Mulia Cikarang, H. Teguh Wibowo, mengatakan Maulid Nabi merupakan momentum untuk kembali mengingat sosok Rasulullah SAW yang memiliki kecintaan begitu besar terhadap umatnya.

Menurutnya, salah satu gambaran kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya terlihat dari perhatian beliau hingga akhir hayat. Rasulullah SAW senantiasa memikirkan umatnya, sehingga umat Islam perlu menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum untuk kembali mendekatkan diri kepada beliau.

“Maulid Nabi menjadi pengingat kita akan Rasulullah. Saat menjelang meninggal, yang disebut adalah umatku, umatku. Kadang kita sering lupa, sehingga diingatkan kembali dengan kelahiran Rasulullah. Jadi, betapa sayangnya Rasulullah kepada umatnya,” kata Teguh.

Ia menilai, salah satu hikmah penting dari peringatan Maulid Nabi adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Shalawat tidak hanya menjadi bentuk kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi amalan yang memiliki keutamaan besar.

“Amalan yang diijabah salah satunya dengan shalawat. Keinginan dan hajat juga dimudahkan dengan shalawat. Dengan momentum Maulid ini, tentu kita semakin sayang dan semakin meneladani Rasulullah,” ujarnya.

Menjadikan Rasulullah sebagai Kompas Kehidupan

Teguh mengatakan, kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya diwujudkan melalui ittiba, yakni mengikuti sunnah dan keteladanan beliau dalam perkataan maupun perbuatan.

Menurutnya, Rasulullah SAW merupakan sosok yang memiliki akhlak mulia. Sejak sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal masyarakat sebagai Al-Amin, yaitu pribadi yang dapat dipercaya.

“Meneladani akhlaknya, hatinya yang penuh kasih sayang dan lembut. Beliau Al-Amin, orang yang terpercaya,” katanya.

Keteladanan tersebut, lanjut Teguh, semakin penting diterapkan dalam kehidupan saat ini ketika masyarakat menghadapi berbagai tantangan moral, sosial dan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat.

Nilai siddiq, amanah, tabligh dan fatanah yang melekat pada diri Rasulullah SAW, menurutnya, harus menjadi pedoman umat Islam dalam menjalani kehidupan.

Kejujuran, misalnya, harus menjadi dasar dalam bekerja, berusaha maupun membangun hubungan dengan orang lain. Begitu pula amanah harus diwujudkan dengan menjaga kepercayaan, sementara kecerdasan dan kebijaksanaan digunakan untuk memberikan manfaat bagi sesama.

“Selain itu, siddiq, jujur, amanah dan fatanah itu yang kita teladani. Rasulullah juga harus kita jadikan panutan, jadikan teladan dalam hidup kita. Jadi kompas atau arah,” tutur Teguh.

Teladan dalam Berdagang dan Memimpin

Teguh juga menyoroti perjalanan Rasulullah SAW sebagai seorang pedagang dan pemimpin. Menurutnya, kehidupan Rasulullah menunjukkan bahwa keberhasilan dalam usaha maupun kepemimpinan harus dibangun di atas kejujuran, kepercayaan dan akhlak.

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang memiliki reputasi baik dalam berdagang. Kejujuran dan integritas beliau menjadi modal utama dalam membangun kepercayaan.

“Beliau seorang trader atau pebisnis. Maharnya saja puluhan unta. Beliau juga seorang pemimpin yang adil,” ungkapnya.

Keteladanan tersebut, kata Teguh, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi, kepemimpinan dan kehidupan sosial tidak dapat dipisahkan dari akhlak.

Seorang pemimpin harus adil. Seorang pengusaha harus jujur. Seorang anggota keluarga harus penuh kasih sayang. Sementara seorang Muslim harus mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Kembali kepada Akhlak Rasulullah

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat saat ini, Teguh berharap hikmah Maulid Nabi dapat mendorong umat Islam untuk melakukan perubahan nyata, terutama dalam persoalan akhlak.

Menurutnya, kemajuan zaman harus diimbangi dengan kekuatan moral. Jangan sampai perkembangan teknologi dan perubahan kehidupan justru membuat manusia semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak mulia.

“Mudah-mudahan dengan hikmah Maulid ini semakin mendekatkan umat Islam terhadap dinamika sekarang, terutama akhlak. Kita kembali kepada akhlak Rasulullah SAW,” harapnya.

Ia menegaskan, memperingati Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, melainkan bagaimana umat Islam mampu membawa nilai-nilai kenabian ke dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, dunia usaha, kepemimpinan hingga kehidupan bermasyarakat, akhlak Rasulullah SAW dapat menjadi pedoman dalam menentukan sikap.

Sebab, di tengah derasnya perubahan zaman, umat manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan kemajuan teknologi, tetapi juga membutuhkan kompas moral agar tetap berada di jalan kebaikan.

Dan bagi umat Islam, Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan utama yang mengajarkan bahwa kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan dan kecerdasan harus berjalan bersama dalam kehidupan. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *