Jababeka Dorong Percepatan PLTS Atap, Kejar Net Zero Kawasan Industri 2050

EKBIS192 BACA

JAKARTA — PT Jababeka Infrastruktur mendorong percepatan pemanfaatan energi terbarukan di kawasan industri melalui perluasan akses Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap bagi para tenant.

Dorongan tersebut disampaikan Direktur Operasional PT Jababeka Infrastruktur, Vega Violetta Puspa, dalam Breakout Session 10 bertajuk Greening Industrial Parks: Scaling Rooftop Solar for Industrial Decarbonisation pada ajang IndoSolar 2026 di Fairmont Jakarta, Kamis (20/8).

Vega mengatakan minat tenant di Kawasan Industri Jababeka untuk menggunakan PLTS Atap terus meningkat. Namun, implementasinya masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya keterbatasan kuota.

“Tenant di kawasan industri Jababeka sebenarnya sudah banyak yang ingin menggunakan solar panel. Namun, salah satu kendalanya adalah kuota yang tersedia. Kami berharap pemerintah dapat mendukung proses akselerasi sistem kuota untuk energi terbarukan agar kebutuhan industri dapat lebih cepat terakomodasi,” ujar Vega.

Selain kuota, kesiapan bangunan menjadi tantangan lain dalam pemasangan PLTS Atap. Karakteristik tenant Jababeka yang beragam, mulai dari perusahaan besar hingga usaha kecil dan menengah, membuat kondisi konstruksi setiap bangunan berbeda.

Sebagian tenant juga masih membutuhkan informasi mengenai spesifikasi dan persyaratan struktur atap sebelum memasang PLTS Atap. Karena itu, pengelola kawasan dinilai memiliki peran penting dalam membantu tenant memastikan kesiapan infrastruktur serta mempertemukan kebutuhan mereka dengan penyedia solusi energi terbarukan.

Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Jababeka untuk membangun kawasan industri yang lebih berkelanjutan. Jababeka menargetkan terwujudnya Net Zero Industrial Cluster Community pada 2050, atau 10 tahun lebih cepat dari target net zero pemerintah pada 2060.

Komitmen tersebut menjadi landasan bagi Jababeka untuk terus mendorong penggunaan energi bersih dan berbagai solusi rendah karbon di kawasan industri.

Dalam forum yang diselenggarakan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama GIZ tersebut, Policy Analyst in Renewable Energy Kementerian ESDM Hendro Gunawan menekankan pentingnya dukungan kebijakan dan regulasi untuk memperluas pemanfaatan PLTS Atap sekaligus menjaga keandalan sistem ketenagalistrikan nasional.

Sementara itu, VP of Operations PT Xurya Daya Indonesia Philip Effendy menyoroti sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan PLTS Atap, mulai dari faktor teknis, integrasi dengan operasional industri, model bisnis, hingga skema pembiayaan.

Dari sisi industri, Climate Risk Specialist Asia Pulp & Paper Group Dina Ferydsa Verdiana menilai energi terbarukan semakin penting dalam strategi iklim dan dekarbonisasi perusahaan. Dorongan tersebut turut dipengaruhi meningkatnya tuntutan dari investor, pelanggan, dan rantai pasok global.

Melalui partisipasinya dalam IndoSolar 2026, Jababeka menegaskan pentingnya kolaborasi antara pengelola kawasan industri, tenant, pemerintah, dan penyedia solusi energi untuk mempercepat transisi energi.

Bagi Jababeka, peningkatan akses terhadap energi terbarukan tidak hanya mendukung pencapaian target net zero, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kawasan industri yang lebih hijau, kompetitif, dan siap menghadapi kebutuhan industri di masa depan. (iB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *