CIKARANG PUSAT — Di atas kertas, Kabupaten Bekasi adalah salah satu daerah paling strategis di Indonesia. Ribuan pabrik berdiri di kawasan ini, investasi terus mengalir, dan denyut industrinya menjadikannya sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Namun, di balik gemerlap cerobong pabrik dan kawasan industri modern, masih tersimpan pekerjaan rumah yang dinilai belum sepenuhnya terselesaikan.
Momentum Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76 menjadi ruang refleksi bagi berbagai kalangan, termasuk Ketua Umum Asosiasi Praktisi Human Resource Indonesia (ASPHRI), Dr. Yosminaldi, SH, MM. Menurutnya, usia 76 tahun merupakan fase kematangan yang seharusnya mampu membawa Kabupaten Bekasi tampil sebagai daerah yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
“Usia ke-76 sudah cukup matang bagi sebuah kabupaten sebesar dan se-strategis Kabupaten Bekasi. Posisinya sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara sekaligus daerah penyangga DKI Jakarta harus menjadi modal besar untuk menghadirkan pembangunan yang berpihak kepada masyarakat,” ujarnya.
Bagi Yosminaldi, indikator keberhasilan daerah industri bukan semata diukur dari banyaknya investasi atau jumlah perusahaan yang beroperasi. Lebih dari itu, keberhasilan pemerintah daerah harus tercermin dari semakin luasnya kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.
“Yang paling penting adalah bagaimana pembangunan ekonomi mampu membuka peluang kerja sebanyak-banyaknya bagi warga Kabupaten Bekasi. Pertumbuhan industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Namun, ia menilai masih terdapat ketimpangan pembangunan antarwilayah. Menurutnya, perkembangan infrastruktur masih cenderung terkonsentrasi di kawasan yang berkembang karena investasi swasta, seperti wilayah perumahan skala besar dan kawasan industri.
“Wilayah yang ditopang oleh developer memang terlihat berkembang lebih cepat. Sementara masih ada banyak kawasan lain yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah,” ungkapnya.
Sorotan itu tidak berhenti pada pemerataan pembangunan. Ia juga menilai wajah Kabupaten Bekasi sebagai pintu masuk kawasan industri belum mencerminkan citra daerah industri kelas dunia.
Sebagai contoh, ia menunjuk koridor jalan dari Gerbang Tol Cikarang Barat menuju kawasan Jababeka hingga EJIP yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan, investor, maupun tamu dari berbagai daerah dan negara.
“Keluar dari Tol Cikarang Barat menuju Jababeka sampai EJIP masih terlihat kurang rapi dan kurang tertata. Jalan layangnya terlihat kotor, kebersihan di sepanjang jalan juga masih perlu ditingkatkan. Padahal itu merupakan salah satu etalase utama Kabupaten Bekasi,” tuturnya.
Menurutnya, kesan pertama yang diterima tamu ketika memasuki sebuah daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi ruang publik. Kebersihan, ketertiban, dan penataan infrastruktur menjadi wajah yang mencerminkan kualitas tata kelola pemerintahan.
“Infrastruktur publik yang tertata, bersih, dan nyaman bukan sekadar persoalan estetika. Itu menunjukkan bagaimana pemerintah dan masyarakat mengelola daerahnya. Jangan sampai yang terlihat indah hanya kawasan yang dibangun developer, sementara fasilitas publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah justru tertinggal,” tegasnya.
Di usia ke-76, Kabupaten Bekasi memang memiliki modal ekonomi yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Ribuan perusahaan, jaringan industri yang luas, serta posisi strategis di koridor ekonomi nasional menjadi kekuatan besar untuk terus tumbuh.
Namun, sebagaimana disampaikan Ketua Umum ASPHRI, kemajuan sebuah daerah pada akhirnya tidak hanya diukur dari tingginya investasi, melainkan juga dari seberapa besar manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat. Kesempatan kerja yang semakin terbuka, pembangunan yang merata, serta wajah kota yang bersih, tertib, dan nyaman menjadi bagian dari identitas daerah yang ingin disebut sebagai kabupaten industri berkelas dunia. (iB)
























