Kado Ultah Kab. Bekasi ke-76, KDM Siap Pidanakan Pelaku Pembuangan Limbah di Sungai Cilemahabang?

PEMERINTAHAN112 BACA

KABUPATEN BEKASI – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali melontarkan pernyataan keras saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76 di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Bekasi.

Di hadapan jajaran Pemerintah Kabupaten Bekasi, DPRD, dan tamu undangan, Dedi secara terbuka menantang keberanian Plt Bupati Bekasi dalam memimpin daerah yang dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Jawa Barat.

“Terakhir, saya pesan kepada Plt Bupati, punya nyali?” kata Dedi.

Menurutnya, seorang pemimpin tidak boleh dikuasai rasa takut. Sebab, memimpin Kabupaten Bekasi membutuhkan keberanian untuk menghadapi berbagai persoalan dan kepentingan.

“Kalau punya rasa takut jangan jadi pemimpin, di rumah saja bersama istri. Itu pun akan menderita juga, suaminya pemberani, istrinya jauh lebih berani,” ujar Dedi disambut perhatian para hadirin.

Dedi kemudian menggambarkan bagaimana karakter pemimpin yang dibutuhkan untuk memimpin Kabupaten Bekasi.

“Kenapa ini memimpin Bekasi? Memimpin Bekasi kepalan tangan harus kuat dan suaranya harus keras. Kenapa? Yang dihadapinya kepalan tangan dan suaranya keras,” tegasnya.

Bekasi Harus Kembali ke Jati Diri

Dedi mengatakan keberanian tersebut diperlukan agar Kabupaten Bekasi dapat kembali kepada jati dirinya.

Menurut dia, pembangunan tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dan kawasan industri. Persoalan lingkungan juga harus menjadi perhatian serius pemerintah.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah kondisi sungai di Kabupaten Bekasi yang selama bertahun-tahun dinilai kotor dan menjadi perhatian masyarakat.

“Kita ingin kembalikan Bekasi kepada jati dirinya,” katanya.

Dedi bahkan mengaku mengetahui adanya sungai di Kabupaten Bekasi yang kondisinya kotor dan sempat viral di media sosial.

Yang membuatnya geram, kondisi sungai tersebut disebut dapat berubah ketika mendapat sorotan.

“Kita juga jangan biarkan sungai kotor berpuluh-puluh tahun. Dan saya tahu di sini ada sungai yang kotor dan viral,” ujarnya.

Didatangi Besoknya Berubah Lagi

Dedi mengungkapkan adanya pola yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius. Ketika sungai tersebut dikunjungi dan menjadi sorotan, kondisi lingkungan disebut berubah.

Namun setelah perhatian mereda, kondisi sungai kembali seperti semula.

“Kemudian tadi, Pak, kalau saya kunjungi besoknya berubah lagi, berubah lagi,” kata Dedi.

Ia pun mengingatkan agar persoalan pencemaran sungai tidak terus dibiarkan. Pemerintah, kata dia, harus berani bertindak apabila ditemukan pelanggaran terhadap aturan lingkungan hidup.

“Nanti bersama gubernur kita pidanakan kalau melanggar UU lingkungan hidup,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal keras bahwa persoalan pencemaran sungai di Kabupaten Bekasi tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan biasa.

Apalagi Kabupaten Bekasi merupakan kawasan industri besar yang memiliki aktivitas ekonomi sangat tinggi. Kemajuan industri, menurut pesan Dedi, tidak boleh dibayar dengan rusaknya lingkungan dan tercemarnya sungai.

Kini tantangannya berada di tangan Pemkab Bekasi. Apakah keberanian yang diminta Dedi Mulyadi akan benar-benar diwujudkan dalam tindakan?

Sebab, bagi Dedi, memimpin Bekasi bukan tempat untuk mereka yang takut mengambil sikap. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *