KABUPATEN BEKASI – Indriyanti, seorang pelajar asal Kampung Babakan Rengas, Desa Kalang Segar, Kabupaten Bekasi, saat ini tengah mendapatkan perawatan intensif di salah satu RSUD di Kabupaten Bekasi akibat penyakit usus buntu yang dideritanya. Indriyanti yang terbaring di ranjang rumah sakit semula hanya mengalami gejala awal berupa sakit perut. Namun, kondisinya semakin memburuk hingga harus mendapatkan tindakan medis lebih lanjut.
Orang tua Indriyanti awalnya mengira rasa sakit tersebut hanya nyeri haid biasa. Karena itu, mereka membawa anaknya ke bidan terdekat di sekitar rumah. Namun, meskipun sudah mengonsumsi obat yang diberikan rasa sakit tidak kunjung hilang. Setelah beberapa waktu Indriyanti kembali mengeluhkan sakit perut yang kali ini disertai diare. Sempat sembuh sementara, sakitnya kambuh lagi keesokan malam sehingga keluarganya memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
“Saya kira anak saya cuma nyeri haid seperti biasanya. Karena itu saya bawalah ke bidan dekat rumah tempat saya dan keluarga biasanya berobat. Setelah diberikan obat, anak saya masih mengeluhkan sakit perutnya yang tak kunjung reda disertai diare. Sembuh sebentar tapi keesokan malamnya sakit lagi. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membawa ke rumah sakit,” Jelas Ibu Indriyanti.
Begitu tiba di rumah sakit, Indriyanti langsung ditangani oleh tim medis di Unit Gawat Darurat (UGD). Setelah menjalani pemeriksaan dokter meminta untuk menjalani rawat inap dan mendapatkan perawatan lanjutan. Ayahnya mengurus seluruh administrasi dengan menggunakan kartu JKN dan KTP miliknya mengingat Indriyanti yang masih pelajar dan belum memiliki KTP sendiri.
“Di rumah sakit anak saya langsung ditangani oleh dokter dan perawat di UGD. Setelah diperiksa dokter menganjurkan untuk dirawat sembari melihat perkembangannya. Sembari saya mendampingi Indriyanti, ayahnya mengurus seluruh administrasi perawatan. Karena anak saya masih dibawah umur dan belum mempunyai KTP jadi berkas yang dibutuhkan cuma kartu JKN dan KTP ayahnya saja,” tutur ibu 2 anak tersebut.
Selama perawatan, Indriyanti sama sekali tidak menghadapi kendala, baik dalam hal pengobatan maupun fasilitas medis. Orang tua Indriyanti merasa bersyukur karena tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk operasi maupun obat-obatan. Keluarga Indriyanti merasa sangat terbantu adanya program JKN. Karena baginya yang merasa sebagai masyarakat kurang mampu mendapatkan tindakan operasi tanpa biaya tambahan benar-benar sangat membantu.
“Selama perawatan kami mendapatkan pelayanan yang sangat baik mulai dari pemeriksaan hingga pengobatan. Saya sebagai orang tua sangat bersyukur karena dalam proses penyembuhan anak saya ini kami tidak perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Kami merasa sangat terbantu dengan adanya BPJS Kesehatan. Sebagai orang yang ekonominya pas-pasan, berobat dan dioperasi tanpa membayar sedikitpun benar-benar sangat membantu dan bermanfaat,” syukur Ibu Indiriyanti tersebut
Penyakit yang diderita Indriyanti diduga berkaitan dengan pola makan yang tidak sehat. Dia diketahui gemar mengonsumsi makanan instan dan jarang makan nasi. Kondisi ini mungkin menjadi salah satu faktor yang memicu gangguan kesehatan pada ususnya. Dokter yang merawat Indriyanti pun menekankan pentingnya pola makan sehat untuk mencegah masalah serupa di masa depan. Lebih lanjut, orang tua Indriyanti juga membantah kabar miring yang menyebutkan bahwa pasien BPJS Kesehatan hanya boleh dirawat di rumah sakit selama tiga hari.
“Anak saya ini ga suka dan malas banget makan nasi. Dia lebih suka makan mie instan dan itu hampir setiap hari. Dokter pun juga mendiagnosa penyebab utama usus buntunya karena mie instan. Kedepannya dokter menyarankan agar lebih banyak mengosumsi makanan sehat dan berserat agar sakit yang serupa tidak terulang kedua kalinya. Saya juga khawatir sebelumnya karena pengobatan anak saya akan memakan biaya besar untuk operasi dan perawatannya, ternyata hal itu salah besar. Nyatanya tindakan dan perawatan anak saya gratis. Buktinya, anak saya sudah lima hari dirawat dan tidak ada diminta biaya tambahan sama sekali. Semua ditanggung BPJS Kesehatan,” jelasnya.
Di akhir wawancara, orang tua Indriyanti menyampaikan harapan besar mereka terhadap keberlanjutan program JKN. Khususnya mereka yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. Keberadaan program ini tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga memastikan bahwa semua masyarakat memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang layak.
“Semoga program ini terus ada dan membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan pengobatan terutama bagi rakyat kelas menengah ke bawah. BPJS Kesehatan tidak hanya memberikan rasa aman tetapi juga memberikan kepastian pada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik,” harapnya. (**)



















