CIKARANG SELATAN – Pagi itu, halaman Kantor KC FSPMI Bekasi di Tambun Selatan tak seperti biasanya. Di antara poster-poster perjuangan buruh, tampak puluhan peserta mengenakan seragam organisasi, menenteng buku catatan, dan sesekali menengok ke layar proyektor yang tengah disiapkan. Mereka bukan sedang membahas upah atau aturan ketenagakerjaan. Hari itu, Rabu, 23 Juli, topiknya adalah sesuatu yang kerap dianggap sepele—hingga sakit datang menghampiri: Jaminan Kesehatan Nasional.
Workshop Kesehatan & Sosialisasi BPJS Kesehatan yang digagas Bidang VI PC SPAI FSPMI Kabupaten Bekasi itu menjadi semacam ruang jeda dari hiruk-pikuk perjuangan industrial. Sebuah upaya untuk memastikan satu hal sederhana namun vital: para pekerja paham betul bagaimana menjaga diri dan keluarganya ketika musibah kesehatan datang tiba-tiba.
“Ini Bagian dari Tugas Kami”
Ketua PC SPAI FSPMI Bekasi, Saepul Bahri, membuka acara dengan nada yang tegas namun ramah. Ia menyebut workshop ini sebagai “bagian integral” dari program kerja serikat pekerja.
“Memberikan insight baru bagi peserta tentang cara memanfaatkan Program JKN adalah kewajiban kami,” ujarnya. BPJS Kesehatan KC Cikarang dan relawan Jamkeswatch menjadi pendamping resmi dalam sesi tersebut—kombinasi yang mempertemukan edukasi dan advokasi dalam satu ruangan.
Membedah JKN, Menjawab Kecemasan
Materi dibawakan sistematis. Dari pengenalan manfaat JKN-KIS, cara mendaftar, aturan penggunaan, hingga hak dan kewajiban peserta. Namun yang paling menyita perhatian adalah bagian tentang prosedur layanan darurat, rujukan dari FKTP ke FKRTL, serta tata cara klaim ketika pekerja atau keluarganya tiba-tiba jatuh sakit.
Begitu sesi tanya jawab dibuka, suasana berubah. Mikrofon berpindah cepat dari satu peserta ke peserta lainnya. Pertanyaan mengalir deras—tentang pendaftaran online, cara mengatasi tunggakan, sampai bagaimana memastikan keluarga tetap terdaftar aktif.
“Dengan pemahaman yang baik, anggota bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi juga keluarga dan lingkungan sekitar,” kata Saepul. Antusiasme itu, menurutnya, adalah bukti bahwa edukasi semacam ini dibutuhkan.
Sinergi yang Diharapkan Pusat Kesehatan
Dalam sesi terpisah, Kepala BPJS Kesehatan KC Cikarang, Sudiyanti, menyampaikan apresiasinya.
“SPAI FSPMI Kabupaten Bekasi telah memperkuat sinergi antara BPJS Kesehatan, serikat pekerja, dan para pesertanya. Workshop seperti ini sangat strategis,” tuturnya.
Sudiyanti menjelaskan bahwa JKN bukan sekadar kartu layanan kesehatan, melainkan alat perlindungan finansial bagi keluarga pekerja. Dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan, seluruh rantai layanan hadir untuk memastikan masyarakat tidak tergelincir ke dalam kesulitan ekonomi hanya karena sakit.
Serikat Sebagai Sekolah Sosial
Lebih jauh, kegiatan ini mengangkat kembali peran serikat pekerja yang sering terlupakan: menjadi agen edukasi sosial. Serikat tidak hanya berbicara soal upah, PHK, atau negosiasi tahunan, tetapi juga tentang hak dasar pekerja sebagai warga negara.
Dengan literasi kesehatan yang meningkat, PC SPAI FSPMI Bekasi berharap anggotanya tak lagi bingung menghadapi prosedur administrasi kesehatan, tak lagi khawatir soal biaya pengobatan, dan semakin berdaya dalam mengambil keputusan medis.
85 Suara dari 27 PUK
Sebanyak 85 peserta yang mewakili 27 Pimpinan Unit Kerja (PUK) hadir dalam kegiatan tersebut. Di barisan kursi, tampak wajah-wajah serius mengamati paparan, mencatat poin penting, hingga mengabadikan slide dengan kamera ponsel. Di satu sisi ruangan, perwakilan resmi BPJS Kesehatan Cabang Cikarang tampak aktif meladeni pertanyaan dan diskusi informal setelah sesi utama berakhir.
Ada rasa bahwa kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan pengikat kesadaran baru: bahwa kesehatan adalah bagian dari perjuangan kesejahteraan.
Penutup: Sehat Sebagai Hak, Bukan Keberuntungan
Ketika acara usai, lembar absensi terisi penuh, namun yang paling penting adalah isi kepala para peserta: pengetahuan baru yang bisa mereka bawa pulang, bagikan, dan praktikkan. Di luar ruangan, panas siang Tambun Selatan tetap menyengat. Tapi para peserta melangkah dengan lebih ringan—setidaknya kini mereka memahami bahwa melindungi diri dan keluarga dari risiko sakit bukan lagi soal keberuntungan, melainkan soal pengetahuan.
Di balik jargon-jargon perjuangan buruh, hari itu muncul satu pesan yang sederhana namun kuat: sehat adalah hak, dan hak itu harus dipahami, dijaga, dan diperjuangkan. (red)



















