Program JKN dan Mobile JKN, Solusi Mudah Jeni dan Keluarga Kala Sakit

EKBIS191 BACA

CIKARANG SELATAN – Suara motor lalu-lalang dari jalan kecil di Kecamatan Babelan terdengar hingga ke teras rumah Jeni Puspita Sari. Siang itu matahari menyengat, tapi perempuan 22 tahun itu tetap tersenyum ketika mengenang masa yang dulu sempat membuatnya gemetar: saat ayahnya divonis harus menjalani operasi batu ginjal.

“Waktu dokter bilang harus operasi, saya langsung kepikiran biaya. Besar, pasti besar,” kata Jeni, karyawan swasta yang terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) Kelas 1. “Tapi ternyata semuanya ditanggung BPJS Kesehatan. Saya benar-benar lega.”

Beberapa bulan sebelum operasi, ayah Jeni sering mengeluh sakit di bagian perut bawah. “Awalnya dikira masuk angin,” kata Jeni. Namun setelah berkali-kali menahan buang air kecil, keluhan itu makin sering muncul. Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), dokter menjelaskan bahwa kebiasaan menahan kencing bisa memicu terbentuknya batu di kandung kemih—masalah yang akhirnya merambat hingga ginjal.

Setelah rujukan ke rumah sakit tingkat lanjutan, pemeriksaan rontgen dan medical check-up menunjukkan kondisi yang lebih serius dari dugaan awal: ukuran batu ginjal sudah besar dan harus segera ditangani dengan operasi.

“Saat itu saya sudah membayangkan angka-angka. Tapi ternyata, dari operasi, rawat inap, sampai obat… semua di-cover,” kata Jeni.

Sejak pengalaman itu, keluarga Jeni makin akrab dengan layanan JKN. Ibunya kerap memanfaatkan fasilitas kontrol ringan di FKTP terdekat—demam, flu, atau sakit kepala tak lagi harus antre lama di rumah sakit. Bahkan keponakannya pun memanfaatkan layanan JKN untuk perawatan gigi di puskesmas.

“Yang saya suka, pelayanannya jelas. Tidak dibeda-bedakan, tidak ada biaya tambahan. Semua keluarga pakai BPJS Kesehatan dan sampai sekarang semuanya lancar,” ujar Jeni.

Sebagai bagian dari generasi yang tak bisa lepas dari gawai, Jeni memanfaatkan aplikasi Mobile JKN. Ia menunjukkan layar ponselnya: ada fitur Info Faskes, Info Peserta, Cek Tagihan Iuran, sampai antrean online.

“Yang antrean online ini paling membantu. Jadi kalau mau ke FKTP, enggak perlu datang subuh buat ambil nomor,” katanya sambil tertawa kecil.

Aplikasi itu membuatnya merasa lebih tenang—tak perlu khawatir status kepesertaan tiba-tiba nonaktif, tak perlu bertanya-tanya soal iuran, tak perlu menunggu terlalu lama di fasilitas kesehatan.

Di usianya yang baru 22 tahun, Jeni berkata bahwa ia sudah melihat sendiri betapa layanan kesehatan yang terjangkau dapat mengubah dinamika sebuah keluarga saat menghadapi masa sulit.

“Aplikasi Mobile JKN itu benar-benar membantu. Semoga BPJS Kesehatan makin banyak inovasi dan makin memudahkan masyarakat,” ujarnya, menutup cerita panjang tentang ketakutan yang akhirnya berganti menjadi rasa aman.

Bagi Jeni, JKN bukan sekadar potongan iuran bulanan dari perusahaan. Program itu telah berubah menjadi jaring pengaman ketika hidup tiba-tiba mengguncang. Dan dari rumah mungil di Babelan itu, ia berharap semakin banyak orang merasakan kemudahan yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *