“Asap di Suprapto No. 17”

Jakarta Pusat,

Suasana di Jalan Suprapto No. 17, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa sore, 9 Desember 2025, berubah muram. Asap tipis masih melayang dari sisa arang di lantai-lantai atas Gedung Terra Drone ketika jarum jam menunjuk pukul 17.00 WIB. Di bawah tenda darurat, beberapa petugas pemadam kebakaran duduk bersandar, pakaian mereka penuh jelaga dan bau hangus yang tajam—jejak dari tiga jam penyelamatan yang melelahkan.

Di depan gedung yang kini menghitam, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susatyo Purnomo Condro berdiri memberi keterangan. Suaranya tegas, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keletihan.
“Data terakhir korban meninggal dunia sudah 22 orang. Tujuh laki-laki, lima belas perempuan,” katanya.

Kabar itu mengguncang para keluarga yang sedari siang menunggu di balik garis polisi. Sebagian mencoba merangsek masuk, sebagian lain hanya memegangi dada—antara berharap dan berserah. Ambulans yang hilir-mudik tanpa sirine membawa beban yang lebih sunyi: jenazah korban yang dibawa menuju RS Polri, Kramat Jati.

Kebakaran dari Lantai Atas

Api pertama kali terlihat pada pukul 12.43 WIB. Menurut kesaksian beberapa karyawan yang selamat, kepulan asap muncul dari area lantai tiga sebelum menjalar cepat ke atas. Banyak pekerja terjebak. Struktur bangunan yang didominasi kaca berubah menjadi perangkap panas; beberapa panel pecah dengan suara memekakkan telinga.

“Korban rata-rata berasal dari lantai tiga ke atas,” ujar seorang petugas damkar yang masih mengenakan helm berembun. Ia menolak menyebut nama karena belum diberi kewenangan bicara.

Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mengerahkan 28 unit mobil pemadam. Di tengah kepulan asap, para petugas bekerja menembus ruangan yang nyaris tanpa jarak pandang. Di antara mereka, beberapa mengalami luka, termasuk terkena pecahan kaca yang berserakan seperti hujan tajam.

Selesai Evakuasi, Dimulai Pencarian Jawaban

Menjelang sore, proses evakuasi dinyatakan selesai. Namun petugas belum benar-benar pergi. Di lantai dasar yang gelap, tim laboratorium forensik mulai menyiapkan peralatan. Kabel-kabel dicabut pelan, lampu sorot dipasang, dan jalur-jalur masuk ditandai.

“Nanti setelah Damkar selesai merapikan alat, kami lakukan olah TKP bersama Labfor. Kami akan mencari sebab kebakaran ini,” ujar Kapolres Susatyo.

Di luar garis polisi, warga masih menonton puing bangunan yang berdiri seperti kerangka raksasa usai pertarungan besar. Beberapa ibu menangis tertahan. Seorang pria berkemeja biru, yang mengaku kehilangan keponakannya, mondar-mandir tanpa arah.

Sunyi Setelah Api

Menjelang magrib, cahaya kuning matahari memantul pada pecahan kaca di trotoar. Gedung Terra Drone tampak seperti siluet patah yang menyimpan terlalu banyak cerita. Para petugas masih bekerja, namun suasana tak lagi hiruk-pikuk. Yang tersisa hanya keheningan, sesekali dipecah instruksi pendek atau suara sepatu bot menghentak lantai.

Kebakaran itu meninggalkan lebih dari sekadar puing. Ia menyisakan duka, menunda mimpi, dan membuka pertanyaan panjang tentang sistem keselamatan di gedung-gedung modern yang menjulang di Jakarta.

Hingga laporan ini ditulis, polisi belum mengonfirmasi penyebab kebakaran. Yang pasti, bagi keluarga korban, api itu telah membakar lebih dari sekadar bangunan: ia menghanguskan kehidupan yang tak akan kembali. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *