“Ketika Antrean Panjang Itu Mulai Bergeser”

PEMERINTAHAN1,486 BACA

Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi

Pagi baru saja menghangatkan halaman Plaza Pemda Bekasi di Cikarang Pusat ketika Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Endin Samsudin, menutup apel dengan kabar yang segera menyebar cepat di antara para pegawai. Senin, 8 Desember 2025 itu, ia mengumumkan berita yang sejak lama ditunggu ribuan warga Kabupaten Bekasi: penambahan kuota haji dari 2.100 menjadi 3.573 orang untuk tahun 2026.

“Alhamdulillah, ada peningkatan kuota,” katanya sambil menatap peserta apel yang tampak mulai saling berbisik. “Kuota Kabupaten Bekasi bertambah sekitar seribu lebih.”

Di pojok halaman, beberapa pegawai yang orang tuanya sudah lebih dari satu dasawarsa menunggu giliran berangkat haji, tampak menghela napas lega. Ada yang langsung mengabari keluarganya lewat pesan singkat. Kabar itu memang bukan sekadar angka; bagi banyak warga Bekasi, ini adalah kesempatan yang selama bertahun-tahun seperti menggantung di pelataran langit—dekat, namun belum tersentuh.

Hasil Rapat Panjang

Endin menjelaskan bahwa peningkatan kuota itu muncul setelah rapat koordinasi antara Kementerian Haji dan Umrah, Gubernur Jawa Barat, serta para bupati dan wali kota. Kabupaten Bekasi, yang punya jumlah pendaftar haji sangat besar dan daftar tunggu paling panjang di Jawa Barat—sekitar 30 tahun—menjadi salah satu daerah yang mendapat keuntungan signifikan dari kebijakan baru.

Ia berharap tambahan kuota ini akan menjadi jalan bagi pergeseran masa tunggu yang selama ini menjadi keluhan warga. “Semoga makin banyak yang bisa berangkat, dan tahun berikutnya kuotanya bisa bertambah,” ujarnya.

Di Lapisan Lain: Tantangan Pelayanan

Di ruang lain, Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Bekasi, H. Mulyono Hilman Hakim, bergerak cepat memastikan kabar gembira itu tidak justru menimbulkan kendala teknis. Ia menegaskan pentingnya jemaah yang sudah mendapat kuota dan lulus syarat istitha’ah untuk segera melakukan pelunasan.

“Kalau tidak melunasi, kuota tahun depan bisa berkurang,” ujarnya. Nada suaranya tegas, namun ada keprihatinan yang samar—pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan tidak sedikit jemaah yang menunda hingga batas akhir.

Hilman menyebutkan bahwa penyelenggaraan ibadah haji kini berpegang pada UU No. 14 Tahun 2025, menggantikan UU sebelumnya. Kuota tidak lagi ditentukan berdasarkan gabungan populasi Muslim dan pendaftar, namun fokus pada waiting list. Sistem baru inilah yang membuat Kabupaten Bekasi diuntungkan: jemaah yang mendaftar pada 2012–2013 kini bisa terakomodasi.

“Kalau masih pakai sistem lama, pasti banyak yang tertinggal lagi,” katanya. Tahun ini antrean keberangkatan sudah mencapai batas Mei 2014.

Membayar Sisa Perjalanan ke Tanah Suci

Di ruang layanan Kemenhaj Bekasi, layar monitor menampilkan hitungan biaya haji untuk Embarkasi Kertajati: sekitar Rp58,5 juta. Dengan setoran awal Rp25 juta dan nilai manfaat Rp2,7 juta, rata-rata jemaah kini harus melunasi sekitar Rp31 juta.

Di beranda kantor, seorang bapak berusia sekitar 65 tahun tampak menenteng map biru berisi berkas kesehatan. Ia mendaftar haji pada 2013, dan setiap tahun hanya bisa berharap daftar panjang itu bergeser sedikit. Kini, dengan kuota baru, namanya masuk gelombang 2026. “Saya masih seperti mimpi,” katanya pelan.

Antrean yang Tak Lagi Sekeras Batu

Kabupaten Bekasi selama ini dikenal sebagai wilayah dengan masa tunggu terpanjang di Jawa Barat—sekitar tiga dekade. Beberapa jemaah yang mendaftar saat usia 30-an kini mendekati 60 tahun. Tidak sedikit yang wafat sebelum sempat berangkat. Kabar penambahan kuota ini membuat antrean panjang itu mulai terlihat lebih lentur.

“Insya Allah, dengan penambahan kuota, masa tunggunya bisa bergeser,” ujar Hilman.

Sore itu, gedung Kemenhaj mulai dipenuhi warga yang mengecek aplikasi Satu Haji, memastikan status istitha’ah mereka, atau sekadar bertanya apakah nama mereka sudah masuk dalam daftar. Di wajah mereka terselip harapan baru: bahwa perjalanan menuju Tanah Suci tidak lagi sekadar cerita dari generasi sebelumnya.

Di sebuah kabupaten dengan populasi raksasa dan daftar tunggu yang seperti tak berujung, tambahan kuota ini bukan sekadar angka. Ia adalah pintu kecil yang akhirnya dibuka lebih lebar—membiarkan lebih banyak orang melangkah menuju tanah yang selama ini hanya mereka lihat dari mimpi dan doa yang berulang-ulang. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *