Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi
Gedung baru Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Medika Suherman (Unimes) siang itu terasa lebih ramai dari biasanya. Sekitar enam puluh mahasiswa duduk berderet, beberapa membawa buku catatan, sementara sebagian lain menyiapkan ponsel untuk merekam presentasi. Di depan mereka, sebuah spanduk bertuliskan “BPJS Goes to Campus” membentang lebar.
Rabu, 8 Oktober 2025, kampus yang terletak di Telaga Asih, Cikarang Barat itu menjadi tuan rumah kegiatan edukasi BPJS Kesehatan. Bukan sekadar sosialisasi, acara ini menjadi upaya menyentuh generasi muda agar mengenal, memahami, dan akhirnya menjadi penggerak literasi jaminan kesehatan.
“Kami bangga Unimes dipilih. Mahasiswa kesehatan bukan hanya belajar soal tubuh manusia, tapi juga bagaimana sistem jaminan kesehatan bekerja untuk melindungi masyarakat,” ujar Retno Anggraeni Puspita Sari, Wakil Rektor Bidang Mutu Pendidikan dan Prestasi Kemahasiswaan, saat membuka acara.
Kalimatnya disambut anggukan para peserta. Di antara wajah-wajah mahasiswa baru dan tingkat akhir itu, tersirat rasa ingin tahu tentang bagaimana dunia kerja kesehatan terhubung erat dengan sistem jaminan sosial.
Dari STIKes ke Universitas
Dalam sesi sambutannya, Retno tak hanya bicara soal pentingnya edukasi kesehatan. Ia juga mengajak mahasiswa menengok perjalanan panjang institusinya.
Unimes, yang kini berdiri megah dengan sejumlah gedung modern, ternyata lahir dari transformasi bertahap. Dimulai sebagai STIKes Medika Cikarang pada 2005, lalu berganti menjadi Institut Medika Suherman (IMDS) pada 2018, sebelum akhirnya menyandang status universitas penuh pada 2021 di bawah naungan Sentra Medika Hospital Group.
“Kami ingin melahirkan tenaga kesehatan yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan sektor kesehatan yang terus berubah,” ucap Retno.
Di balik pernyataannya, terselip pesan agar mahasiswa memahami medan yang kelak mereka masuki. Bahwa dunia kesehatan bukan hanya soal kompetensi medis, tapi juga pemahaman sistem yang menopang layanan publik.
Menggugah Kesadaran Kesehatan Sejak Dini
Materi utama disampaikan oleh Sudiyanti, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Cikarang. Dengan intonasi tenang namun tegas, ia mengingatkan mahasiswa bahwa sakit selalu datang tanpa permisi.
“Biaya pengobatan bisa sangat besar jika ditanggung sendiri. Di sinilah pentingnya menjadi peserta aktif JKN. Negara sudah menegaskan bahwa seluruh penduduk wajib terdaftar,” katanya.
Sudiyanti menjelaskan struktur layanan BPJS Kesehatan, model bisnis, hingga tantangan penyelenggaraan jaminan kesehatan nasional. Namun yang paling menarik perhatian mahasiswa adalah saat ia memaparkan transformasi digital layanan JKN.
Aplikasi Mobile JKN, yang kini menjadi andalan peserta, disebutnya sebagai “revolusi kecil” dalam pelayanan kesehatan.
“Dulu harus membawa banyak berkas. Sekarang cukup KTP. Prosesnya lebih cepat dan efisien,” jelasnya.
Beberapa mahasiswa tampak saling berbisik—sebagian baru tahu bahwa layanan seperti skrining mandiri, pemilihan faskes, hingga pengecekan tagihan bisa dilakukan hanya lewat ponsel.
Mahasiswa Bertanya, BPJS Menjawab
Sesi tanya jawab menjadi bagian paling hidup dari acara. Seorang mahasiswa kedokteran gigi mengangkat tangan, menanyakan proses rujukan. Mahasiswa lainnya ingin tahu apa yang harus dilakukan jika data kepesertaan bermasalah.
Pertanyaan datang bertubi-tubi, menandakan bahwa literasi jaminan kesehatan—meski dekat dengan kehidupan sehari-hari—masih perlu banyak dijelaskan.
Menyiapkan Agen Perubahan
Kegiatan BPJS Goes to Campus bukan hanya seremoni. Ia menjadi jembatan antara institusi pendidikan dengan penyelenggara jaminan sosial. Di tengah dinamika dunia kesehatan yang terus berkembang, generasi muda dianggap punya peran penting sebagai penyambung informasi sekaligus pelaku perubahan.
“Mahasiswa ini kelak akan terjun langsung ke masyarakat. Mereka harus tahu sistemnya, agar bisa memberi edukasi yang benar,” ujar Sudiyanti selepas acara.
Harapannya jelas: literasi jaminan kesehatan tidak berhenti di ruang kuliah. Ia mengalir ke masyarakat melalui para mahasiswa yang hadir hari itu.
Dengan kolaborasi antara BPJS Kesehatan dan Unimes, generasi muda diharapkan semakin memahami bahwa jaminan kesehatan bukan sekadar kartu, melainkan fondasi kesejahteraan bangsa. Dan dari gedung kampus di Cikarang Barat itu, sebuah langkah kecil menuju masa depan kesehatan yang lebih sadar dan terjangkau telah dimulai. (IB)



















