Air Mata Mawerni dan Jejak Perjuangan Dion

EKBIS333 BACA

Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi

Di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Bekasi, Mawerni (54) duduk sambil meremas ujung kerudungnya. Tatapannya menerawang, tetapi suaranya tetap berusaha tegar saat ia mulai bercerita tentang perjalanan panjang yang pernah ia lalui bersama putra sulungnya, Dion, yang menderita penyakit liver.

“Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada JKN. Hampir setiap minggu kami ke rumah sakit. Biayanya pasti sangat besar,” ucapnya, Senin siang itu. Ujung matanya basah, tetapi ia mencoba tersenyum.

Selama dua tahun terakhir sebelum Dion tiada, rumah sakit menjadi rumah kedua bagi keluarga ini. Mawerni mengingat jelas bagaimana hampir setiap pekan ia mendampingi putranya menjalani pemeriksaan, rawat inap, hingga rangkaian tes laboratorium yang melelahkan. Namun di tengah kelelahan itu, ada satu hal yang membuat napasnya sedikit lebih lapang—Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan.

“Semua biaya ditanggung. Dari obat-obatan sampai rawat inap. Saya tinggal fokus menjaga Dion saja,” tuturnya, mengusap sudut mata.

Perjuangan yang Tak Sempat Menang

Dion, yang baru menginjak usia 30 tahun, divonis menderita penyakit liver dua tahun lalu. Sejak itu, hidupnya berubah drastis. Kesehatannya naik turun, sementara harapan keluarga naik turun bersamanya. Mawerni masih ingat setiap malam ketika ia duduk di samping tempat tidur anaknya, menunggu Dion sadar dari efek obat, atau sekadar memastikan kondisinya tak memburuk.

Hingga pada suatu hari, beberapa bulan lalu, perjuangan Dion mencapai ujungnya.

“Anak saya sudah tenang sekarang. Saya ikhlas,” kata Mawerni pelan. Suaranya bergetar, tetapi tidak pecah.

Meski kehilangan itu menyisakan lubang besar di hatinya, ia mengakui ada rasa lega yang menahan dirinya tetap tegak. Dion mendapatkan perawatan terbaik hingga napas terakhirnya—tanpa membuat keluarga terjerat utang, tanpa beban finansial yang menghantui hari-hari berikutnya.

“Kalau bukan karena JKN, saya tidak tahu bagaimana membayar semua itu. Saya sangat berterima kasih,” ujarnya.

Saat Lingkungan Ikut Belajar

Pengalaman Mawerni bukan hanya mengubah keluarganya, tapi juga membuka mata lingkungan sekitarnya. Ia bercerita bagaimana beberapa tetangganya baru mendaftar menjadi peserta JKN setelah melihat langsung apa yang dialami Dion.

“Banyak yang bilang ke saya, ternyata JKN memang sangat membantu. Mereka baru sadar pentingnya punya jaminan kesehatan,” katanya.

Ia mengaku tidak bermaksud menginspirasi siapa pun. Ia hanya menjalani hidup sebagaimana mestinya. Namun jika pengalaman keluarganya menjadi pelajaran bagi orang lain, Mawerni menganggap itu sebagai berkah.

Jaminan untuk Keluarga yang Masih Ada

Selain untuk Dion, seluruh anggota keluarga Mawerni—suami dan anak bungsunya—juga merupakan peserta JKN. Mereka beberapa kali memanfaatkan layanan tersebut, baik di puskesmas maupun rumah sakit. Mawerni merasa ada ketenangan tersendiri ketika tahu biaya pengobatan tidak lagi menjadi kecemasan dalam rumah tangganya.

“Rasanya tenang. Kami sudah merasakan sendiri kemudahannya,” ujarnya.

Harapan Seorang Ibu

Di tengah kehilangan dan kesyukuran yang bercampur menjadi satu, Mawerni menitipkan satu harapan sederhana namun kuat: agar Program JKN tidak pernah dihentikan, siapapun pemimpin negeri ini.

“Kesehatan itu tidak bisa diprediksi. Jangan menunggu sakit dulu untuk sadar pentingnya JKN,” katanya.

Ia menatap kosong sejenak sebelum melanjutkan, “Kalau program ini tidak ada, saya tidak tahu bagaimana nasib keluarga saya dulu. Saya hanya berharap JKN tetap ada. Untuk semua orang. Untuk masa depan.”

Di ruang tamunya yang tenang, cerita Mawerni menggantung seperti doa yang belum selesai. Doa seorang ibu yang telah kehilangan, namun tetap menyisakan harapan bagi banyak keluarga lainnya. (IB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *