Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi
Di Kampung Buwek Jaya, Tridaya Sakti, Tambun Selatan, hari-hari Andri Nugroho berjalan nyaris tanpa jeda. Pekerjaan menuntut tanggung jawab, sementara keluarga menunggu perhatian di rumah. Di tengah ritme hidup yang padat itu, satu hal membuat pria berusia 43 tahun tersebut merasa lebih tenang: kepastian perlindungan kesehatan bagi dirinya dan keluarga.
Andri, kelahiran Cilacap, 4 April 1981, telah menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak 2014. Ia terdaftar sebagai Pekerja Penerima Upah (PPU) di perusahaan tempatnya bekerja, dengan iuran yang dibayarkan oleh instansi tersebut. Tanpa ragu, Andri memilih kepesertaan kelas 1—sebuah keputusan yang ia anggap sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keluarganya.
“Punya jaminan kesehatan itu seperti punya payung di musim hujan,” kata Andri, tersenyum. “Kita berharap tidak kepakai, tapi saat hujan datang, kita siap.”
Pengalaman itu benar-benar ia rasakan ketika beberapa waktu lalu gejala tipes menyerangnya. Andri memanfaatkan layanan kesehatan di salah satu fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Prosesnya, menurut dia, berjalan cepat dan tak berbelit. Dokter melayani dengan ramah, administrasi sederhana, dan yang terpenting—tak ada kekhawatiran soal biaya.
“Sejak pertama kali pakai JKN sampai sekarang, pelayanannya selalu baik. Saya jadi fokus sembuh, bukan sibuk memikirkan ongkos berobat,” ujarnya.
Bagi Andri, kehadiran JKN bukan semata soal pembiayaan. Program ini memberi rasa aman di tengah ketidakpastian hidup. Saat kebutuhan medis datang tanpa aba-aba, keluarga tak perlu cemas mencari biaya atau fasilitas kesehatan.
Ia juga mencermati perubahan yang dilakukan BPJS Kesehatan dalam beberapa tahun terakhir. Transformasi digital, menurut Andri, menjadi lompatan penting dalam pelayanan. Aplikasi Mobile JKN ia sebut sebagai pintu masuk baru yang memudahkan peserta mengakses layanan secara mandiri.
“Sekarang semua bisa diurus dari ponsel. Lihat data peserta, daftar antrean online, cek lokasi faskes, sampai perubahan data,” katanya. Ia juga menilai fitur Skrining Riwayat Kesehatan sebagai langkah preventif yang penting. “Kita jadi bisa tahu risiko kesehatan sejak awal. Bukan cuma berobat, tapi juga mencegah.”
Andri turut merasakan peningkatan kualitas pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Menurutnya, respon terhadap pengaduan peserta kini lebih cepat dan solusinya lebih jelas. Sikap petugas yang sigap dan komunikatif membuat peserta merasa dihargai.
“Kalau ada kendala, langsung dibantu sampai selesai. Ini perubahan yang sangat terasa,” ungkapnya.
Menutup perbincangan, Andri menyampaikan harapannya agar BPJS Kesehatan terus berinovasi dan menjaga kualitas layanan. Ia percaya, dengan komitmen bersama, sistem jaminan kesehatan nasional akan semakin kokoh dan berkelanjutan.
“Program ini benar-benar membantu masyarakat. Semoga semakin banyak keluarga Indonesia yang merasakan manfaatnya,” katanya.
Bagi Andri, JKN telah menjadi lebih dari sekadar program negara. Ia adalah penopang ketenangan—payung yang selalu siap dibuka ketika hujan datang, kapan pun dan di mana pun. (IB)



















