Tenang di Perantauan Berkat JKN

EKBIS322 BACA

Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi

Pagi itu, Chikita Risa masih harus berangkat kerja seperti biasa. Namun tubuhnya terasa tidak bersahabat. Perut perih akibat asam lambung, disusul demam dan batuk yang tak kunjung reda. Tinggal seorang diri di tanah rantau, jauh dari orang tua di Tanjungpinang, membuat kondisi itu terasa lebih berat. Beruntung, satu hal memberinya rasa tenang: kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Perempuan 24 tahun yang bekerja di sektor swasta itu telah menjadi peserta JKN sejak 2017. Awalnya, kepesertaannya masih berada di bawah tanggungan orang tua melalui segmen Pekerja Penerima Upah (PPU). Kini, setelah bekerja, iurannya dibayarkan oleh perusahaan tempat ia menggantungkan harapan di ibu kota.

“Rasanya lega sekali. Sejak awal kerja, perusahaan langsung mendaftarkan saya ke JKN. Jadi kalau sakit, saya tidak panik,” kata Chikita.

Ketika gangguan kesehatan itu datang, ia tak perlu berpikir panjang. Melalui aplikasi Mobile JKN di telepon genggamnya, Chikita mendaftar antrean di puskesmas dekat tempat kos yang telah terdaftar sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Ia datang sesuai jadwal, diperiksa dokter, dan pulang membawa obat—tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.

Pengalaman sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Bagi Chikita, JKN bukan hanya soal pembiayaan kesehatan, tetapi juga soal kemudahan akses. Di tengah ritme kerja yang padat, layanan digital BPJS Kesehatan menjadi solusi praktis.

“Antrean online sangat membantu. Tidak perlu datang pagi-pagi dan menunggu lama,” ujarnya.

Transformasi digital yang dilakukan BPJS Kesehatan memang mengubah cara peserta mengakses layanan. Melalui Mobile JKN, peserta dapat mengelola hampir seluruh kebutuhan administratif secara mandiri—mulai dari cek data kepesertaan, melihat riwayat pelayanan, mengubah data, hingga mencari lokasi fasilitas kesehatan terdekat. Chikita mengaku rutin memanfaatkan fitur-fitur tersebut.

“Semua ada di satu aplikasi. Buat saya yang kerja dan merantau, ini sangat memudahkan,” katanya.

Bagi pekerja muda seperti Chikita, keberadaan JKN memberi rasa aman yang tak ternilai. Di usia produktif, ketika fokus tertuju pada karier dan kemandirian, risiko sakit tetap mengintai—datang tanpa aba-aba, dipicu kelelahan atau cuaca yang tak menentu.

“Sebagai perantau, jauh dari orang tua, JKN bikin saya merasa terlindungi. Kalau tiba-tiba sakit, saya bisa langsung berobat ke FKTP tanpa harus menyiapkan banyak hal,” tuturnya.

Meski demikian, Chikita berharap layanan digital BPJS Kesehatan terus disempurnakan. Ia ingin aplikasi Mobile JKN semakin cepat dan stabil, serta kerja sama dengan rumah sakit dan klinik swasta diperluas agar peserta memiliki lebih banyak pilihan fasilitas kesehatan.

Harapan itu sejalan dengan tujuan besar Program JKN: memastikan setiap warga negara mendapatkan akses layanan kesehatan yang adil, mudah, dan setara. Di mata Chikita, program ini telah menghadirkan perubahan nyata—bukan hanya dalam sistem kesehatan, tetapi juga dalam rasa aman yang dirasakan jutaan peserta.

“Buat saya, JKN adalah bukti kehadiran negara. Saat kita sakit, kita tidak sendirian,” katanya, menutup cerita. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *