Desa Kertarahayu, Praktik Besar Dikunjungi Bank Dunia Melawan Stunting

PEMERINTAHAN191 BACA

Setu, Kabupaten Bekasi

Pagi itu, Desa Kertarahayu di Kecamatan Setu tak seperti biasanya. Jalan desa lebih rapi, posyandu lebih ramai, dan wajah-wajah warga tampak antusias menyambut tamu yang datang dari jauh—sangat jauh. Dari Washington, seorang pejabat tinggi Bank Dunia hadir untuk melihat langsung bagaimana sebuah desa di Kabupaten Bekasi melawan stunting dengan cara yang sederhana, namun terukur.

Adalah Pascal Donohue, Direktur Pelaksana dan Kepala Pengetahuan World Bank—sekaligus mantan Menteri Keuangan Irlandia—yang menjejakkan kaki di desa tersebut. Kertarahayu dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah ratusan desa lain, Kertarahayu dinilai berhasil menjalankan aksi konvergensi percepatan penurunan stunting secara utuh: dari perencanaan, anggaran, hingga pendampingan warga.

“Pelaksanaan program di sini menggambarkan kolaborasi yang ideal, dari pemerintah pusat sampai desa,” kata Fadly Marissatrio, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kabupaten Bekasi.

Kunci keberhasilan Kertarahayu terletak pada keberanian mengambil keputusan. Pemerintah desa mengalokasikan 20 persen APBDes khusus untuk pelayanan dan kemaslahatan kesehatan masyarakat. Kebijakan itu selaras dengan Peraturan Menteri Desa yang mewajibkan alokasi dana desa untuk sektor kesehatan, termasuk penanganan stunting.

Namun, dana hanyalah alat. Yang membuat Kertarahayu istimewa adalah cara dana itu bekerja di lapangan.

Rombongan World Bank, didampingi Pemerintah Kabupaten Bekasi, Bappenas, dan Kementerian Kesehatan, meninjau lima pos layanan yang saling terhubung. Di pos pertama, ibu-ibu hamil berdialog langsung dengan tenaga kesehatan tentang pola hidup sehat selama kehamilan—mulai dari asupan gizi hingga aktivitas fisik ringan.

Di pos kedua, sebuah posyandu berjalan dengan lima tahapan pelayanan: pendaftaran, penimbangan, pencatatan, pemeriksaan, dan konseling. Bayi-bayi digendong, ditimbang, lalu dicatat perkembangannya—ritual rutin yang menjadi benteng awal pencegahan stunting.

Pos ketiga menghadirkan suasana berbeda. Di sebuah PAUD, anak-anak sibuk mewarnai sambil sesekali melirik tamu asing yang membuat mereka tersenyum bangga. “Mereka jadi lebih semangat belajar,” ujar Endin Samsudin, Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi.

Pos keempat dikenal warga sebagai Pos Empat Matahari—ruang dialog orang tua tentang pola asuh anak. Di sini, peran ayah kembali ditekankan. Stunting bukan hanya urusan ibu dan dapur, tapi tanggung jawab bersama.

Di pos terakhir, pemerintah desa memaparkan dukungan anggaran. Dari total APBDes sekitar Rp4 miliar, sebesar Rp208 juta dialokasikan khusus untuk sektor kesehatan, termasuk program penurunan stunting yang dirumuskan melalui musyawarah dusun dan desa.

Bagi Bank Dunia, praktik seperti ini bukan sekadar cerita lokal. Model Kertarahayu direncanakan akan didokumentasikan dan disebarluaskan sebagai praktik baik di tingkat internasional—sebuah contoh bahwa pencegahan stunting bisa dimulai dari desa, dengan kepemimpinan yang berpihak dan partisipasi warga yang aktif.

Endin Samsudin menaruh harapan besar pada para kader kesehatan desa—mereka yang setiap hari mengetuk pintu rumah warga, mencatat berat badan balita, dan memastikan tak ada anak yang tertinggal.

“Peran kader sangat penting. Mereka ujung tombak di masyarakat. Dengan kerja bersama, kami optimistis Kabupaten Bekasi akan semakin baik,” katanya.

Di Kertarahayu, stunting bukan hanya angka statistik. Ia adalah cerita tentang komitmen, kolaborasi, dan keyakinan bahwa perubahan besar bisa lahir dari desa kecil—asal dikelola dengan serius.(IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *