Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi
Deru kendaraan yang melintas di Jalan KH. Fudoli selama bertahun-tahun menyimpan keluhan warga Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara. Aspal yang menua, lubang yang kian melebar, dan genangan air di musim hujan menjadi bagian dari keseharian. Jalan ini bukan sekadar jalur penghubung, melainkan urat nadi aktivitas ekonomi dan sosial warga.
Harapan akan perubahan itu akhirnya menemukan titik terang dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan yang digelar Rabu, 4 Februari 2025. Kehadiran langsung Pelaksana Tugas Bupati Bekasi dalam forum tersebut menjadi sinyal kuat bahwa aspirasi warga Karangasih tak lagi sekadar catatan di atas kertas.
Kepala Desa Karangasih, Samsu Dawam, tak menyembunyikan rasa lega dan bangganya. Bagi dia, kepastian perbaikan Jalan KH. Fudoli adalah jawaban atas kegelisahan panjang masyarakat.
“Selama ini kami khawatir, apakah jalan ini benar-benar diperhatikan atau tidak. Alhamdulillah, hari ini terjawab. Jalan KH. Fudoli dipastikan masuk rencana kerja dan akan segera direalisasikan,” ujarnya.
Menurut Samsu, pembangunan jalan tersebut telah masuk dalam site plan kegiatan infrastruktur daerah. Artinya, bukan lagi sekadar wacana, melainkan program yang siap dieksekusi. Kepastian itu menjadi momentum penting bagi pemerintah desa yang selama ini terus mendorong aspirasi warganya melalui forum perencanaan pembangunan.
Namun Musrenbang Karangasih tak hanya berbicara soal jalan. Persoalan klasik lain yang kerap menghantui warga, terutama saat musim hujan, juga ikut dibahas: drainase dan pengendalian banjir. Meski Karangasih bukan wilayah langganan banjir besar, genangan air masih kerap muncul akibat saluran yang tak lagi memadai.
Samsu menjelaskan, hasil penelusuran lapangan menunjukkan gorong-gorong di beberapa titik perlu diperbesar agar aliran air lebih lancar. “Kalau saluran ini tidak dibenahi dari sekarang, ke depan risikonya akan lebih besar,” katanya.
Upaya itu tak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah Desa Karangasih pun membuka komunikasi lintas wilayah. Koordinasi dengan Pemerintah Desa Cikarangkota akhirnya membuahkan kesepakatan penting: penutupan jalur pembuangan air dari wilayah Cikarangkota yang selama ini berdampak langsung pada Karangasih.
“Alhamdulillah, ada kesepahaman. Jalur pembuangan air itu bersedia ditutup sehingga tidak lagi membebani wilayah kami,” ujar Samsu.
Dukungan politik juga mengalir. Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Saiful Islam, disebut turut mengawal komitmen pembenahan jalur air agar benar-benar terealisasi. Bagi pemerintah desa, dukungan legislatif menjadi faktor krusial agar program prioritas tak terhenti di tengah jalan.
Langkah antisipasi pun telah dilakukan sejak dini. Menjelang musim penghujan, pemerintah desa bersama warga melakukan pembersihan lingkungan dan normalisasi saluran air. Hasilnya, debit air relatif cepat surut ketika hujan deras mengguyur.
“Ini ikhtiar kami. Meski Karangasih bukan daerah yang rutin banjir, pencegahan tetap harus dilakukan,” kata Samsu.
Bagi warga Karangasih, perbaikan Jalan KH. Fudoli dan pembenahan drainase bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah simbol hadirnya negara di tingkat paling dekat dengan rakyat. Ketika jalan diperbaiki dan air mengalir dengan semestinya, kualitas hidup pun ikut terangkat.
Musrenbang kali ini memberi harapan baru: bahwa suara desa, jika diperjuangkan dengan konsisten, akhirnya bisa menemukan jalannya sendiri menuju perubahan. (IB)



















