Gotong Royong di Tengah Lumpur

PEMERINTAHAN367 BACA

Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi

Pagi Minggu belum sepenuhnya kering di Perumahan Grand Cikarang City (GCC), Desa Karangraharja, Cikarang Utara. Sisa lumpur masih melekat di selokan, dedaunan basah menumpuk di sudut jalan, dan aroma sampah rumah tangga bercampur tanah masih terasa. Namun, ratusan orang sudah bergerak. Ada seragam loreng TNI, cokelat Polri, rompi dinas lingkungan hidup, hingga kaus relawan yang lusuh oleh lumpur.

Pemerintah Kabupaten Bekasi, bersama TNI dan Polri, menggelar aksi bersih-bersih lingkungan sebagai respons cepat atas banjir yang melanda kawasan tersebut. Aksi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional di Bogor, yang menekankan pentingnya penanganan pascabanjir secara konkret dan kolaboratif.

Plt Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, turun langsung ke lapangan. Sepatu botnya kotor, celananya terciprat lumpur. “Alhamdulillah, hari ini kami bersama jajaran TNI dan Polri melaksanakan aksi bersih-bersih lingkungan sesuai arahan Bapak Presiden,” ujarnya di sela kegiatan. Fokus utama, kata Asep, adalah membersihkan wilayah yang terdampak paling parah—Perumahan GCC.

Hasil analisis lapangan yang dilakukan pemerintah daerah bersama Kapolres dan Dandim mengungkap fakta penting. Kawasan ini ternyata menjadi salah satu titik sumber aliran air yang memicu meluasnya genangan ke permukiman warga. “Dari analisa kemarin malam, inilah salah satu sumber air yang mengalir. Karena itu hari ini kita bersihkan serentak,” kata Asep.

Sekitar 300 personel gabungan diterjunkan. Sepuluh armada truk pengangkut sampah hilir mudik membawa sedimen, lumpur, dan sampah rumah tangga yang menyumbat saluran air. Dinas Lingkungan Hidup dan Satpol PP turut membersihkan drainase yang selama ini terpendam endapan.

Banjir, menurut Asep, bukan sekadar persoalan hujan. Ada faktor struktural yang tak bisa diabaikan. Pendangkalan saluran air, buruknya sistem drainase, hingga perubahan tata guna lahan menjadi penyebab utama. “Dulu ini sawah, sekarang jadi perumahan. Infrastruktur drainasenya kurang baik, akhirnya banjir hampir merata,” ujarnya.

Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol Sumarni, menegaskan bahwa kehadiran Polri dalam aksi ini bukan sekadar kegiatan insidental. “Ini instruksi dari Bapak Kapolri dan Bapak Kapolda Metro Jaya. Setiap Jumat kami rutin melaksanakan bersih-bersih lingkungan,” katanya. Kali ini, rutinitas itu berpadu dengan misi kemanusiaan pascabanjir.

Sumarni juga menyelipkan pesan sederhana namun krusial kepada warga. “Kami mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Ini kewajiban kita bersama,” ujarnya tegas.

Di tengah deru mesin truk dan gesekan sekop dengan lumpur, gotong royong kembali menemukan maknanya. Banjir memang meninggalkan luka, tetapi pagi itu, di Karangraharja, ada upaya bersama untuk memulihkan—bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesadaran bahwa air, sampah, dan ruang hidup adalah tanggung jawab bersama. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *