Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi
Pagi itu, halaman kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Cikarang di kawasan industri Jababeka masih dipadati warga. Namun berbeda dari hari-hari sebelumnya, wajah-wajah yang datang kini tampak lebih tenang. Mereka tidak lagi khawatir kehabisan nomor antrean atau menunggu berjam-jam tanpa kepastian.
Sejak awal April 2026, kantor cabang yang berada di Kawasan Industri Jababeka ini mulai menerapkan sistem antrean online terjadwal yang lebih presisi melalui layanan Lapak Asik. Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas tingginya jumlah kunjungan, khususnya di Kabupaten Bekasi yang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia.
Kepala Kantor Cabang Cikarang, Muhyiddin Dj, menjelaskan bahwa sistem antrean online sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun lalu. Namun, mulai 1 April 2026, fitur tersebut ditingkatkan dengan pengaturan waktu yang lebih rinci.
“Kalau sebelumnya peserta hanya memilih hari, sekarang sudah bisa sampai ke jam pelayanan. Misalnya Senin pukul 10.00 sampai 11.00. Jadi alurnya jauh lebih tertib,” ujarnya.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Dalam satu hari, jumlah antrean klaim—terutama Jaminan Hari Tua (JHT)—bisa mencapai 280 orang. Angka tersebut mencerminkan tingginya mobilitas tenaga kerja di wilayah Bekasi, sekaligus menjadi tantangan tersendiri dalam pelayanan publik.
Melalui sistem baru ini, peserta cukup mendaftar dari rumah melalui Lapak Asik, mengisi data, serta mengunggah dokumen seperti KTP. Setelah itu, mereka akan mendapatkan barcode yang menjadi “tiket masuk” untuk dilayani sesuai jadwal.
Namun, masa transisi tidak selalu berjalan mulus. Di hari-hari awal penerapan, antrean masih terlihat padat. Banyak peserta datang langsung ke kantor tanpa mendaftar terlebih dahulu, lalu baru mencoba mengakses sistem di tempat.
“Ini soal kebiasaan. Banyak yang datang dulu, baru daftar. Padahal idealnya dari rumah. Karena itu kami gencar sosialisasi, termasuk ke perusahaan-perusahaan,” kata Muhyiddin.
Sosialisasi tersebut menyasar para pekerja, khususnya yang telah non-aktif dan berencana mencairkan JHT. Harapannya, mereka sudah memahami prosedur sejak awal sehingga tidak terjadi penumpukan di lokasi pelayanan.
Di balik upaya pembenahan itu, tantangan teknis juga sempat muncul. Akses serentak dari ratusan pengguna membuat server beberapa kali mengalami gangguan. Meski demikian, tim pusat terus melakukan perbaikan secara berkala.
“Masih tahap awal, jadi efektivitasnya belum bisa diukur sepenuhnya. Tapi kami optimistis mulai Mei nanti antrean akan jauh lebih tertata,” ujarnya.
Menariknya, tingkat literasi digital masyarakat dinilai cukup mendukung implementasi sistem ini. Pekerja formal atau penerima upah umumnya tidak mengalami kesulitan dalam mengakses layanan digital. Sementara itu, bagi peserta bukan penerima upah, layanan manual tetap disediakan sebagai bentuk inklusivitas.
Di tengah geliat kawasan industri yang tak pernah benar-benar sepi, langkah digitalisasi ini menjadi bagian dari upaya membangun layanan publik yang lebih adaptif. Bagi para pekerja, kepastian waktu kini menjadi nilai tambah—mengubah pengalaman antre dari yang melelahkan menjadi lebih terencana.
Dan di Cikarang, antrean panjang perlahan mulai berubah menjadi sistem yang lebih manusiawi. (iB)



















