CIKARANG BARAT — Wajah-wajah sumringah tampak menghiasi kawasan Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, Selasa (19/05/2026). Di tengah hamparan proyek perumahan yang terus dibangun, harapan baru tumbuh bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia. Setelah bertahun-tahun sebagian pegawai bergulat dengan biaya kontrakan dan cicilan rumah yang mencekik, program hunian ASN Casa De Prima hadir membawa angin segar: rumah layak huni dengan skema pembiayaan terjangkau.
Peluncuran kawasan hunian tersebut dilakukan langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI Agus Andrianto didampingi Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan ASN melalui penyediaan hunian yang tidak hanya nyaman, tetapi juga realistis dijangkau pegawai negara.
Di bawah terik matahari Cikarang, Asep Surya Atmaja menegaskan bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik. Baginya, rumah adalah pondasi kehidupan keluarga dan penentu kualitas generasi masa depan.
“Program ini bukan hanya menghadirkan bangunan hunian, tetapi juga bentuk perhatian negara terhadap kesejahteraan ASN yang mengabdikan dirinya dalam pelayanan publik,” ujar Asep.
Ia menilai kehadiran hunian ASN di Kabupaten Bekasi menjadi langkah penting di tengah tekanan urbanisasi dan tingginya harga properti di kawasan industri nasional tersebut. Kabupaten Bekasi, yang selama ini dikenal sebagai pusat manufaktur dan pertumbuhan ekonomi, dinilai tidak boleh hanya dipenuhi kawasan industri tanpa keseimbangan pembangunan permukiman yang manusiawi.
“Rumah yang layak akan melahirkan lingkungan keluarga yang sehat, nyaman, dan produktif,” tambahnya.
Kawasan Casa De Prima sendiri dibangun di dua titik strategis, yakni Cikarang Barat dan Cikarang Pusat. Untuk kawasan Cikarang Barat, proyek berdiri di atas lahan seluas 7.700 meter persegi dengan rencana pembangunan 60 unit rumah dan 9 unit ruko. Saat ini sebanyak 34 unit rumah telah rampung dibangun, sementara sisanya masih dalam tahap pengerjaan.
Sedangkan di kawasan Cikarang Pusat, proyek dikembangkan di atas lahan 9.000 meter persegi dengan total rencana pembangunan 78 unit rumah dalam tiga tipe berbeda.
Menteri Agus Andrianto mengatakan proyek tersebut tidak sekadar membangun rumah, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi lintas sektor. Pemerintah menggandeng PLN dalam pemanfaatan residu limbah PLTU batu bara sebagai material modul perumahan. Teknologi itu diharapkan mampu menekan biaya pembangunan sekaligus memanfaatkan limbah industri menjadi sesuatu yang lebih produktif.
Tak hanya itu, dukungan pembiayaan juga datang dari BRI yang memberikan fasilitas kredit perumahan bagi ASN dengan bunga flat 7,5 persen hingga tenor 25 tahun.
Langkah ini menjadi jawaban atas persoalan klasik yang selama ini menghantui banyak ASN muda: gaji tetap tetapi sulit mengejar harga rumah yang terus melambung. Di kota industri seperti Bekasi, persoalan hunian bukan hanya tentang tempat tinggal, tetapi juga soal akses hidup layak di tengah kerasnya pertumbuhan ekonomi.
Program Casa De Prima mencoba memotong ironi itu. Ketika kawasan industri terus menjulang dengan investasi triliunan rupiah, negara mulai menunjukkan keberpihakannya agar para pelayan publik tidak tersingkir dari hak dasar memiliki rumah.
Agus berharap program tersebut tidak berhenti di lingkungan ASN Imigrasi dan Pemasyarakatan saja, tetapi dapat berkembang lebih luas melalui program pembangunan dan bedah rumah bagi masyarakat di berbagai daerah.
Di sela peresmian, sejumlah ASN tampak berkeliling melihat unit rumah contoh. Ada yang memotret ruang tamu, ada pula yang sibuk menghitung kemungkinan cicilan sambil tersenyum lega. Bagi mereka, Casa De Prima bukan sekadar proyek perumahan. Ia adalah simbol kepastian hidup yang selama ini terasa jauh di tengah mahalnya harga tanah dan kebutuhan hidup perkotaan.(iB)
























