Dari Ruang Kelas SMAN 2 Cikarang Selatan, Anggota DPRD Nuryasin Bicara Politik untuk Masa Depan Bangsa

POLITIK105 BACA

CIKARANG SELATAN — Suasana aula SMAN 2 Cikarang Selatan pada Senin (18/5/2026) tampak berbeda. Ratusan pelajar duduk serius mendengarkan materi yang biasanya dianggap “berat” untuk anak sekolah: politik.

Namun di tangan Ustd. Nuryasin, tema politik justru dibawa dengan bahasa sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan sesekali memancing gelak tawa para siswa.

Dalam kegiatan Road Show Pendidikan Politik untuk Pelajar, Nuryasin mencoba mematahkan stigma lama bahwa politik identik dengan perebutan kekuasaan dan praktik kotor.

“Selama ini politik dianggap kotor. Padahal politik itu sangat bermanfaat. Dalam setiap kegiatan masyarakat ada nilai politiknya, ada strateginya,” ujarnya di hadapan para pelajar.

Bagi Nuryasin, politik bukan sekadar urusan elite atau partai. Bahkan dalam rumah tangga, kata dia, ada strategi, ada musyawarah, dan ada proses pengambilan keputusan. Semua itu bagian dari politik dalam makna luas.

Ia lalu mengajak para siswa memahami bagaimana sistem demokrasi bekerja mulai dari tingkat paling kecil di masyarakat.

“Di lingkungan RT saja ada proses memilih, ada musyawarah, ada demokrasi. Maka masyarakat harus paham politik agar tidak mudah ditipu,” katanya.

Pernyataan itu membuat ruang aula mendadak hening. Sebab menurutnya, ancaman terbesar bagi generasi muda bukan hanya ketertinggalan teknologi, tetapi juga rendahnya literasi politik.

Di era media sosial yang serba cepat, remaja justru menjadi kelompok paling rentan terpapar informasi tanpa arah. Karena itu, pendidikan politik bagi pemilih pemula dianggap sangat penting.

“Anak muda sekarang lebih melek teknologi, lebih cepat mendapat informasi. Tapi harus dibarengi dengan pemahaman politik yang benar. Ini yang akan menentukan masa depan bangsa,” tuturnya.

Nuryasin menekankan bahwa pelajar tidak harus menjadi politisi praktis. Namun mereka wajib memahami bagaimana memilih pemimpin yang baik.

Ia kemudian menjelaskan prinsip memilih pemimpin dengan pendekatan fikih yang mudah dipahami para siswa.

“Kalau sama-sama baik, pilih yang lebih baik. Kalau sama-sama buruk, pilih yang mudaratnya paling kecil,” ujarnya.

Kalimat itu langsung mengundang perhatian peserta. Sebagian siswa tampak mencatat, sebagian lainnya mengangguk pelan.

Menurut Nuryasin, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh generasi muda. Ia menyebut komposisi pemuda di Indonesia saat ini mencapai sekitar 60 persen dibanding kelompok usia tua. Angka itu menjadi kekuatan besar yang tak boleh kehilangan arah.

Karena itu, ia mengingatkan para pelajar agar tidak minder soal modal atau kekayaan.

“Modal pemuda bukan duit. Modal pemuda itu ilmu dan fisik yang kuat,” tegasnya.

Ia lalu mengutip kisah para pemuda dalam Al-Qur’an seperti Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Musa, dan Nabi Daud yang disebutnya tampil sebagai figur muda dengan visi besar dan keberanian menghadapi zaman.

“Kalau pemuda punya ilmu dan kekuatan, mereka akan menguasai dunia,” katanya penuh semangat.

Di akhir pemaparannya, Nuryasin mengajak para pelajar mulai berani bercita-cita menjadi pemimpin masa depan. Bukan sekadar pemimpin yang populer, tetapi pemimpin yang membawa nilai ketakwaan dan kebermanfaatan.

“Visi orang tua itu melahirkan anak-anak yang menjadi pemimpin masa depan,” ucapnya.

Di tengah tantangan zaman digital, polarisasi media sosial, dan rendahnya minat generasi muda terhadap isu kebangsaan, forum sederhana di ruang sekolah itu seperti menjadi pengingat: masa depan demokrasi Indonesia tidak lahir dari ruang elite semata, tetapi juga dari bangku-bangku pelajar yang mulai belajar memahami arti kepemimpinan, strategi, dan tanggung jawab sosial sejak dini. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *