CIKARANG PUSAT – Harga sejumlah bahan pangan di Kabupaten Bekasi mulai menunjukkan “taringnya”. Cabai rawit merah tembus Rp90 ribu per kilogram, daging sapi menyentuh Rp150 ribu per kilogram, sementara bawang putih ikut merangkak naik hingga Rp40 ribu per kilogram.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Bekasi memastikan kondisi inflasi daerah masih aman dan terkendali. Hasil pemantauan menunjukkan daya beli masyarakat dinilai masih mampu bertahan menghadapi kenaikan harga sejumlah komoditas strategis tersebut.
Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, Helmi Yenti, mengatakan berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), Kabupaten Bekasi mencatat angka 1,56 atau masih di bawah ambang batas 1,58 yang menjadi indikator inflasi daerah dalam kondisi terkendali.
“Hasil pendataan menunjukkan daya beli masyarakat masih berada pada zona aman, meskipun terdapat beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga,” ujar Helmi.
Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah pasar rakyat, kenaikan harga terjadi pada daging sapi, bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, dan cabai rawit merah. Bahkan di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Cikarang, Pasar Cibarusah, dan Pasar Serang, harga komoditas tertentu sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Untuk daging sapi, harga saat ini berkisar antara Rp135 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Kenaikan dipicu meningkatnya biaya distribusi dan transportasi dari sentra peternakan serta rumah potong hewan. Kondisi geopolitik global juga disebut turut memengaruhi harga daging sapi impor.
Sementara itu, harga cabai merah keriting di Pasar Cibarusah tercatat mencapai Rp68 ribu per kilogram. Adapun cabai rawit merah menjadi komoditas paling “pedas” dengan harga mencapai Rp90 ribu per kilogram di Pasar Cikarang dan Pasar Serang.
Tak hanya cabai, bawang putih kini dijual hingga Rp40 ribu per kilogram atau naik sekitar Rp10 ribu dibanding harga normal. Sedangkan bawang merah berada pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
Menurut Helmi, lonjakan harga tersebut dipicu terganggunya rantai pasok akibat menurunnya produksi di daerah sentra pertanian. Salah satunya gagal panen cabai di Garut yang berdampak pada pasokan ke Pasar Induk Cibitung.
“Selain dipengaruhi biaya operasional, kenaikan harga juga terjadi karena hambatan rantai pasok. Untuk menjaga stabilitas harga, kami menyiapkan pasokan alternatif cabai dari Sumatera,” katanya.
Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas itu, harga kebutuhan pokok lainnya seperti beras premium dan minyak goreng masih relatif stabil.
Pemerintah Kabupaten Bekasi memastikan akan terus memantau perkembangan harga di pasar serta memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak guna menjaga pasokan tetap aman dan inflasi daerah tidak lepas kendali. Namun bagi sebagian warga, terutama para ibu rumah tangga, kenaikan harga cabai dan bawang tetap menjadi “alarm” yang membuat pengeluaran dapur semakin ketat. (iB)

























