BANDUNG, JAWA BARAT – Di tengah derasnya arus teknologi digital dan semakin akrabnya anak-anak dengan gawai sejak usia dini, minat membaca menjadi tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Kondisi ini menjadi perhatian serius Ketua Dewan Pembina Gerakan Literasi Nasional (Gareulis) Jawa Barat sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir.
Menurutnya, kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Karena itu, upaya menanamkan budaya literasi harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Ini memang menjadi tantangan kita semua dengan kemajuan teknologi dan gadget yang kini berada di genggaman anak didik kita,” ujarnya.
Bagi H. Syahrir, melarang anak menggunakan teknologi bukanlah solusi. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan ruang-ruang kreatif agar anak-anak memiliki alasan untuk mencintai membaca, menulis, dan berkarya.
Melalui Gerakan Literasi Nasional (Gareulis), berbagai program terus digulirkan. Beragam perlombaan dan kegiatan literasi diselenggarakan untuk menggali potensi generasi muda, mulai dari menulis buku, membuat puisi, menciptakan komik, hingga berbagai kategori kreativitas lainnya.
Program-program tersebut tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga mengajak guru, orang tua, komunitas, hingga lingkungan sekitar agar menjadi bagian dari ekosistem literasi.
“Talenta-talenta literasi inilah yang kami harapkan mampu memicu semangat anak-anak bangsa untuk terus berkarya dan berpartisipasi dalam dunia pendidikan,” katanya.
Tak berhenti pada penyelenggaraan kompetisi, Gareulis juga membangun perpustakaan-perpustakaan berbasis komunitas. Koleksi buku berasal dari kontribusi para anggota organisasi dan kemudian ditempatkan di lingkungan permukiman, sekolah, hingga ruang-ruang publik yang mudah diakses masyarakat.
Langkah sederhana itu diyakini mampu membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
Di tengah maraknya hiburan digital yang serba instan, keberadaan perpustakaan komunitas menjadi pengingat bahwa buku tetap memiliki tempat sebagai jendela pengetahuan.
Syahrir menegaskan, gerakan literasi tidak boleh berhenti hanya sebagai slogan. Literasi harus menjadi budaya yang terus dipupuk agar lahir generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan berdaya saing.
“Ini adalah wujud komitmen kami dalam menumbuhkembangkan budaya literasi di Jawa Barat hingga tingkat nasional. Kami akan terus mengembangkan berbagai talenta literasi agar lahir generasi yang benar-benar literat,” tegasnya.
Bagi Gareulis, perjuangan menjaga budaya membaca bukan sekadar mempertahankan kebiasaan lama. Di era banjir informasi, literasi menjadi benteng agar generasi muda tidak hanya pandai menggeser layar gawai, tetapi juga mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. (iB)

























