Air Kali Bekasi Menghitam, PDAM Minta Warga Jangan Diminum Dulu!

PEMERINTAHAN120 BACA

BEKASI KOTA – Warna air yang berubah menjadi hitam pekat, dipenuhi busa, dan mengeluarkan aroma menyengat menjadi pemandangan yang membuat warga Kota Bekasi cemas dalam beberapa hari terakhir. Di balik keruhnya aliran Kali Bekasi, petugas Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumda Tirta Patriot bekerja tanpa henti selama 24 jam demi memastikan air tetap bisa mengalir ke rumah-rumah pelanggan.

Namun kali ini, perusahaan air milik daerah itu mengambil langkah yang jarang dilakukan. Masyarakat diminta tidak menggunakan air PDAM untuk diminum maupun memasak hingga kondisi kualitas air baku kembali normal.

“Untuk sementara air sebaiknya hanya digunakan untuk mandi, mencuci, dan membilas. Untuk minum maupun memasak, kami sarankan belum digunakan,” kata Manager Produksi Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi, Ahmad Giri Widodo.

Imbauan tersebut muncul setelah kualitas air baku di Kali Bekasi mengalami penurunan drastis yang diduga akibat pencemaran. Air sungai berubah menjadi hitam pekat, berbusa, serta mengeluarkan bau menyengat yang menyulitkan proses pengolahan menjadi air bersih.

Melawan Air Hitam

Di balik pagar instalasi pengolahan air, pekerjaan petugas menjadi jauh lebih berat dibanding hari-hari biasa.

Setiap tetes air yang masuk ke instalasi harus melalui perlakuan ekstra. Proses aerasi ditambah agar kadar oksigen meningkat, pre-klorinasi dilakukan lebih awal untuk menekan bakteri, sementara dosis bahan kimia juga dinaikkan agar lumpur dan partikel pencemar dapat mengendap secara maksimal.

Meski demikian, tantangan belum selesai.

Menurut Giri, kondisi selama sekitar satu pekan terakhir merupakan periode paling sulit sejak pencemaran terjadi.

“Air benar-benar hitam pekat dan baunya sangat kuat. Kondisi itu sangat berat bagi proses pengolahan,” ujarnya.

Produksi Diperlambat Demi Kualitas

Alih-alih memaksakan produksi normal, Perumda Tirta Patriot memilih mengurangi kapasitas pengolahan.

Biasanya instalasi mampu memproduksi sekitar 500 hingga 600 liter air per detik. Kini kapasitas ditahan di kisaran 500 liter per detik agar kualitas air hasil pengolahan tetap memenuhi standar operasional.

Keputusan tersebut memang berisiko mengurangi volume distribusi, namun dinilai lebih aman dibanding memaksakan produksi saat kualitas air baku berada dalam kondisi buruk.

Laboratorium Siaga 24 Jam

Situasi darurat ini membuat ritme kerja laboratorium berubah total.

Operator dan petugas laboratorium berjaga sepanjang hari tanpa jeda. Setiap dua jam dilakukan pemeriksaan kualitas air, baik air baku maupun air hasil pengolahan.

Hasilnya langsung dilaporkan kepada manajemen sebagai dasar menentukan langkah operasional berikutnya.

Pengawasan ketat dilakukan agar setiap perubahan kualitas air dapat segera direspons sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

Hujan Membawa Harapan

Di tengah kondisi yang mengkhawatirkan, hujan yang mengguyur wilayah hulu pada Selasa sore hingga malam membawa sedikit harapan.

Debit sungai meningkat sehingga konsentrasi pencemar di Kali Bekasi mulai berkurang. Air baku perlahan menunjukkan tanda-tanda membaik, meski belum sepenuhnya pulih.

Perumda Tirta Patriot masih terus memantau perkembangan kualitas air sebelum mencabut imbauan kepada masyarakat.

Menunggu Sungai Kembali Bernapas

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa sungai bukan sekadar saluran air, melainkan sumber kehidupan jutaan warga.

Ketika kualitas air baku tercemar, dampaknya tidak hanya dirasakan petugas instalasi pengolahan, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada pasokan air bersih setiap hari.

Selama penyebab pencemaran belum tertangani secara tuntas, ancaman serupa dapat kembali menghantui Kali Bekasi. Kini, warga hanya bisa berharap sungai itu segera kembali “bernapas”, sehingga air yang mengalir dari keran rumah kembali layak digunakan untuk seluruh kebutuhan sehari-hari. (iB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *