KABUPATEN BEKASI – Pemerintah dinilai telah gagal dalam menjamin ketersediaan kedelai di pasaran tanah air. Pasalnya, saat ini para pedagang tahu tempe teriak dan melakukan aksi mogok masal terkait kelangkaan dan naiknya harga kedelai di pasaran.
“Ya ini bukti gagalnya pemerintah dalam menjamin ketersediaan kedelai di pasaran, dari dulu para pedagang tahu dan tempe selalu diributkan dengan masalah ketersediaan kedelain di pasaran,” ujar anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Faizal Hafan Farid pada senin (21/02).
Dengan begitu, politisi PKS itu menilai wajar jika para pedagang tahu tempe melakukan aksi mogok masal untuk produksi. Sebab, mereka selalu dihadapi dengan bahan baku mahal dan langka sehingga tak sesuai dengan produksinya.
“Masalah bahan baku kedelain langka dan harganya mahal ini kan persoalan klasik, dari dulu masalahnya seperti itu, bahan langka dan mahal, sebab kita masih mengandalkan impor. Jika begitu, mogok masalah tukang tahu dan tempe akan terus terjadi kedepannya,” jelasnya.
Faizal menilai, pemerintah sampai saat ini belum memberikan solusi konkrit mengenai ketersediaan bahan baku kedelai dipasaran. Bahkan, untuk mendongkrak produksi petani kedelai lokal pun masih menjadi isapan jempol dan sulit untuk direalisasikan.
“Kalau diurus serius pasti persoalan kedelai ini tak selalu impor, dan para pedagang tidak harus setiap tahunnya melakukan aksi mogok produksi. Tempe dan tahu ini kan sudah menjadi makanan nasional kita, harusnya ketersediaan bahan bakunya dijaga dengan baik,” tambahnya.
Dia juga menilai, langkah para produsen tempe dan tahu melakukan aksi mogok sebagai bentuk upaya menagih janji pemerintah untuk menjaga ketersediaan kedelain di pasaran tanah air.
“Ya lagi-lagi, rakyat menagih janji tentang ketersidaan kedelai yang konon katanya mulai 2016 sudah stabil ternyata masih blangsak,” sindirnya.
Saat ini, kebutuhan bahan baku kedelai masih mengandalkan impor dari Amerika Serikat, dimana sumber produksinya pun mengalami penurunan. Diperparah lagi, dari kementerian perdagangan bahwa konsumsi kedelai juga dibutuhkan untuk para peternak babi di Cina yang saat ini jumlah mencapai 5 miliar.
“Kalau tidak dibenahi secara serius didalam negeri, kelangkaan kedelai akan menjadi persoalan yang bukan hanya sehari dua hari, ini akan cukup lama dan yang dirugikan para produsen tahu tempe di tanah air,” katanya.
Dengan begitu, Komisi II DPRD Provinsi Jabar ini meminta agar ada langkah serius pemerintah membenahi masalah tata niaga kedelai. Terutama mencai alternative sumber kedelai, seperti menggenjot produksi kedelai dalam negeri agar bisa memenuhi kebutuhan kedelai.
“Saat ini kan masih mengandalkan 80 persen kedelai impor dan 20 persennya dari lokal, nah mind set ini harus dibalik, kebutuhan impor kedelai harusnya diangka 20 persen dan ketersedian kedelai lokal 80 persen, ini yang harus diseriuskan oleh pemerintah,” tandasnya. (IB)
Aksi Mogok Pedagang Tempe, Dewan Faizal : Bukti Pemerintah Gagal Menyediakan Ketersediaan Bahan Pokok Kedelai



















