CIKARANG SELATAN – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus membuktikan manfaatnya bagi jutaan masyarakat Indonesia. Tidak hanya meringankan beban biaya pengobatan, program yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini juga menjadi penyelamat di kala situasi darurat. Hal ini dialami langsung oleh Kumala Sari, seorang karyawan swasta yang tinggal di Cikarang.
Beberapa tahun lalu, Mala harus melewati masa yang sangat berat. Ibunya mendadak terkena serangan strok. Tubuh sang ibu tiba-tiba kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Mala yang saat itu sedang bekerja mendapat kabar dari ponakannya di rumah langsung panik. Tanpa berpikir panjang, keluarga segera membawa ibunya ke rumah sakit terdekat. Namun, keterbatasan alat medis membuat pihak rumah sakit tidak bisa memberikan penanganan maksimal. Dokter yang menangani saat itu langsung merujuk ibunya ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Jakarta.
“Jujur saya sangat kaget. Waktu itu ibu tiba-tiba jatuh dan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Kami sekeluarga benar-benar takut. Dokter bilang harus segera dibawa ke RS PON karena butuh penanganan khusus. Kami tidak punya pilihan lain, jadi langsung setuju. Ibu akhirnya dibawa menggunakan ambulans agar lebih cepat mendapatkan tindakan,” tutur Mala saat menceritakan kembali kejadian tersebut.
Perjalanan ke RS PON menjadi momen yang penuh kekhawatiran bagi Mala. Setibanya di rumah sakit rujukan, ibunya langsung ditangani tim medis. Perawatan intensif pun dilakukan. Mala bercerita, selama kurang lebih satu minggu ia setia mendampingi ibunya di rumah sakit. Kondisi itu membuatnya harus mengorbankan banyak hal, termasuk waktu bekerja. Namun, sebagai anak sekaligus tulang punggung keluarga, ia tidak pernah merasa keberatan.
“Yang penting ibu saya mendapatkan perawatan terbaik. Semua itu terasa lebih ringan karena ada JKN yang membantu. Kalau tidak ada JKN, saya tidak tahu bagaimana harus membayar semua biaya rumah sakit,” jelas Mala dengan mata berkaca-kaca.
Menurut Mala, seluruh biaya pengobatan ibunya, mulai dari rawat inap, obat-obatan, hingga tindakan medis, sepenuhnya ditanggung oleh JKN. Ia mengaku sangat lega karena bisa fokus merawat ibunya tanpa terbebani masalah finansial.
“Bayangkan saja, biaya pengobatan strok itu tidak murah. Bisa puluhan juta rupiah hanya untuk beberapa hari perawatan. Kalau ditambah kontrol rutin dan obat khusus, biayanya pasti lebih besar lagi. Untungnya, semua itu sudah dijamin JKN,” ujarnya.
Setelah menjalani perawatan intensif, kondisi sang ibu berangsur membaik. Meski demikian, dokter tetap mewajibkan kontrol berkala selama beberapa bulan. Hingga kini, ibunya masih rutin memanfaatkan layanan kesehatan dengan jaminan JKN. Mala menegaskan, dirinya semakin sadar betapa pentingnya menjaga keaktifan kepesertaan JKN. Ia selalu rutin membayar iuran setiap bulan agar tidak ada hambatan ketika keluarga membutuhkan layanan kesehatan.
“Bagi saya, JKN adalah penyelamat. Program ini tidak hanya memberikan jaminan biaya, tapi juga mempermudah urusan administrasi. Kalau kita sakit, tidak perlu lagi repot memikirkan biaya besar yang harus dikeluarkan,” terangnya.
Lebih lanjut, Mala juga menepis stigma bahwa pelayanan kesehatan berbeda antara kelas 1, 2, dan 3. Ia yang saat ini menjadi peserta kelas 3 merasakan pelayanan yang sama dengan pasien lain.
“Saya pribadi tidak melihat ada perbedaan mencolok. Semua pasien dilayani dengan baik sesuai kebutuhan medisnya. Jadi menurut saya, tidak masalah kita ada di kelas berapa, yang penting kita tetap mendapatkan pelayanan dan iuran dibayar rutin,” tegasnya.
Mala juga mengungkapkan, ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari program gotong royong ini. Menurutnya, konsep saling membantu melalui iuran bulanan adalah wujud solidaritas masyarakat Indonesia.
“JKN ini bentuk gotong royong. Saat kita sehat, iuran yang kita bayarkan bisa membantu orang lain yang sedang sakit. Nanti kalau kita sakit, ada orang lain yang membantu lewat iurannya. Jadi program ini benar-benar saling menolong. Kadang orang baru sadar pentingnya JKN ketika sakit. Padahal, kalau kita tidak rutin membayar, status kepesertaan bisa nonaktif. Akhirnya, ketika butuh layanan, malah terkendala administrasi. Saya selalu mengingatkan teman-teman agar jangan sampai hal itu terjadi,” jelasnya.
Mala berharap semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya jaminan kesehatan. Ia menekankan, sakit bisa datang kapan saja tanpa diduga, sehingga persiapan melalui JKN merupakan langkah terbaik sebelum sakit melanda.
“Sehat itu memang mahal. Tapi lebih mahal lagi kalau kita sakit tanpa persiapan. Dengan JKN, setidaknya kita bisa lebih tenang karena ada jaminan,” pungkasnya. (Red)



















