Perjuangan Panjang Jefri Melawan Sirosis Hati, JKN Jadi Penopang Harapan

CIKARANG SELATAN – Tidak ada seorang pun yang tahu kapan penyakit akan datang menyerang. Hal itu dirasakan langsung oleh seorang pemuda bernama lengkap Jefri Wantorio (31), laki-laki yang sejak dua tahun lalu divonis menderita sirosis hati. Penyakit yang menyerang organ hati secara perlahan itu telah mengubah jalan hidup Jefri, sekaligus mengajarkannya arti kesabaran dan pentingnya jaminan kesehatan.

Saat ditemui di rumahnya, Jefri mengungkapkan rasa tidak percayanya ketika pertama kali mendengar vonis dokter. Gejala awal muncul sekitar dua tahun lalu. Perut Jefri membengkak hingga ukurannya jauh lebih besar dari orang pada umumnya. Di saat bersamaan, varises di kakinya semakin terlihat menonjol dan terasa nyeri.

“Saya sama sekali tidak menduga. Sebelumnya saya merasa sehat-sehat saja, tidak pernah merasakan gejala yang parah, apalagi melakukan hal-hal yang katanya bisa memicu sirosis. Tahu-tahu saya divonis penyakit hati. Rasanya dunia runtuh seketika,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Namun, seiring waktu keluhan itu makin mengganggu. Sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKKN), ia akhirnya memberanikan diri datang ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Dari hasil pemeriksaan awal, dokter memberikan rujukan ke spesialis penyakit dalam untuk analisa lebih mendalam. Di sana, Jefri diminta menjalani pemeriksaan laboratorium dengan pengambilan sampel darah.

Hasil laboratorium menunjukkan ada gangguan serius di fungsi hati. Dokter spesialis pun merujuknya lagi ke subspesialis penyakit dalam. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, barulah Jefri mendapat kepastian bahwa dirinya mengidap sirosis hati. Sejak saat itu, jalan panjang pengobatan pun harus ia tempuh. Jefri mulai menjalani terapi rutin, konsumsi obat-obatan, hingga beberapa kali dirujuk ke RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta untuk tindakan CT Scan serta prosedur penyedotan cairan yang menumpuk di perutnya.

“Saya hanya bisa terdiam. Ada rasa takut, bingung, dan pasrah bercampur jadi satu. Setiap kali kontrol atau tindakan, saya hanya berdoa agar tubuh saya kuat melewati semuanya,” ujarnya.

Puncaknya, beberapa bulan lalu kondisi tubuh Jefri tiba-tiba drop. Tekanan darahnya tidak stabil, tubuhnya melemah, bahkan ia sempat setengah kehilangan kesadaran. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ruang ICU selama beberapa hari.

“Itu momen terberat dalam hidup saya. Rasanya antara hidup dan mati. Alhamdulillah saya masih dikasih kesempatan sama Allah ditambah peralatan di ICU lengkap dan tenaga medis sangat telaten. Perlahan kondisi saya membaik dan akhirnya boleh pulang,” kata Jefri, menahan haru.

Pengalaman itu membuatnya semakin sadar betapa besar biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan penyakit berat. Ia pun bersyukur menjadi peserta aktif JKN. Berkat JKN, Jefri bisa fokus menjalani proses penyembuhan tanpa dihantui kekhawatiran soal biaya.

“Kalau saya bukan peserta JKN, saya tidak tahu dari mana keluarga akan mencari uang untuk biaya sebesar itu. Apalagi perawatan ICU, CT Scan, obat-obatan, semuanya tentu sangat mahal. Saya hanya ingin sembuh, dan JKN benar-benar meringankan beban saya. Dengan adanya program ini, saya bisa berobat rutin tanpa takut biaya membengkak,” jelasnya.

Meski kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih, Jefri tetap berusaha menjalani hari dengan semangat. Ia percaya bahwa kesabaran, doa, dan dukungan keluarga menjadi kunci dalam menghadapi penyakit. Perjuangan Jefri masih panjang, namun optimisme dan rasa syukurnya menjadi energi untuk terus melangkah menghadapi hari-hari mendatang. Lebih jauh, Jefri juga berharap agar Program JKN semakin kuat dan bisa membantu lebih banyak masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang di luar sana yang mengalami penyakit kronis namun terbentur biaya.

“Saya belajar untuk tidak menyerah. Setiap kali tubuh terasa lemah, saya ingatkan diri sendiri bahwa saya masih punya harapan untuk sembuh. Saya sangat bersyukur karena ditolong JKN. Semoga semakin banyak orang lain yang juga bisa terbantu, terutama yang sedang berjuang melawan penyakit berat seperti saya,” ungkapnya penuh harap. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *