TARUMAJAYA – Pada suatu hari libur yang sunyi di Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, suhu tubuh Septi Rahmadella—akrab disapa Della—melonjak tinggi tanpa tanda-tanda akan turun. Baru beberapa minggu bekerja dan biasanya tinggal di kosnya di Cikarang Selatan, hari itu ia memilih pulang ke rumah orang tua. Keputusan sederhana yang ternyata menentukan.
Di ruang keluarga, tubuh Della yang menggigil dan wajah pucat membuat kedua orang tuanya gelisah. “Kondisi saya benar-benar panas tinggi, orang tua langsung panik melihat keadaan saya drop,” kenangnya. Tanpa menunggu lama, mereka membawa Della ke Unit Gawat Darurat RS Tarumajaya, rumah sakit terdekat.
Diagnosis yang Mengubah Hari Libur
Di UGD, dokter segera memeriksa dan memastikan bahwa Della terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Ia harus dirawat. Tanpa banyak pikir, keluarga mengikuti anjuran tersebut. Della—yang terdaftar sebagai peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) Kelas 1 JKN—langsung menerima perawatan sesuai hak kepesertaannya.
“Saya dirawat selama lima hari dan pelayanannya cukup memuaskan,” ujarnya. “Tidak ada biaya tambahan, baik untuk kamar rawat maupun obat-obatan. Semua sudah tersedia dan saya tidak perlu membeli apa pun dari luar.”
Ruangan rawat inapnya mungkin tidak besar, tetapi cukup menenangkan. Ronda perawat yang datang bergantian, dokter yang memantau perkembangan kondisinya, dan suara mesin infus yang sesekali berbunyi menjadi latar kesehariannya selama masa pemulihan.
Ramah yang Menguatkan
Bagi Della, yang paling membekas bukan hanya keringanan biaya, tetapi cara tenaga medis rumah sakit memperlakukannya. “Setiap kali infus saya lepas atau bermasalah, perawat langsung datang dengan cepat dan tanggap. Mereka ramah dan sabar,” tuturnya. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa Jaminan Kesehatan Nasional bukan hanya program administratif, tetapi sarana nyata bagi masyarakat untuk bertahan di saat-saat genting.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada BPJS Kesehatan. “Saya sangat bersyukur JKN ada. Program ini benar-benar membantu saya dalam perawatan dan pengobatan.”
Aplikasi yang Menjadi Penyelamat Kedua
Pengalaman Della juga melibatkan satu hal yang sering luput dari sorotan: aplikasi Mobile JKN. Sebelum mendapatkan kamar rawat inap, Della dan keluarganya dapat memeriksa ketersediaan tempat tidur melalui aplikasi tersebut.
“Saat itu kelas perawatan saya sempat penuh. Untung ada fitur pengecekan ketersediaan tempat tidur, jadi saya bisa memantau sambil menunggu informasi dari rumah sakit,” kisahnya.
Tak berhenti di situ, fitur Skrining Riwayat Kesehatan di aplikasi tersebut dimanfaatkan ayahnya untuk mengetahui risiko penyakit lebih awal. Dalam keluarga Della, teknologi itu bukan lagi fitur tambahan—tetapi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan.
Manfaat yang Mengalir ke Seluruh Keluarga
Pengalaman Della ternyata bukan yang pertama di keluarganya. Adik-adiknya juga sering memanfaatkan JKN untuk berobat. Sang ibu bahkan pernah mengajukan klaim kacamata tanpa perlu mengeluarkan biaya besar. Bagi keluarga Della, JKN bukan sekadar perlindungan, tetapi jaring pengaman yang selalu ada ketika dibutuhkan.
“Program JKN sejauh ini sudah sangat membantu masyarakat,” katanya. Namun ia juga menyampaikan harapan: agar ada notifikasi otomatis bagi peserta yang telah berusia di atas 21 tahun, supaya orang tua tahu kapan harus memperpanjang kepesertaan anak mereka.
Saran yang sederhana, tetapi lahir dari pengalaman nyata seorang peserta setia.
Ketika Program Publik Menyentuh Rumah Tangga
Kisah Della mungkin terdengar seperti pengalaman sehari-hari—sakit, dirawat, sembuh. Namun di balik itu tersimpan gambaran tentang bagaimana program jaminan sosial hadir di tengah dinamika masyarakat urban seperti Bekasi. Di daerah industri, di mana ritme hidup cepat dan tekanan tinggi, kesehatan bisa berubah menjadi krisis dalam hitungan jam.
Bagi Della, BPJS Kesehatan hadir pada waktu yang tepat. Di hari libur panjang, di rumah orang tua, di tengah panas tubuh yang tak kunjung turun—sebuah sistem yang sering dianggap rumit itu justru bekerja sebagaimana mestinya.
Di Tarumajaya, kesembuhan seseorang menjadi bukti bahwa layanan publik, jika dijalankan dengan baik, mampu mengubah cemas menjadi lega. Dan bagi Della, lima hari di rumah sakit itu adalah pengingat bahwa kesehatan adalah anugerah—dan jaminan kesehatan adalah jaring yang menjaga kita agar tidak jatuh terlalu dalam. (red)



















