Lebanon,
Di perbukitan sunyi Jezzine, Lebanon selatan, dentuman itu datang tanpa aba-aba. Warga sudah terbiasa menebak arah suara pesawat tempur, tapi dini hari itu, ledakan beruntun memecah keheningan lebih keras dari biasanya. Asap mengepul dari lembah-lembah di sekitar Zahrani dan al-Aaichiyeh, menyisakan aroma tanah terbakar yang terus menempel hingga matahari terbit.
Sudah setahun gencatan senjata diumumkan, namun kehidupan di wilayah perbatasan ini tak pernah benar-benar tenang. Serangan udara Israel masih datang hampir setiap hari—kadang satu, kadang selusin—menyasar perbukitan yang diklaim sebagai tempat latihan Pasukan Radwan, unit elite Hizbullah. “Ini seperti menunggu badai yang tak pernah benar-benar reda,” kata seorang warga Ansar, yang sudah berpindah rumah tiga kali sejak 2024.
Menurut kantor berita negara Lebanon, serangan terbaru kembali mengarah ke kawasan terpencil: Jabal al-Rafie, lembah di antara al-Zrariyeh dan Ansar, serta wilayah pinggiran sejumlah desa. Israel berdalih mereka menghantam kompleks pelatihan senjata dan lokasi peluncuran roket yang “mengancam warga Israel”.
Namun dari Beirut, jurnalis Al Jazeera, Zeina Khodr, menyebut gencatan senjata yang berlaku setahun terakhir “lebih mirip gencatan sepihak—karena serangan Israel tak pernah benar-benar berhenti.” Ia mencatat pola yang sama: serangan dini hari, sasaran yang menghindari pusat populasi, dan ledakan yang menggema hingga ke desa-desa di kaki perbukitan. “Beberapa hari lalu pun mereka melakukan hal yang sama, di tengah malam,” ujarnya.
Di ruang konferensi berpendingin di Markas PBB, statistik berbicara lebih dingin. Pada November lalu, lembaga dunia itu melaporkan setidaknya 127 warga sipil Lebanon—termasuk anak-anak—tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku pada akhir 2024. Serangkaian serangan tersebut, menurut para pejabat PBB, “berpotensi merupakan kejahatan perang”.
Namun bagi penduduk selatan Lebanon, yang mendengar bom lebih sering daripada suara radio pagi, istilah hukum internasional terasa terlalu jauh. Mereka lebih akrab dengan keputusan-keputusan cepat: apakah harus mengungsi ulang, apakah anak-anak perlu tidur di ruang bawah tanah, apakah ladang zaitun yang mereka rawat turun-temurun masih aman untuk dipanen.
Di satu desa di Jezzine, seorang petani menunjuk batang pohon yang terbelah akibat pecahan bom. “Kami tidak tahu kapan ini berakhir,” katanya lirih. “Yang kami tahu: gencatan senjata tidak pernah benar-benar terasa di sini.”
Serangan terus terjadi. Pernyataan saling tuding berulang. Sementara itu, masyarakat sipil—yang semestinya paling terlindungi saat kata ‘gencatan’ disepakati—justru menjadi pihak yang paling sering terdampak.
Di perbukitan Lebanon selatan, gencatan senjata tampak seperti garis halus di udara: terlihat, tetapi mudah sekali terhapus. (IB)



















