Langkah Pelan Ibu Adi dan Harapan Bernama JKN

EKBIS424 BACA

Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.

Pagi selalu dimulai dengan cara yang sama bagi Rafniadi. Perempuan 63 tahun itu—yang lebih akrab disapa Ibu Adi—bangun sebelum matahari sepenuhnya menampakkan diri. Di dapur rumah sederhananya, ia menyiapkan sarapan, lalu menyapu halaman, sebelum akhirnya melangkah pelan menuju masjid di ujung gang untuk salat berjamaah. Rutinitas itu telah ia jalani bertahun-tahun, nyaris tanpa jeda, sejak pensiun sebagai pegawai negeri sipil.

Namun beberapa bulan lalu, langkah-langkah pagi itu terhenti.

Nyeri tajam di lutut kanan datang perlahan, mula-mula seperti pegal biasa. Rafniadi menganggapnya lumrah—usia memang tak bisa dibohongi. Tapi rasa sakit itu kian menjadi. Pagi hari terasa paling berat: lututnya kaku, sulit digerakkan. Berdiri lama di dapur pun menjadi tantangan. Untuk berjalan ke kamar mandi, ia harus menahan perih dan melangkah dengan sangat hati-hati.

Alih-alih ke dokter, Rafniadi memilih pengobatan alternatif. Ia mengaku malas berurusan dengan rumah sakit, apalagi membayangkan harus bolak-balik kontrol.

“Saya pikir nanti pasti diminta kontrol terus. Tetangga juga menyarankan pengobatan alternatif, jadi saya jalani itu dulu,” katanya sambil tersenyum kecil, mengenang keputusannya kala itu.

Perubahan baru terjadi ketika anaknya pulang dari luar kota. Melihat kondisi sang ibu yang tak kunjung membaik, sang anak bersikeras agar Rafniadi memeriksakan diri ke dokter. Terlebih, kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) milik ibunya selalu aktif—sayang jika tak dimanfaatkan.

“Akhirnya saya menurut. Anak saya bilang, rugi kalau JKN aktif tapi tidak dipakai,” ujar Rafniadi.

Didampingi anaknya, ia mendatangi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempatnya biasa berobat. Dari sana, Rafniadi dirujuk ke rumah sakit untuk bertemu dokter spesialis ortopedi. Diagnosis pun ditegakkan: osteoartritis, penyakit degeneratif pada sendi yang kerap menyerang usia lanjut.

“Dokter menjelaskan pelan-pelan. Saya baru tahu ternyata ini radang sendi. Waktu itu saya sempat sedih, takut tidak bisa beraktivitas lagi,” tuturnya.

Dokter menyarankan fisioterapi rutin dan pemberian obat antiinflamasi. Seluruh rangkaian pengobatan—dari pemeriksaan, obat, hingga terapi—ditanggung penuh oleh Program JKN. Rafniadi tak mengeluarkan biaya sepeser pun.

Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam baginya. Setiap kali kontrol, tenaga medis menyambut dengan ramah, menjelaskan perkembangan kondisinya dengan sabar.

“Saya tidak merasa dibedakan walaupun hanya peserta JKN. Pelayanannya baik sekali,” katanya, suaranya bergetar menahan haru.

Bulan demi bulan berlalu. Perlahan, nyeri di lututnya berkurang. Rafniadi mulai bisa kembali menyapu, memasak, dan menyiram tanaman di halaman rumah. Jalan jauh memang belum sanggup, tapi semangatnya kembali tumbuh.

“Saya merasa lebih bahagia sekarang. Sudah bisa beraktivitas lagi walau pelan,” ujarnya sambil tersenyum lega.

Pihak rumah sakit pun mengakui besarnya peran Program JKN, terutama bagi pasien lanjut usia. Banyak dari mereka yang sebelumnya menunda pengobatan karena takut biaya, kini bisa menjalani perawatan secara rutin tanpa rasa cemas.

Bagi Rafniadi, JKN bukan sekadar kartu berobat. Ia adalah penopang hidup, penyelamat kualitas hari tua.

“Kesehatan itu mahal. Tapi dengan JKN, semuanya terasa lebih ringan. Saya bisa menjalani hari tua dengan tenang,” katanya menutup perbincangan.

Kini, setiap langkah pelannya menuju masjid kembali menjadi pengingat akan rasa syukur. Rafniadi mungkin tak lagi berjalan secepat dulu, tetapi ia melangkah dengan keyakinan baru: bahwa ia tidak sendirian. Di balik kartu kecil bernama JKN, ada jembatan harapan yang membuat hari tua tetap bermartabat. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *