Jababeka Green Market: Wajah Baru Pasar Modern di Kota Mandiri

EKBIS1,188 BACA

CIKARANG PUSAT – Pagi itu, aroma sayuran segar bercampur wangi kopi dari kedai kecil di sudut bangunan baru berfasad hijau. Deretan kios tertata rapi, lantainya bersih mengilat, dan para pedagang sibuk menata dagangan sambil sesekali menyapa pembeli. Di tengah geliat itu, Jababeka Green Market resmi diperkenalkan sebagai wajah baru pasar modern di Kota Jababeka—sebuah transformasi yang mencoba menjawab perubahan zaman tanpa mengorbankan akar utamanya: keterjangkauan.

Di balik lahirnya Green Market, ada kebutuhan mendesak yang ditangkap Jababeka: pola belanja masyarakat telah berubah. Pasar kini bukan sekadar ruang transaksi, melainkan bagian dari ritme keseharian dan interaksi sosial. “Kami ingin menghadirkan ruang yang lebih tertata, ramah lingkungan, dan memberikan pengalaman belanja yang lebih baik,” ujar Ivonne Anggraini, Presiden Direktur PT Graha Buana Cikarang.

Konsepnya sederhana namun menantang: menghadirkan pasar yang bersih, modern, lengkap—namun tetap murah. Membantah anggapan bahwa pasar yang rapi berarti harga tinggi.

Tagline barunya pun lugas: “Belanja Mudah, Murah Harganya!”

Hampir semua kebutuhan harian tersedia di Green Market—sayuran segar, buah, hingga ikan dengan standar kualitas yang diklaim terbaik. Namun Jababeka tak ingin pasar ini berhenti sebagai tempat membeli sembako.

Di sisi bangunan, area kuliner mulai dipadati pengunjung. Anak-anak tertarik mengikuti kegiatan komunitas, sementara para ibu menawar harga cabai sambil sesekali berhenti mencicipi jajanan yang dijual di area bazar. Kehadiran program rutin berbasis komunitas membuat pasar terasa seperti ruang publik baru.

Di tahap soft opening, yang digelar 22 November 2025, keramaian tercipta lewat bazar kuliner yang menghadirkan aroma makanan rumahan khas pedagang UMKM. Seminggu kemudian, 28 November 2025, pasar dibuka resmi dengan sederet tokoh hadir: mulai dari Hyanto Wihadhi (Direktur PT Jababeka Tbk), berbagai pejabat daerah, sampai perwakilan Kadin, HIPMI, PHRI, dan koperasi.

Green Market menaungi 90 lapak dan 57 kios. Namun dukungan Jababeka tak berhenti pada penyediaan tempat. Bersama Koperasi Niaga Madani Makmur, mereka memberi pelatihan digitalisasi bagi pedagang—dari teknik berjualan online hingga strategi pemasaran media sosial.

“Kami ingin pedagang lebih siap menghadapi perubahan perilaku konsumen,” ujar Faizal Hafan Farid, Ketua Koperasi Niaga Madani Makmur. Perubahan ini penting: banyak pedagang tradisional yang kini mulai berani menampilkan produknya di media sosial atau memanfaatkan layanan pesan antar.

Kolaborasi lain datang dari BRI. Melalui layanan transaksi digital dan akses pembiayaan untuk pelaku usaha, bank ini menjadi mitra perbankan strategis di Green Market. “Kami melihat Green Market sebagai ekosistem yang strategis dalam mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi lokal,” ungkap Omang Solehudin, Pimpinan Cabang BRI Cikarang.

Hasilnya, transaksi cashless kini menjadi pemandangan lazim di pasar—sebuah perubahan kultur yang jarang terlihat di pasar tradisional.

Bagi Jababeka, Green Market adalah kepingan penting dari puzzle besar kota mandiri: kawasan yang menyediakan tempat tinggal, bekerja, dan memenuhi kebutuhan harian dalam satu ekosistem terintegrasi. Aktivitas ekonomi yang tercipta dari pedagang dan pengunjung diharapkan menjadi motor pertumbuhan baru.

“Melalui transformasi ini kami ingin meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan,” kata Ivonne menutup seremoni.

Di tengah hiruk-pikuk Cikarang yang terus berkembang, Jababeka Green Market hadir bukan hanya sebagai pasar modern, tetapi juga ruang sosial yang hidup—tempat harga terjangkau bertemu kenyamanan, tempat tradisi bertemu modernitas. Sebuah gambaran kecil tentang bagaimana kota masa depan seharusnya dibangun: dimulai dari kebutuhan paling sederhana masyarakatnya. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *