Kabupaten Bekasi Mengirim Harapan ke Utara Hingga Sumatera

PEMERINTAHAN430 BACA

“Dari gudang logistik di Cikarang hingga pesisir Muaragembong, solidaritas warga Bekasi bergerak serentak. Dalam senyap, bantuan berpuluh ton meluncur menuju Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—sementara karung-karung kosong menjadi harapan baru bagi warga yang dikepung air rob”.

DI HALAMAN Kantor BPBD Kabupaten Bekasi, Jumat pagi 5 Desember 2025, puluhan relawan tampak berlalu-lalang dengan ritme yang nyaris seragam: mengangkat dus, menyusun karung, memeriksa kembali daftar logistik. Sinar matahari belum terlalu terik ketika Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Endin Samsudin, mengangkat tangan memberi aba-aba pelepasan. Satu per satu truk berangkat, meraung pelan menuju Lanud Halim Perdanakusuma. Di sanalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunggu untuk meneruskan misi kemanusiaan ini ke wilayah bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bantuan yang diberangkatkan bukan sembarang kiriman: total 71,9 ton logistik, setara Rp1,65 miliar, hasil pengumpulan lintas elemen—dari perangkat daerah, dunia usaha, hingga warga yang datang membawa sekardus mie atau seikat selimut. Kepala Pelaksana BPBD Bekasi, Muchlis, menyebut gerakan ini sebagai “buah dari kepedulian kolektif”.

“Beras, sarden, selimut, obat-obatan… Semua terkumpul dari niat yang sama: membantu saudara kita di utara,” ujar Muchlis. Senyumnya terbit cepat, tetapi matanya menyimpan lelah. Beberapa hari terakhir, kantor BPBD tak pernah benar-benar sunyi. Telepon berdenting, pesan masuk beruntun, dan truk-truk datang silih berganti menumpahkan muatan empati.

Muchlis tahu betul, di balik angka tonase itu ada kisah-kisah kecil: pegawai kantor yang iuran diam-diam, pedagang sembako yang mengirim satu karung beras tanpa nama, hingga komunitas anak muda yang memutuskan memborong biskuit untuk disumbangkan. “Kami hanya jembatannya,” katanya. “Rakyat Bekasi yang mengalirkan tenaganya.”

Pada 10 Desember, ketika jumlah bantuan telah melampaui target, BPBD resmi menutup posko pengumpulan. Namun pekerjaan belum selesai—mereka masih mengikuti perkembangan distribusi lewat BNPB. “Tugas kami memastikan semua sampai dan dipergunakan,” ujar Muchlis.

Rob Menerjang, Karung Menjadi Benteng

Sementara truk-truk besar melaju ke Halim, sebuah kisah lain berlangsung di sisi utara Bekasi. Di Kecamatan Muaragembong, air laut kembali naik, merambat perlahan lalu menggulung halaman rumah, jalan tanah, dan tambak-tambak warga. Di tempat ini, bantuan tak pergi jauh—justru menghampiri langsung.

Randi Prasetya, PIC program Bekasi Peduli dari Baznas Bekasi, berdiri di gudang kecil Kecamatan Muaragembong sambil menunjuk tumpukan karung kosong yang baru diturunkan. “Lima ribu karung ini akan jadi tanggul darurat,” katanya. Di sampingnya, 200 dus mie instan disusun rapi, siap didistribusikan.

Karung-karung itu, menurut Randi, adalah senjata utama mereka saat ini. Bukan untuk menyimpan beras, melainkan menahan air. Warga akan mengisinya dengan pasir atau tanah lalu menumpuknya di titik-titik rawan jebol. “Setiap karung bisa berarti beberapa jam tambahan sebelum air naik lagi,” ucapnya.

Baznas Tanggap Bencana (BTB) bergerak cepat hari itu. Tim gabungan Baznas Kabupaten Bekasi dan Baznas Jawa Barat turun langsung ke pemukiman yang sebagian jalanannya sudah seperti anak sungai. Beberapa warga terlihat membersihkan lantai rumah, sebagian lain memasak di dapur umum kecil yang mulai beroperasi.

“Yang penting bantuan cepat dan tepat sasaran,” kata Randi. “Banjir rob tidak menunggu, jadi kami juga tidak boleh lambat.”

Baznas memastikan timnya akan bertahan di Muaragembong selama masa tanggap darurat—mengawasi, mencatat kebutuhan tambahan, dan menambah dukungan bila debit air kembali naik. Di beberapa titik, warga menyambut mereka dengan wajah letih, namun penuh syukur.

Jembatan Solidaritas

Dua peristiwa, satu benang merah: solidaritas Bekasi yang bergerak tanpa banyak suara. Di Cikarang, bantuan 71,9 ton dikirim untuk saudara jauh yang ditimpa bencana. Di Muaragembong, ribuan karung menjadi penyangga agar rumah warga tak tenggelam lebih cepat.

Keduanya menunjukkan hal serupa—bahwa dalam setiap bencana, yang paling pertama bangkit adalah rasa saling menjaga.

“Semoga bantuan ini meringankan beban,” ujar Randi. Suaranya pelan, tapi yakin.

Dan dari halaman BPBD, Muchlis menambahkan satu kalimat yang terdengar seperti napas panjang sebuah kota: “Kita bergerak bersama, karena bencana tidak memilih tempat. Hari ini mereka yang membutuhkan, besok mungkin kita.” (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *