“Iran Mengencangkan Gigi Perang”
Peringatan itu disampaikan dengan nada tenang, tapi maknanya mengguncang geopolitik Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran siap berperang jika Amerika Serikat memutuskan untuk “menguji” kekuatan militernya. Pernyataan itu muncul di tengah gelombang protes nasional yang belum mereda dan ancaman terbuka Presiden AS Donald Trump untuk mengambil “opsi-opsi kuat”, termasuk kemungkinan intervensi militer.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Arabic pada Senin, Araghchi tidak menutup pintu dialog. Namun ia juga tak menyembunyikan keyakinan diri Teheran. Iran, kata dia, kini berada dalam kondisi kesiapan militer yang “jauh lebih besar dan luas” dibandingkan saat perang 12 hari melawan Israel tahun lalu—konflik singkat namun berdampak besar yang menyeret Amerika Serikat hingga ikut membombardir fasilitas nuklir Iran.
“Kami siap untuk semua opsi,” ujar Araghchi. Kalimat itu menjadi sinyal bahwa Iran tak lagi hanya mengandalkan diplomasi sebagai tameng utama.
Ancaman itu datang di saat Iran menghadapi tekanan domestik yang berat. Protes yang dipicu kesulitan ekonomi—mulai dari inflasi tinggi hingga kelangkaan kebutuhan pokok—berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik. Pemerintah Iran menanggapi demonstrasi dengan pengerahan aparat keamanan secara besar-besaran. Menurut media pemerintah, lebih dari 100 personel keamanan tewas dalam beberapa hari terakhir. Kelompok oposisi menyebut angka korban jauh lebih tinggi dan mencakup ratusan demonstran sipil, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Di tengah kekacauan itu, Trump angkat suara. Dari atas pesawat kepresidenan Air Force One, ia mengatakan Washington tengah mempertimbangkan “opsi-opsi sangat kuat” terhadap Iran. “Kami sedang mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer sedang mempertimbangkannya,” kata Trump kepada wartawan. Ia juga menyebut rencana pertemuan dengan Teheran untuk membahas program nuklir Iran, sembari memberi peringatan: Amerika bisa saja bertindak sebelum pertemuan itu berlangsung.
Bagi Teheran, pernyataan tersebut bukan sekadar gertakan. Araghchi menilai ada kekuatan lain yang mencoba menyeret Washington ke dalam perang baru. “Ada pihak-pihak yang ingin mendorong Amerika Serikat ke dalam konflik demi melayani kepentingan Israel,” katanya.
Iran juga menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik eskalasi kerusuhan. Araghchi menyebut adanya “unsur-unsur teroris” yang menyusup ke barisan demonstran dan menyerang aparat keamanan maupun warga sipil. Tuduhan serupa telah berulang kali disampaikan pejabat Iran dalam dua pekan terakhir.
Situasi di lapangan makin sulit dipantau setelah pemerintah memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis lalu. Layanan pemantauan jaringan NetBlocks mencatat Iran nyaris sepenuhnya offline selama 96 jam. Pemerintah berjanji koneksi akan dipulihkan secara bertahap dengan koordinasi aparat keamanan—sebuah langkah yang kerap dikritik kelompok hak asasi manusia sebagai upaya membungkam arus informasi.
Di balik retorika keras, jalur komunikasi antara Teheran dan Washington ternyata belum sepenuhnya terputus. Araghchi mengungkapkan bahwa kontak dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff terus berlangsung, baik sebelum maupun sesudah protes meletus. Sejumlah gagasan telah dibahas, meski menurutnya banyak usulan Washington disertai ancaman yang “tidak dapat diterima”.
“Kami siap duduk di meja perundingan nuklir, asalkan tanpa ancaman atau perintah,” kata Araghchi. Ia mempertanyakan apakah Amerika benar-benar siap untuk negosiasi yang adil dan setara.
Nada serupa datang dari parlemen Iran. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa pangkalan militer AS dan Israel akan menjadi “target yang sah” jika Washington mencampuri urusan dalam negeri Iran. Ia menyebut potensi intervensi sebagai “kesalahan perhitungan” yang bisa berujung pada perang regional.
Di Washington, Gedung Putih mengirim sinyal yang ambigu. Juru bicara Karoline Leavitt menuding Iran menyampaikan pesan yang “sangat berbeda” antara pernyataan publik dan komunikasi tertutup. Wall Street Journal melaporkan bahwa Gedung Putih tengah menimbang tawaran Iran untuk pembicaraan militer lanjutan, bahkan ketika opsi serangan tetap berada di atas meja Presiden Trump.
Bayang-bayang konflik terbuka kembali menghantui kawasan. Pengalaman tahun lalu—saat AS ikut membom fasilitas nuklir Iran dalam perang singkat Israel-Iran—masih segar dalam ingatan. Kini, dengan protes domestik yang belum padam dan diplomasi yang berjalan di tepi jurang, Iran dan Amerika Serikat kembali berhadapan dalam permainan berisiko tinggi: antara dialog dan dentuman senjata. (IB)



















