Pernyataan itu singkat, tapi efeknya menjalar ke seluruh Eropa. “Kita memang membutuhkan Greenland. Mutlak. Untuk pertahanan,” ujar Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada The Atlantic, sehari setelah pasukan khusus AS menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro di Caracas, 3 Januari lalu. Kalimat itu bukan sekadar retorika. Bagi banyak pemimpin dan analis Eropa, itu terdengar seperti lonceng peringatan bagi masa depan NATO.
Langkah Washington terhadap Venezuela menjadi preseden yang mengkhawatirkan. Jika Amerika Serikat berani menculik kepala negara berdaulat di Belahan Barat, mengapa tidak menggunakan kekuatan untuk mencaplok Greenland—wilayah otonom Denmark yang secara strategis terletak di Kutub Utara?
“Ini menunjukkan tekad pemerintahan Trump untuk mendominasi Belahan Barat,” kata Anna Wieslander, Direktur Eropa Utara Atlantic Council. Greenland, meski berada di bawah kedaulatan Denmark, secara geografis dan strategis berada dalam lingkup kepentingan pertahanan Amerika. “Intervensi yang berhasil di Venezuela, lalu diikuti ancaman penggunaan kekuatan terhadap Greenland, membuat skenario itu semakin mungkin terjadi,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Greenland memang bukan pulau biasa. Selain menyimpan cadangan mineral langka dan menjadi jalur strategis Arktik, wilayah ini juga penting bagi sistem pertahanan rudal Amerika Serikat. Namun bagi Denmark—dan Eropa—ancaman terhadap Greenland berarti ancaman langsung terhadap prinsip kedaulatan dan aliansi pertahanan kolektif.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen tak menutup-nutupi kekhawatirannya. “Saya pikir presiden Amerika harus dianggap serius ketika dia mengatakan menginginkan Greenland,” katanya kepada penyiar publik Denmark. Ia bahkan menyebut skenario itu sebagai malapetaka bagi NATO. “Jika Amerika menyerang negara anggota NATO lainnya, maka semuanya akan berhenti—termasuk NATO dan keamanan pasca-Perang Dunia II.”
Pernyataan Frederiksen mencerminkan kegelisahan yang kian meluas di Eropa. Pasal 5 NATO—jantung pertahanan kolektif—akan kehilangan maknanya jika Amerika, pendiri dan tulang punggung aliansi, justru menjadi agresor.
“Jika AS menggunakan kekuatan militer untuk mencaplok Greenland, esensi NATO akan runtuh,” kata Wieslander.
Profesor sejarah Universitas Chicago John Mearsheimer melihat skenario itu sebagai kombinasi mematikan. “Gabungkan apa yang terjadi di Ukraina dengan kemungkinan invasi ke Greenland, NATO akan menjadi bayangan dirinya sendiri,” katanya. “Aliansi itu akan hancur.”
Ironisnya, di tengah ancaman tersebut, para pemimpin Eropa memilih diam di depan publik. Pertemuan-pertemuan tingkat tinggi dengan Gedung Putih di Paris pekan ini lebih banyak membahas Ukraina dan upaya mempertahankan keterlibatan Amerika dalam keamanan Eropa.
“Prioritasnya Ukraina dan menjaga Amerika tetap terlibat,” kata Konstantinos Filis, profesor hubungan internasional di American College of Greece. Namun di balik layar, kegelisahan tak terbantahkan.
“Menjilat Trump telah menjadi bagian dari strategi Eropa,” kata Keir Giles dari Chatham House. “Harapannya, sambil meredakan Trump, Eropa diam-diam bersiap untuk perpecahan terakhir dengan Amerika.”
Bagi Giles, risiko moralnya besar. Ia mendorong Eropa untuk menempatkan pencegah militer di Greenland sekarang juga. Prinsipnya sama dengan pengerahan pasukan NATO di Baltik dan Polandia setelah 2017—langkah yang dinilai berhasil mencegah agresi Rusia di wilayah tersebut.
Invasi Amerika ke Greenland, menurut Giles, akan menjadi hadiah strategis bagi Moskow. “Gagasan bahwa kekuatan besar bebas bertindak di halaman belakangnya sendiri sangat sesuai dengan selera Rusia,” ujarnya. “Itu akan memberi legitimasi moral bagi invasi Putin ke Ukraina.”
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menyuarakan kekhawatiran serupa. Dalam sebuah simposium pekan ini, ia memperingatkan tentang dunia tanpa nilai bersama. “Kita berisiko hidup di dunia sarang perampok, di mana negara kuat mengambil apa pun yang mereka inginkan,” katanya.
Respons Eropa mulai terlihat. Prancis sebelumnya mengirim kapal selam nuklir ke perairan dekat Kanada sebagai sinyal keras atas kedaulatan wilayahnya sendiri. Pekan ini, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan akan berkoordinasi dengan Jerman dan Polandia untuk langkah bersama. “Kami ingin bertindak, tapi bersama mitra Eropa,” katanya.
Namun pertanyaan besarnya masih menggantung: sejauh mana Trump akan melangkah? Apakah aneksasi Greenland akan dilakukan melalui tekanan diplomatik, kesepakatan ekonomi, atau kekuatan militer?
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan akan bertemu dengan perwakilan Denmark. Pernyataan itu terdengar menenangkan—namun di Eropa, banyak yang percaya diplomasi hanyalah salah satu dari sekian opsi di meja Gedung Putih.
Di Kutub Utara yang beku, masa depan NATO kini terasa rapuh. Greenland, pulau es yang jauh dari pusat kekuasaan dunia, tiba-tiba menjadi simbol dari pertaruhan terbesar: bertahankah tatanan keamanan pasca-Perang Dunia II, atau runtuh di bawah ambisi satu negara adidaya. (IB)


















