Trump Mulai Melunak dan Yakin Iran Tak Eksekusi Demonstran

POLITIK213 BACA

INTERNASIONAL – Nada Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak terdengar lebih lunak. Setelah berhari-hari melontarkan ancaman keras, ia kini mengklaim telah menerima “jaminan” bahwa pembunuhan terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran telah berhenti. Eksekusi yang sempat dikhawatirkan, kata Trump, juga dibatalkan.

“Kami akan mengamati bagaimana prosesnya,” ujar Trump kepada wartawan pada Rabu, seraya menyebut adanya “pernyataan yang sangat baik” dari Teheran. Klaim itu disampaikannya hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat mulai menarik sebagian personelnya dari pangkalan udara di Qatar—langkah yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik terbuka antara Washington dan Teheran.

Trump mengaku memperoleh informasi tersebut dari “sumber yang sangat penting di pihak lain”. Siapa sumber itu, ia tak menjelaskan. Namun pernyataan ini menandai perubahan sikap setelah sebelumnya ia berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika penindakan terhadap demonstran terus berlanjut.

Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bantahan tegas. Dalam wawancara dengan Fox News, ia mengatakan pemerintah Iran sama sekali tidak memiliki rencana untuk mengeksekusi para demonstran. “Hukuman gantung sama sekali tidak mungkin,” katanya. Araghchi juga menegaskan bahwa situasi di dalam negeri telah “sepenuhnya terkendali” setelah gelombang protes yang meletus sejak 8 Januari.

Bagi sebagian pengamat, pernyataan Trump lebih mencerminkan kebutuhan politik ketimbang realitas di lapangan. Sina Toossi, peneliti senior non-residen di Center for International Policy, menyebut klaim tersebut sebagai upaya “menyelamatkan muka”.

“Sulit untuk menganggap serius apa yang dikatakan Trump,” ujar Toossi kepada Al Jazeera. “Namun kita tahu ia enggan terjebak dalam konflik militer besar yang tak terbatas. Dengan Iran, risikonya terlalu nyata.”

Menurut Toossi, Trump kerap memainkan dua kartu sekaligus: membuka ruang negosiasi sambil terus menggertak dengan ancaman militer. Pernyataan terbarunya, kata dia, memberi jalan keluar sementara tanpa sepenuhnya menutup kemungkinan serangan.

Analisis serupa disampaikan Barbara Slavin dari Stimson Center di Washington, DC. Ia menilai Trump masih bimbang. Di satu sisi, presiden AS itu menginginkan kemenangan cepat yang bisa dipamerkan ke publik domestik. Di sisi lain, ia enggan terseret ke konflik berkepanjangan di Timur Tengah—wilayah yang selama ini justru ingin ia hindari.

“Jika ada tindakan, kemungkinan besar terbatas,” kata Slavin. “Cukup untuk mengklaim bahwa ia telah ‘membantu’ rakyat Iran, tanpa memicu eskalasi yang lebih luas.”

Namun ketegangan belum benar-benar mereda. Seorang pejabat senior Iran sebelumnya memperingatkan bahwa Teheran akan menyerang pangkalan-pangkalan AS di negara tetangga jika Washington melancarkan serangan. Inggris dan Amerika Serikat pun menarik sebagian personel militernya dari Qatar. Sejumlah negara lain mengeluarkan imbauan perjalanan dan peringatan keamanan bagi warganya di kawasan.

Dari pihak militer Iran, nada yang terdengar justru keras. Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Pakpour, menyatakan bahwa pasukannya berada pada “tingkat kesiapan tertinggi”. Ia menuduh Israel dan Amerika Serikat berada di balik protes yang mengguncang Iran, serta menyebut Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “pembunuh pemuda Iran”.

Di dalam negeri Iran sendiri, bayang-bayang perang terasa nyata. “Orang-orang hidup dalam kecemasan,” kata Tohid Asadi, koresponden Al Jazeera di Teheran. “Secara psikologis, mereka masih dibayangi kemungkinan eskalasi baru, terutama setelah konflik 12 hari dengan AS dan Israel pada Juni lalu.”

Di tengah klaim jaminan, bantahan diplomatik, dan ancaman militer yang berseliweran, satu hal tetap menggantung: apakah ketenangan ini benar-benar awal dari de-eskalasi, atau sekadar jeda singkat sebelum ketegangan kembali memuncak. Seperti biasa dalam relasi AS–Iran, kata-kata keras dan janji samar kerap berjalan beriringan—meninggalkan dunia dalam posisi menunggu. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *