BANTARGEBANG, KOTA BEKASI-Dini hari belum sepenuhnya usai ketika jeritan pecah di Gang Bengkong, Bantargebang, Kota Bekasi. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 WIB, Sabtu, 10 Januari 2026. Muhammad Wikananda, 19 tahun, terkulai bersimbah darah. Sebilah celurit telah mengoyak tangan kanannya.
Malam itu Wikananda baru saja beranjak pulang. Ia berboncengan dengan seorang temannya, menyusuri jalan sempit yang lengang. Suasana sepi justru menjadi celah. Dua orang pelaku berboncengan mendekat. Tanpa banyak kata, mereka meminta telepon genggam milik Wikananda.
Penolakan itu berujung petaka.
“Anak saya tidak mau menyerahkan HP-nya. Pelaku langsung membacok,” ujar Imron Rosadi, ayah korban, dengan suara bergetar saat ditemui Sabtu siang. Senjata tajam jenis celurit menghantam tangan kanan Wikananda. Serangan cepat, brutal, dan tanpa ampun.
Usai melukai korbannya, para pelaku melarikan diri ke dalam gelap. Wikananda, menahan sakit yang luar biasa, segera dilarikan ke RSUD Bantargebang. Darah masih mengalir deras dari lengannya ketika ia tiba di ruang gawat darurat.
“Lukanya serius. Anak saya harus menjalani operasi,” kata Imron. Sabtu itu juga, tim medis bersiap melakukan tindakan bedah untuk menyelamatkan fungsi tangan kanan putra sulungnya.
Bagi Imron, luka di tubuh anaknya bukan sekadar sayatan fisik. Ia adalah potret ketakutan yang kian sering menghantui warga kota penyangga ibu kota. Jalanan sunyi di dini hari berubah menjadi ruang rawan, tempat nyawa dan masa depan bisa terenggut dalam hitungan detik.
Imron berharap aparat kepolisian segera bertindak. “Saya berharap pelakunya bisa segera ditangkap. Jangan sampai ada korban berikutnya,” ujarnya.
Kasus pembegalan yang menimpa Muhammad Wikananda menambah daftar panjang kejahatan jalanan di wilayah Bekasi. Di balik angka dan laporan polisi, ada seorang remaja yang kini terbaring di rumah sakit, menunggu operasi, sembari menyimpan trauma yang mungkin tak mudah sembuh—bahkan setelah lukanya dijahit kembali. (IB)



















