Perumda Tirta Bhagasasi Hadir Berbagi untuk Warga Terdampak Banjir di Kabupaten Bekasi

EKBIS184 BACA

Hujan turun tanpa jeda. Sungai meluap, jalan berubah menjadi aliran air, dan rumah-rumah warga di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi kembali diuji ketahanannya. Di Cibitung dan Sukatani, genangan tak hanya membawa lumpur, tetapi juga kekhawatiran: soal kesehatan, kebersihan, dan kebutuhan harian yang mendesak.

Di tengah situasi itu, Perumda Tirta Bhagasasi datang bukan sekadar sebagai penyedia layanan air, melainkan sebagai sesama warga yang turut merasakan dampak banjir. Perusahaan daerah ini menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak—mulai dari alat kebersihan, perlengkapan kesehatan, makanan instan, makanan ringan, hingga air minum.

Bantuan diserahkan langsung kepada warga. Tidak ada jarak formal, tidak ada sekat birokrasi. Yang ada adalah percakapan singkat, senyum lelah, dan rasa lega karena tidak sendirian menghadapi musibah. Bagi warga yang harus membersihkan rumah dari sisa lumpur dan genangan, bantuan sederhana itu menjadi penopang awal untuk bangkit.

Cibitung dan Sukatani termasuk wilayah yang mengalami genangan cukup signifikan. Aktivitas warga sempat lumpuh, sementara kebutuhan sehari-hari terus berjalan. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran bantuan—sekecil apa pun—memiliki arti besar.

Bagi Perumda Tirta Bhagasasi, kegiatan ini bukan seremoni. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus cerminan nilai kebersamaan. Air memang bisa menjadi sumber bencana, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya solidaritas.

“Di saat seperti ini, kita belajar bahwa kepedulian sekecil apa pun memiliki arti besar. Perumda Tirta Bhagasasi berkomitmen untuk selalu hadir bersama masyarakat, terutama saat menghadapi kondisi darurat,” ujar manajemen Perumda Tirta Bhagasasi.

Di tengah banjir yang datang hampir setiap musim hujan, semangat saling menguatkan menjadi energi utama warga Bekasi. Perumda Tirta Bhagasasi pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan seluruh pihak yang bahu-membahu membantu selama masa sulit ini.

Harapannya sederhana: air surut, aktivitas kembali normal, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah bencana tetap mengalir—bahkan setelah banjir berlalu. (IB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *