Spanyol,
Pernyataan dari Gedung Putih pada Rabu siang itu terdengar tegas. Juru bicara kepresidenan Amerika Serikat, Karoline Leavitt, mengatakan Spanyol kini bersedia bekerja sama dengan militer Amerika dalam perang melawan Iran. Menurutnya, Madrid telah “mendengar pesan presiden dengan jelas” setelah ancaman keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Namun hanya beberapa jam kemudian, pemerintah Spanyol merespons dengan nada yang sama tegasnya—membantah sepenuhnya klaim tersebut.
Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menyatakan bahwa tidak ada perubahan apa pun dalam sikap Madrid. Dalam wawancara radio Hora25, ia menegaskan bahwa pemerintahnya tidak pernah menyetujui kerja sama militer seperti yang diklaim Washington.
“Tidak ada satu pun koma yang berubah,” kata Albares. “Saya sama sekali tidak tahu apa yang mereka maksud.”
Ketegangan Diplomatik
Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Washington dilaporkan berupaya menggalang dukungan sekutu NATO, termasuk Spanyol, untuk menggunakan fasilitas militer di wilayah Eropa.
Namun Madrid sejak awal mengambil sikap hati-hati. Pemerintah Spanyol menolak memberikan akses pangkalan militer untuk operasi militer yang berpotensi memperluas perang di Timur Tengah.
Sikap tersebut memicu kemarahan Trump. Sehari sebelumnya, presiden Amerika itu secara terbuka mengecam Spanyol dan bahkan mengancam akan memutus hubungan perdagangan.
“Kita akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kita tidak ingin berhubungan dengan Spanyol,” ujar Trump dalam pernyataan yang segera memicu kegelisahan di kalangan diplomat Eropa.
Madrid Mengingat Masa Lalu
Alih-alih melunak, pemerintah Spanyol justru merespons dengan mengingatkan pengalaman pahit masa lalu. Perdana Menteri Pedro Sánchez menyinggung perang Irak 2003, ketika sejumlah negara Barat ikut serta dalam invasi ke Timur Tengah yang kemudian menuai kritik luas.
Dalam pernyataan di platform X, Sánchez menulis bahwa dunia telah melalui situasi serupa sebelumnya—ketika “pemimpin yang tidak bertanggung jawab menyeret kita ke dalam perang ilegal di Timur Tengah yang hanya membawa ketidakamanan dan penderitaan.”
Pesan itu sekaligus menegaskan garis kebijakan luar negeri pemerintahnya: menolak perang dan menolak gagasan bahwa masalah global dapat diselesaikan dengan kekuatan militer.
Ujian Hubungan Trans-Atlantik
Perselisihan ini menjadi ujian terbaru bagi hubungan trans-Atlantik antara Washington dan sekutunya di Eropa. Spanyol adalah anggota penting NATO dan selama puluhan tahun menjadi tuan rumah sejumlah fasilitas militer Amerika.
Namun bagi Madrid, keterlibatan langsung dalam konflik baru di Timur Tengah bukanlah pilihan.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa, di tengah tekanan politik dan ancaman ekonomi dari Washington, pemerintah Spanyol memilih mempertahankan garis diplomatiknya: menolak eskalasi perang dan tetap berpegang pada hukum internasional.
Di tengah ketegangan yang meningkat, satu hal menjadi jelas—perdebatan antara Madrid dan Washington bukan sekadar soal pangkalan militer. Ini juga menyangkut bagaimana dunia merespons konflik global di era ketidakpastian baru. (iB)



















