TAMBUN SELATAN – Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah yang identik dengan puasa dan ibadah ritual lainnya. Lebih dari itu, bulan suci ini juga menjadi momentum penting dalam membentuk karakter dan integritas generasi muda sejak usia dini.
Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi, H. Nuryasin, Lc, menilai Ramadhan memiliki peran besar sebagai “madrasah karakter” bagi anak-anak. Melalui berbagai nilai yang terkandung di dalamnya, Ramadhan dapat menjadi sarana pendidikan moral, spiritual, dan sosial yang sangat efektif.
Menurutnya, puasa bukan hanya melatih seseorang menahan lapar dan dahaga. Bagi anak-anak, Ramadhan adalah proses belajar memahami nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kesabaran. Nilai-nilai ini merupakan fondasi penting dalam membentuk pribadi yang berintegritas.

“Puasa mengajarkan anak untuk jujur kepada Allah. Walaupun tidak ada orang yang melihat apakah ia benar-benar berpuasa atau tidak, tetapi ia tetap menjalaninya. Dari sinilah nilai integritas mulai terbentuk sejak dini,” ujar Nuryasin.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter selama Ramadhan juga bisa dilakukan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana di rumah. Orang tua dapat melibatkan anak dalam berbagai aktivitas ibadah seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, hingga berbagi makanan saat berbuka puasa.
Kegiatan tersebut bukan hanya memperkenalkan praktik ibadah, tetapi juga melatih anak memahami arti tanggung jawab serta kepedulian terhadap orang lain.
“Melibatkan anak dalam kegiatan Ramadhan membuat mereka belajar bahwa ibadah tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial,” katanya.
Di sisi lain, Ramadhan juga menjadi waktu yang tepat bagi orang tua untuk menanamkan pendidikan akhlak kepada anak. Nilai-nilai seperti sopan santun, menghormati guru, dan menghargai ilmu pengetahuan dapat diajarkan secara lebih intens selama bulan suci ini.
Nuryasin menekankan bahwa akhlak merupakan fondasi utama dalam pendidikan. Tanpa akhlak yang baik, ilmu yang dimiliki seseorang tidak akan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat.
Selain itu, Ramadhan juga dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap ilmu pengetahuan. Orang tua dapat membiasakan anak membaca Al-Qur’an setiap hari, mendengarkan kisah para nabi dan sahabat, serta mengikuti kajian-kajian Ramadhan yang edukatif.
Kebiasaan tersebut diyakini mampu menumbuhkan semangat belajar yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga bernilai ibadah.
Lebih jauh, melalui praktik zakat, sedekah, dan berbagi kepada sesama, anak-anak juga belajar memahami arti empati dan kepedulian sosial. Mereka diajarkan bahwa pendidikan tidak hanya soal menjadi pintar, tetapi juga memiliki hati yang peduli terhadap orang lain.
“Anak yang sejak kecil dibiasakan dengan nilai-nilai Ramadhan akan tumbuh menjadi pribadi yang jujur, amanah, peduli terhadap masyarakat, serta memiliki akhlak yang baik,” ungkapnya.
Ia berharap momentum Ramadhan dapat dimanfaatkan oleh keluarga sebagai ruang pendidikan karakter yang kuat bagi anak-anak. Dengan begitu, generasi yang lahir tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan moral yang kuat.
“Ramadhan sejatinya bukan hanya ibadah ritual. Ia adalah madrasah kehidupan yang membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan berintegritas,” pungkas Nuryasin. (iB)



















