Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana persiapan mudik mulai terasa di berbagai sudut Kabupaten Bekasi. Warga berbondong-bondong merencanakan perjalanan pulang kampung, meninggalkan rumah dalam keadaan kosong selama beberapa hari, bahkan pekan. Di tengah euforia tersebut, potensi risiko kebakaran justru kerap luput dari perhatian.
Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi mengingatkan, momen mudik bukan hanya soal perjalanan yang aman, tetapi juga memastikan hunian tetap terlindungi. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi, Adeng Hudaya, menekankan pentingnya langkah-langkah sederhana namun krusial sebelum meninggalkan rumah.
“Tidak terasa Lebaran sebentar lagi. Kami ingin menghimbau kepada seluruh warga Kabupaten Bekasi agar pada saat mudik, rumah tetap aman dan terhindar dari bahaya kebakaran,” ujarnya, Rabu (18/03/2024).
Menurutnya, banyak kasus kebakaran justru dipicu oleh kelalaian kecil yang sebenarnya bisa dihindari. Salah satu sumber risiko terbesar berasal dari instalasi listrik. Peralatan elektronik yang tetap terhubung dengan aliran listrik berpotensi menimbulkan korsleting.
Karena itu, ia mengimbau warga untuk mencabut seluruh steker perangkat elektronik seperti televisi, kulkas, dispenser, hingga peralatan rumah tangga lainnya sebelum berangkat mudik.
“Cabut semua steker aset dari colokan listrik untuk menghindari terjadinya korsleting,” katanya.
Selain listrik, dapur menjadi titik rawan lain yang perlu diperhatikan. Kompor yang tidak dimatikan secara sempurna atau kebocoran gas dapat memicu kebakaran dalam waktu singkat.
Adeng mengingatkan agar masyarakat memastikan kompor benar-benar dalam kondisi mati. Bahkan, sebagai langkah pengamanan tambahan, regulator pada tabung gas sebaiknya dilepas.
“Periksa kembali kompor gas atau minyak apakah sudah padam. Untuk lebih aman, lepaskan regulator dari tabung gas,” jelasnya.
Tak hanya ancaman api, risiko lain seperti kebocoran air juga dapat menimbulkan kerugian. Keran yang dibiarkan terbuka atau bak penampungan yang penuh bisa menyebabkan genangan hingga merusak bagian rumah.
Karena itu, warga diminta mematikan seluruh keran air serta mengosongkan bak penampungan sebelum berangkat.
“Matikan semua keran air dan kosongkan bak penampungan air,” tuturnya.
Lebih dari sekadar pengamanan fisik rumah, koordinasi dengan lingkungan sekitar juga dinilai penting. Melaporkan rencana mudik kepada pengurus RT/RW atau petugas keamanan setempat dapat membantu pengawasan selama rumah ditinggalkan.
Warga juga dianjurkan meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi dalam kondisi darurat.
“Laporkan perjalanan mudik Anda kepada pengurus RT/RW atau pihak keamanan setempat, serta tinggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi,” katanya.
Di sisi lain, kesiapsiagaan juga perlu diimbangi dengan respons cepat apabila terjadi keadaan darurat. Dinas Pemadam Kebakaran meminta masyarakat untuk segera menghubungi pos damkar terdekat jika terjadi kebakaran, agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Pada akhirnya, mudik yang aman tidak hanya ditentukan oleh kelancaran perjalanan, tetapi juga ketenangan saat meninggalkan rumah. Persiapan sederhana yang dilakukan sebelum berangkat dapat menjadi kunci utama dalam mencegah kerugian yang lebih besar.
“Rumah aman, perjalanan mudik nyaman,” pungkas Adeng.
Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Lebaran, kesadaran kolektif terhadap keselamatan menjadi hal yang tak bisa ditawar. Sebab, di balik tradisi pulang kampung yang hangat, ada tanggung jawab untuk memastikan rumah tetap berdiri aman saat ditinggalkan. (iB)



















