Momentum Haji dan Idul Adha: Perjuangan, Pengorbanan dan Mengalahkan Ego

POLITIK99 BACA

Oleh : Ustd. Nuryasin, Lc*

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ibadah haji dan Idul Adha bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi madrasah besar untuk membersihkan hati manusia dari kesombongan, ego pribadi, dan sikap otoriter terhadap orang lain.

Di dalamnya terdapat pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, kepatuhan kepada Allah, serta penghormatan terhadap sesama manusia.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan luar biasa ketika beliau rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi taat kepada Allah.

Begitu pula Nabi Ismail ‘alaihissalam menunjukkan kepatuhan, kesabaran, dan ketundukan kepada perintah Rabb-nya.

Dari kisah ini kita belajar bahwa seorang mukmin sejati harus mampu mengalahkan hawa nafsu, ego, dan kesombongan diri.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah).” (QS. Ash-Shaffat: 103)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan atas diri sendiri dan hawa nafsu.

Dalam ibadah haji, seluruh manusia memakai pakaian ihram yang sederhana tanpa membedakan jabatan, kekayaan, suku, maupun kedudukan. Semua berdiri sama sejajar di hadapan Allah.

Ini adalah pelajaran besar agar manusia meninggalkan kesombongan dan sikap merasa paling tinggi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Sikap otoriter, meremehkan orang lain, memaksakan kehendak, atau merasa diri paling benar sering lahir dari kesombongan hati.

Padahal Islam mengajarkan musyawarah, kasih sayang, dan kerendahan hati.

Allah berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr: 88)

Momentum Idul Adha juga mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga menyembelih sifat buruk dalam diri: egoisme, amarah, keserakahan, dan kezaliman terhadap sesama.

Allah Ta’ala berfirman:

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Kaidah dan Hikmah Fikih

Di antara kaidah penting yang relevan adalah:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Kesombongan, egoisme, dan sikap otoriter adalah kerusakan sosial yang harus dihilangkan terlebih dahulu agar tercipta persaudaraan dan keberkahan dalam masyarakat.

Kaidah lainnya:

من تواضع لله رفعه الله

“Barangsiapa rendah hati karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.”

Semakin seseorang tunduk kepada Allah, semakin lembut akhlaknya kepada manusia.

Semoga momentum haji dan Idul Adha menjadikan kita pribadi yang lebih ikhlas, rendah hati, kuat dalam perjuangan, serta mampu mengalahkan ego dan kesombongan demi meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin.

*Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi dari Fraksi PKS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *