Setelah Pemilu 2024 Apakah Akan Banyak Caleg Yang Masuk Rumah Sakit Jiwa?

POLITIK1,543 BACA

“Dosen Spesialis Medikal Bedah Prima Trisna Aji memberikan gagasan supaya Caleg wajib

mengikuti Pembekalan Mental dan Agama Sebelum Mendaftar”

 

DUNIA dengan segala dinamika selalu menjadi topik pembahasan setiap harinya.

Dunia oh dunia, mungkin itu yang banyak dibahas oleh banyak Guru dan Ustadz ketika

mengisi materi baik pembelajaran dikelas ataupun ketika dimajelis. Dunia memang terkenal

sangat hijau, kenapa dibilang sangat hijau? Dikarenakan dunia itu sangat nikmat dan sangat

menggiurkan bagi para manusia yang mengejar kenikmatan dunia.

 

Kenikmatan dunia memanglah sangat menggiurkan, ketika sudah mendapatkan

kenikmatan dunia maka apapun yang ingin dicapai manusia didunia bisa diwujudkan dengan

kekuasaannya yang telah dicapai. Kenikmatan dunia terdiri dari 3 kategori yaitu : Harta,

Tahta dan Wanita. Salah satu langkah untuk mendapatkan “tahta” adalah dengan menjadi

pejabat publik, salah satunya adalah menjadi Anggota Calon legislatif DPRD, DPD, DPR

Pusat, Bupati, Walikota, Gubernur hingga Presiden melalui Pemilu.

 

Sebentar lagi pada tanggal 14 Februari 2024 dinegara Indonesia akan menggelar

pesta rakyat yang sangat besar yaitu Pemilihan Umum (Pemilu). Pada momentum tersebut

para wakil rakyat akan berlomba – lomba berkampanye mempromosikan dirinya sendiri

supaya bisa terpilih menjadi Calon Legislatif (Caleg) ataupun calon pemimpin negara dan

pemimpin daerah.

 

Pada Pemilihan 2024 akan memilih Calon Legislatif DPRD, DPD, DPR Pusat dan

Presiden serta Wakil Presiden. Rakyat akan ditawarkan dengan janji – janji manis para Caleg

yang berkeinginan supaya dapat dipilih dalam pesta rakyat lima tahunan tersebut.

 

Variasi janji kampanye para Caleg beraneka ragam, dari janji yang luar biasa

mengiming – imingkan kesejahteraan, uang, hidup mapan hingga janji yang biasa saja. Tak

khayal banyak para Caleg yang mengobral janji mereka walaupun pada akhirnya mereka

tidak dapat menepatinya. Didalam pikiran mereka focus utama yang terpenting terpilih

dahulu, masalah janji ditepati atau tidak adalah urusan belakangan.

 

Padahal, bagi para Caleg akan mengalami celaka yang luar biasa apabila mereka

menyepelekan janji, karena janji tersebut termasuk hutang yang akan ditagih dihari akhirat

pembalasan nantinya. Terkadang mereka tidak sadar bahwa jabatan yang dikejar mereka

hanyalah sementara dan bahkan sudah ditentukan dalam tenggat waktu hanya 5 tahun.

Untuk bisa mendapatkan jabatan tersebut, mayoritas banyak yang menggunakan

segala cara dari bujuk rayu, visi misi, uang hingga fasilitas hidup. Bahkan diantaranya akan

dijanjikan untuk mendapatkan jabatan.

 

Bukan rahasia umum lagi, bahwa banyak Caleg yang menggelontorkan dana besar

untuk bisa menjadi Anggota legislatif ataupun pemimpin daerah. Bahkan didalam tayangan

podcast ditelevisi dari narasumber pelaku langsung yang wajahnya disamarkan

menyampaikan bahwa untuk dapat menjadi Caleg DPR Pusat untuk bisa terpilih minimal

harus menggelontorkan dana sebesar 40 milyar. Uang tersebut digunakan untuk kampanye,

dana partai, logistik, acara panggung hiburan, kader dan untuk memberikan uang pelicin

bagi warga pemilihnya. Bahkan uang 40 Milyar tersebut belum jaminan bisa otomatis

terpilih apabila saingan mereka juga menggelontorkan uang yang lebih diatas 40 Milyar.

 

Jadi tidak heran apabila setelah Pemilu selesai, banyak ditemukan anggota legislatif

atau Caleg yang stres hingga depresi bahkan banyak yang mengalami gangguan jiwa

dikarenakan kalah dalam pemilihan umum. Ekspektasi mereka yang berlebihan membuat

mereka tidak bisa mengendalikan koping sistem individu mereka dengan baik sehingga

mereka menjadi stres, depresi, frustasi bahkan hingga menjurus ke perilaku bunuh diri.

Uang yang mereka gelontorkan bermilyar – milyar melayang begitu saja, bahkan setelah

Pemilu banyak Caleg yang gagal yang stres karena banyak hutang dan mengakhiri hidupnya

dengan bunuh diri.

 

Dari data Kemenkes di Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit Jiwa bahwa data

Caleg yang masuk di Rumah Sakit Jiwa pada Pemilu 2019 terjadi lonjakan peningkatan

signifikan daripada Pemilu 2014 sebelumnya. Karena pada Pemilu 2024 saat ini jumlag Caleg

yang ikut bertarung adalah sebesar 245.106 caleg. Dimana Caleg yang terpilih hanya sebesar

10%, otomatis 90% Caleg harus menerima kenyataan untuk tidak bisa masuk dalam

Legislatif.

 

Apabila Pemilu kita masih banyak yang memakai Politik uang maka sistem demokrasi

dinegara Indonesia tidak akan berjalan dengan baik. Bahkan apabila Calon legislatif terpilih

menggunakan politik uang, maka hal pertama yang mereka pikirkan adalah bagaimana

caranya supaya bisa “Balik Modal” atas uang yang telah mereka keluarkan.

 

Solusinya adalah untuk mencegah Politik curang yaitu perlu dilakukan perbaikan

sistem pemilu dan sistem demokrasi dengan baik. Yang paling penting memperbaiki

landasan utama sejak dini untuk menanamkan kesadaran kepada masyarakat dan warga

supaya menolak politik uang serta memilih Caleg yang amanah, jujur dan takut akhirat.

 

Selain itu perlu dibentuk badan khusus dari KPU yang berperan untuk memberikan

sosialisasi kepada masyarat. Badan khusus tersebut juga bertugas memberikan pembekalan

pada Caleg yang akan maju dalam Pemilihan Umum baik dari segi psikologis maupun dari

segi agama supaya menjadi pemimpin yang amanah, jujur dan takut akan akhirat.

 

Pemimpin yang amanah, jujur dan takut akan akhirat tidak akan pernah berani

sedikitpun untuk berbuat curang ataupun bermain politik uang. Karena mereka sadar bahwa

apa yang mereka kerjakan akan dihisab diakhirat kelak atas apa yang telah mereka perbuat.

Bahwa apabila kezaliman terus dilakukan, maka akan bisa mengundang murka dari Allah

SWT kepada pelakunya baik didunia dan diakhirat.

 

Bahkan didunia nyata banyak contoh Para anggota DPR yang korupsi kemudian

ketika meninggalnya banyak keganjilan. Seperti ketika pemakaman tiba – tiba terjadi hujan

badai yang membuat mayat tersebut sulit dikuburkan. Tentunya hal ini harus membuat kita

menjadi lebih waspada dan hati – hati dalam melangkah karena apa yang kita perbuat

didunia akan dihisab diakhirat serta dimintai pertanggungjawaban meskipun hanya sebesar

biji Zaroh.

 

Solusinya bagi yang mereka yang sudah terlanjur melakukan hal yang fasik dan

curang, tentunya hal pertama yang harus dilakukan adalah segera melakukan taubatan

nasuha kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dengan taubatan

 

Nasuha yang benar maka akan membuat hidup kita menjadi lebih tenang serta berkah

dalam melangkah hidup ke depan.

 

Mengutip dari teori Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta Elinda Rizkasari bahwa

penyebab utama terjadinya gangguan jiwa pada Caleg yang gagal adalah mereka sudah

terjangkit penyakit mental dimana psikis mereka terganggu dalam hal beradaptasi terhadap

stimulus dari luar yang berlebihan.

 

Dimana penyebab dari penyakit mental ini akan muncul secara tiba – tiba seperti

dalam teori Neo Freud dimana masalah ini memang tidak bisa diprediksi sebelumnya yang

penyebab utamanya adalah daya tahan diri yang rapuh.

 

Bahwa masalah yang terjadi pada Caleg yang gagal salah satunya adalah terjadinya

konsep diri yang bermasalah. Masalah Konsep diri terjadi dikarenakan terjadi gejolak antara

cita-cita dan harapan pada manusia tersebut.

 

Masalah Konsep diri bisa terjadi dikarenakan terjadi gejolak antara cita – cita dan

harapan manusia yang tidak sesuai dengan ekspektasi realita kenyataan yang terjadi.

Terutama pada manusia yang memiliki daya tahan yang rapuh, manusia tersebut tidak akan

mempunyai koping adaptasi yang baik ketika masalah yang besar muncul pada dirinya

secara tiba – tiba.

 

Dalam teori yang dikemukan oleh Elinda Rizkasari, stres pasca pemilu tahunan

terutama pada Pemilu 2024 besok tidak selalu bisa diprediksi kisaran jumlah penderitanya.

Hal ini dikarenakan seperti fenomena gunung es, dimana dari luar permukaan atasnya

nampak baik – baik saja, tetapi dibawahnya sudah siap untuk meledak. Apabila dianalogikan

pada sebuah penyakit maka seperti bencana alam yang yang bisa datang tiba – tiba serta

dalam skala yang besar.

 

Dosen Spesialis Medikal Bedah Prima Trisna Aji juga mengemukakan dalam Teorinya

tentang Pemilu 2024 bahwa untuk mengantisipasi terjadinya fenomena kasus Caleg stres

dalam skala besar maka sebelum persiapan Pemilu para Calon Legislatif diwajibkan harus

mengikuti pembekalan mental baik dari segi pembekalan psikologis juga pembekalan rohani

dalam bidang agama.

 

Ketika seseorang mempunyai landasan agama yang kuat maka mereka akan

menghindari praktek curang serta memiliki psikologis yang baik dalam menghadapi masalah.

Sehingga dengan persiapan mental yang baik maka akan mengurangi resiko ledakan Caleg

stres yang masuk ke Rumah Sakit Jiwa ketika gagal dalam pemilu tahun 2024.

 

Penulis : Prima Trisna Aji

Dosen Spesialis Medikal Bedah

Lincoln College University Malaysia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *