BOJONGMANGU – Kabut pagi masih menggantung di kawasan Bumi Perkemahan Karang Kitri, Desa Karangmulya, Kecamatan Bojongmangu, ketika puluhan tenda berdiri rapi. Di sela embun yang belum sepenuhnya menghilang, terdengar lantang yel-yel kepramukaan yang memecah keheningan. Bagi ratusan peserta didik pendidikan nonformal, akhir pekan kali ini bukan sekadar berkemah, melainkan ruang belajar yang menghadirkan pengalaman hidup.
Melalui kegiatan Pengembangan Minat, Bakat, dan Prestasi Pendidikan Nonformal/Kesetaraan (Gema Tunas) Tahun 2026, yang berlangsung pada Sabtu-Minggu (18–19/7/2026), Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi menghadirkan wadah bagi warga belajar PKBM dan SKB untuk mengasah karakter, kepemimpinan, serta semangat kebersamaan.
Di tengah derasnya arus digital yang kerap menjauhkan generasi muda dari interaksi sosial, Gema Tunas justru mengajak peserta kembali menyentuh nilai-nilai dasar kehidupan. Mereka belajar bekerja sama, memimpin regu, menyelesaikan tantangan, hingga membangun rasa percaya diri melalui aktivitas kepramukaan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Imam Faturochman, mengatakan Gema Tunas menjadi bukti bahwa pendidikan nonformal memiliki ruang yang sama untuk melahirkan generasi berprestasi dan berkarakter.
“Kegiatan Gema Tunas ini menjadi sarana bagi warga belajar untuk mengembangkan potensi diri, melatih kemandirian, serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Melalui kegiatan ini kami ingin membentuk generasi yang tangguh, disiplin, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” ujarnya.
Menurut Imam, kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Bagi peserta didik di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) maupun Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), kepramukaan menjadi media pembelajaran yang melengkapi proses pendidikan di luar jalur formal.
Ia menegaskan bahwa Gerakan Pramuka bukan sekadar aktivitas di alam terbuka, melainkan proses pembentukan karakter yang mengajarkan disiplin, tanggung jawab, keberanian, kerja sama, dan kepemimpinan.
“Gerakan Pramuka tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membangun karakter. Nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, keberanian, kerja sama, dan kepemimpinan menjadi bekal penting bagi warga belajar dalam menghadapi tantangan kehidupan,” katanya.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir, keterampilan, serta sikap positif. Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti di lokasi perkemahan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun saat mereka berkontribusi di lingkungan masyarakat.
“Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh semangat sehingga ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan nonformal di Kabupaten Bekasi,” tutur Imam.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, Gema Tunas menjadi simbol bahwa pendidikan tidak mengenal sekat jalur formal maupun nonformal. Kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi terbuka bagi setiap warga belajar yang memiliki semangat untuk berkembang.
Melalui kegiatan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi kembali menegaskan komitmennya membangun sumber daya manusia yang unggul, inklusif, dan berkarakter. Dari bumi perkemahan di Karang Kitri, semangat itu tumbuh—membuktikan bahwa pendidikan terbaik bukan hanya lahir di dalam ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman, kebersamaan, dan keberanian menghadapi tantangan kehidupan. (iB)
























